Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Industrial Tourism: Tur Pabrik Semen Indarung I Tempo Dulu

Ego Arianto • Rabu, 21 Februari 2024 | 12:27 WIB

Kawasan Pabrik Semen Indarung I (sumber: Dok. PT. Semen Padang)
Kawasan Pabrik Semen Indarung I (sumber: Dok. PT. Semen Padang)
Oleh: Ego AriantoAnalis Sumber Sejarah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang.

SEJAK ditetapkan menjadi cagar budaya, jumlah kunjungan ke kawasan pabrik Semen Padang di Indarung I kian meningkat. Dalam setahun terakhir, ratusan pengunjung–atau mungkin ribuansilih berganti menginjakkan kakinya di situs pabrik semen tertua di Asia Tenggara itu.

Tujuan kunjungannya beragam. Mahasiswa arsitektur dan sejarah, misalnya, menjadikan pabrik itu sebagai objek penelitian. Pemerintah pusat dan daerah belakangan sering ke Indarung untuk menentukan batas-batas keruangan (zonasi) kawasan.

Sementara itu, wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, sengaja datang menikmati “tur pabrik” untuk mengenal lebih dekat tentang sejarah pabrik yang berdiri sejak 1910 tersebut.

Untuk menyambut kunjungan itu, PT. Semen Padang–pemilik dan pengelola kawasan pabrik semen Indarung I–menyiapkan pemandu yang andal.

Industrial Tourism

Tur pabrik, lebih-lebih pabrik itu menjadi industrial heritage, adalah salah satu bentuk wisata industri (industrial tourism) yang sangat populer dalam beberapa tahun terakhir.

Wisata ini umumnya berupa kunjungan langsung ke situs-situs dan objek yang terkait dengan proses produksi dan inovasi suatu industri. Wisata industri memberi kesempatan bagi pengunjung untuk mengetahui sejarah, budaya, dan teknologi industri yang digunakan, serta dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.

Untuk menjaga keberadaan situs dan keselamatan pengunjung, maka jumlah pengunjung tur pabrik biasanya dibatasi. Demikian pula halnya kunjungan baru boleh dilakukan setelah mendapat izin.

Ketiga hal ini–izin, jumlah, dan keselamatan–juga menjadi pertimbangan Carl Christophus Lau, pendiri PT. Semen Padang, saat menerima kunjungan dari sejumlah wisatawan sekitar satu abad yang lalu, tak berapa lama setelah pabrik resmi beroperasi.

Tur Pabrik Semen Indarung I Tempo Dulu

 

Kunjungan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda A.C. Dirk de Graeff ke Pabrik Semen Indarung pada 1 Februari 1927 (sumber: Stadsarchief Amsterdam)
Kunjungan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda A.C. Dirk de Graeff ke Pabrik Semen Indarung pada 1 Februari 1927 (sumber: Stadsarchief Amsterdam)

Kabar pendirian pabrik semen di Indarung, pada 1910, mengejutkan banyak orang. Pasalnya, pabrik yang dinamai “Nederlandsch-Indische Portland Cement Maatschappij” itu menjadi pabrik semen pertama di Hindia-Belanda. Kabar ini lantas membuat publik penasaranseperti apa rupa pabrik yang dibangun itu.

Tak sembarang orang bisa mendapatkan akses ke pabrik semen Indarung.

Dalam Van Stockum’s Travellers’ Handbook for The Dutch East Indies (1930) dan Handboek voor Toerisme in Nederlandsch-Indie (1938), disebut bahwa untuk berkunjung ke pabrik semen Indarung, harus seizin firma Gebroeder Veth. Firma ini memiliki andil besar dalam pengelolaan pabrik, yaitu sebagai dewan komisaris dan direksi, serta perwakilan perusahaan di Padang.

M. Joustra, seorang pengurus Bataksch Instituut, adalah salah satu dari sedikit ilmuwan cum wisatawan yang beruntung bisa berkunjung ke pabrik semen Indarung.

C.C. Lau bahkan memandu langsung tur pabrik bagi Joustra dan rekan-rekannya.

Joustra mengunjungi Indarung pada 1913. Ia mengisahkan pengalaman dan kesannya selama berada di sana dalam bukunya Van Medan naar Padang en Terug”, yang diterbitkan pada 1915. Ketika ia pindah bekerja untuk Minangkabau Instituut, Joustra juga menceritakan pabrik semen Indarung dalam bukunyaMinangkabau: Overzicht van Land, Geschiedenis en Volk (1923).

Dalam buku Van Medan naar Padang en Terug”, Joustra menyatakan kekagumannya pada pabrik semen Indarung. Ia bersama Middendorp–seorang pejabat pemerintah–dan para penumpang wanita dari Duymaer van Twist mengunjungi pabrik itu menggunakan mobil.

C.C. Lau menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah.

“Setelah menunjukkan berbagai foto dan gambar di kantornya, Tuan Lau mengajak kami berkeliling pabrik dan menjelaskan keseluruhan bisnisnya,” tulis Joustra.

Joustra mengatakansebagaimana yang ia dengar dari Laubahan baku untuk pembuatan semen ditemukan dalam jumlah yang hampir tak terbatas di lereng bukit. Jaraknya relatif dekat dari pabrik. Bahan baku itu kemudian diangkut ke pabrik menggunakan lori (kereta gantung).

Tenaga listrik yang digunakan untuk menghidupkan pabrik ini [berasal dari pembangkit listrik Rasak Bungo] dengan memanfaatkan air sungai [Lubuk Paraku].

“Air [menuju pembangkit listrik] mengalir dari ketinggian 70 meter,” ungkap Joustra.

Sementara itu, di sisi belakang pabrik, tempat di mana tong-tong berisi semen siap angkut, terlihat sebuah lori datang dari Emmahaven (Teluk Bayur). Lori itu mengangkut batu bara yang digunakan sebagai bahan bakar pabrik.

Setelah menurunkan muatan batu bara, lori ini kemudian memuat dua vaten semen [1 vat: 170 kg] dan kembali menuju Emmahaven,” tambah Joustra.

Setelah berkeliling pabrik, C.C. Lau membawa Joustra dan rekan-rekannya kembali ke kantor. Di sini, Joustra diajak melihat laboratorium, tempat pengujian kualitas semen yang sudah diolah. Pada saat itu, produksi semen sudah mencapai 500 ton per hari. Tapi, tak berapa lama lagi segera meningkat hingga 1000 ton per hari saat instalasi [kiln] baru terpasang.

Kami meninggalkan Indarung dengan penuh kekaguman akan kemampuan teknologi masa kini, serta atas apa yang dicapai oleh Tuan Lau. Meski menghadapi berbagai kesulitan, pabrik ini dapat mencapai hasil yang luar biasa,” tulis Joustra, mengakhiri kisah perjalanannya di Indarung.

Delapan tahun kemudian, pada 1923, terbit karya terbaru Joustra berjudul “Minangkabau: Overzicht van Land, Geschiedenis en Volk.” Joustra lagi-lagi menyebut pabrik semen Indarung sebagai tempat yang patut dikunjungi.

Ia juga memuji pendekatan C.C. Lau [wafat: 1919] terhadap masyarakat sekitar pabrik.

“Tuan Lau sangat mengenal masyarakat di sana. Ia dengan bijak memperhatikan penggunaan tanah ulayat. Ketika ia pernah merekrut beberapa pekerja dari Cina, para penghulu mengingatkannya, dan memintanya untuk mempekerjakan penduduk sekitar [Indarung]; dan Lau melakukannya. Hasilnya, pabrik tersebut membawa kemakmuran bagi masyarakat setempat,” tulis Joustra.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#wisata #Industrial Tourism #Indarung 1 #Ego Arianto #Tur Pabrik #cagar budaya #semen padang