Itulah benang merah wawancara khusus Padang Ekspres dengan Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Sumbar yang baru, Endang Kurnia Saputra, di ruang kerjanya, Senin (13/2/2023). Endang, akrab disapa Adang, didampingi oleh Deputy KPw BI Sumbar, Christoveny.
Menurutnya, untuk mengatasi inflasi dan penurunan pertumbuhan ekonomi di Sumbar ada beberapa cara. Pertama, mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru, kedua meningkatkan kembali investor. Investor yang potensial untuk industri pengolahan.
“Nah, sumber pertumbuhan ekonomi baru yang dipandang BI tidak hight cost dan tidak juga menumbuhkan investasi yang cukup besar dari pemerintah dan sudah sangat potensial adalah pariwisata,” sebut pria kelahiran Bandung, Jawa Barat ini.
Namun menurutnya, untuk menyamakan karakter Sumbar menjadi tempat tujuan wisata seperti Yogyakarta dan Bali, membutuhkan waktu 5-10 tahun membangunnya. Karakter masyarakatnya sangat mendukung industri pariwisata.
“Misalnya, Yogyakarta tidak punya pabrik yang besar, tapi ia punya pariwisata yang sangat mendukung untuk pembangunan ekonominya. Biasanya provinsi yang maju itu jasanya lebih mendominasi. Maka dari itu kita BI bersama Pemprov Sumbar mendukung penuh program Visit Beautiful West Sumatera, dan Minang Kreatif Festival,” papar Alumni University of Technology Sydney ini.
Endang menyebutkan, sektor pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di Sumbar, plus sektor perdagangan yang bisa lebih dikembangkan lagi. Yakni dengan langsung mengekspor produk-produk Sumbar ke daerah tujuan.
“Selain pariwisata, potensi industri halal di Sumbar sangatlah besar,” sebutnya.
Ia memuji kuliner ranah Minang sangat beragam dan semuanya enak dan lezat. Tak heran, selain potensi alam, ragam kuliner Sumbar adalah daya tarik bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Sumbar. Tinggal lagi mengemas dan menggencarkan promosi.
Selain itu, menurutnya, infrastruktur juga sangat penting. Kehadiran jalan tol di Sumbar bisa mempercepat jarak dan waktu tempuh dalam mendukung pariwisata di Sumbar.
“Tanpa tol pariwisata pun akan tetap bertumbuh, namun tentu tidak secepat dan selaju pariwisata provinsi lainnya. Meskipun begitu, tentu kita terus mendukung pembangunan tol ini dapat selesai secepat mungkin,” katanya. Kemudian penerbangan dari dan ke Sumbar juga harus lancar dan tarif terjangkau.
Ia juga menyampaikan, yang bisa dilakukan untuk mengembangkan pariwisata adalah dengan membangun insan pariwista, lalu hotel-hotel harus terstandardisasi, dan pelayanan ditingkatkan. Tidak kalah penting yaitu 3A (atraksi, aksesibilitas, dan amenitas).
Endang juga memuji pembangunan sumber daya manusia (SDM) Sumbar. Ia menilai Sumbar lebih maju dibandingkan daerah lainnya dalam membangun manusianya.
“Jujur saya sampaikan apresiasi, karena pembangunan manusia di Sumbar jauh lebih maju dibanding provinsi lainnya di Sumatera. Yang mungkin harus berjuang lagi dalam memikirkan bagaimana menurunkan angka kemiskinan, meningkatkan indeks angka pembangunan manusia,” ujarnya.
Adang juga menyampaikan dampak dari konflik global terhadap perekonomian nasional, khususnya di Sumbar. Pertama, terkendala impor pupuk dari Ukraina ke Indonesia, akhirnya juga berdampak terhadap Sumbar. Kedua, inflasi terjadi di mana-mana, seperti di Sumbar tahun 2022 lalu karena faktor energi yang menyebabkan BBM naik.
“Namun saya lihat Sumbar masih mampu bertahan. Tapi memang, yang membuat ekonomi di Sumbar berat itu adalah adanya krisis geopolitik, inflasi nasional, dan harga enegi yang meningkat. Sehingga membuat Sumbar lebih ditantang lagi dalam pembangunan ekonomi,” katanya.
Kemudian menghadapi Ramadhan dan Lebaran dimana rentan terjadi inflasi BI Sumbar sudah menyiapkan sejumlah strategi agar stok pangan aman. “Insya Allah soal ketersediaan bahan pangan Sumbar sudah surplus, jadi tidak perlu khawatir. Kedua, keterjangkauan, jadi harga ini yang kita upayakan dapat ditekan melalui operasi pasar murah. Dan pasar murah ini akan kita dukung penyelenggaraannya di beragam titik di Sumbar, terutama Kota Padang dan Bukittinggi,” ujarnya.
Pihaknya juga akan memberi subsidi dengan mengeluarkan voucher-voucher yang akan dikerjasamakan baik dengan Baznas maupun Pemprov. Lalu, yang ketiga yaitu bagaimana agar distribusi bisa tetap lancar.
Terakhir, bagaimana seluruh stakeholders, termasuk media mampu membentuk opini yang positif terhadap masyarakat. Sehingga komunikasi yang ada kaitannya dengan pengendalian inflasi ini dapat digotong bersama-sama.
“Inflasi itu akan selalu ada karena adanya ekspektasi akan kenaikan harga, jadi harga naik duluan. Mungkin sebetulnya suplainya ada, tapi bagaimana peran kita semua untuk mengendalikannya melalui gerakan komsumsi sewajarnya oleh seluruh stakeholders terkait,” pungkasnya.
Perjalanan Karir
Endang Kurnia Saputra memulai karir dengan diangkat menjadi karyawan BI pada tahun 1994.Dia menjabat sebagai pengawas bank dari tahun 1994. Kemudian diangkat menjadi peneliti Bank sejak tahun 2000.
Dia juga terlibat sebagai Anggota Tim Merger Bank Mandiri (1996-1997). Kemudian ikut mengambil bagian dalam mlikuidasi bank-bank bermasalah tahun 1997-1998. Selanjutnya diangkat menjadi Kepala Divisin International Banking (2009). Kemudian lanjut masuk dalam Tim Penyelesaian Bank Century (2009). Dia juga sempat menjadi Kepala Divisi Kerjasama ASEAN (2013).
Endang pertama kali diangkat menjadi kepala wilyah yaitu sebagai Kepala BI Bengkulu (2016). Berlanjut memjadi Kepala Grup BI Sulsel (2019). Lalu jadi Deputi Ka BI Jakarta (2021), kemudian jadi Kepala BI Sumbar (Sejak akhir Januari 2023). Selain dalam negeri, dia juga memiliki pengalaman bertugas di luar negeri.
Dia ditugaskan di Financial Institution and Infrastructure Group, Bank for International Settlement (BIS), Basel, Swiss pada tahun 2005. Endang merupakan lulusan luar negeri yaitu S2 Master of Business Administration (MBA), University of Technology, Sydney (2000). Sementata untuk S1 - Sarjana Ekonomi Universitas dia merupakan lulusan Padjadjaran, Bandung (1990).(cr4) Editor : Admin Padek