Analis Sumber Sejarah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang.
Keberadaan badan promosi pariwisata berdampak signifikan bagi pengembangan pariwisata daerah. Melalui upaya promosi pariwisata yang dilakukannya, jumlah kunjungan wisatawan akan meningkat, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan daerah.
Lembaga ini juga dipandang mampu untuk meningkatkan citra kepariwisataan daerah, sehingga suatu daerah akan dikenal berkat ‘branding’ wisata yang dilekatkan padanya.
“Visit Beautiful West Sumatra: The Land of Culture”, misalnya. Pelabelan itu digaungkan dengan tujuan untuk membentuk kesan wisatawan tentang citra pariwisata Sumatera Barat.
Hari ini setiap daerah telah membentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD). Ada BPPD Sumatera Barat, BPPD Kota Padang, BPPD Kota Bukittinggi, dan lain-lain.
Meski merupakan lembaga swasta yang bersifat mandiri, BPPD menjadi mitra kerja pemerintah daerah dan sekaligus pelaku utama promosi pariwisata daerah.
Dalam perspektif sejarah, keberadaan badan promosi pariwisata bukanlah hal baru. Lembaga serupa ini telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, yaitu sejak awal abad ke-20.
Uniknya, lembaga itu memiliki sifat, kedudukan, tugas, dan fungsi yang hampir mirip dengan BPPD hari ini. Lembaga yang dimaksud adalah Vereeniging Touristenbelang op Sumatra (Perhimpunan untuk Kepentingan Wisatawan di Sumatra), biasa disingkat “VTS”.
Upaya promosi pariwisata yang dilakukan VTS, rupanya berhasil menarik perhatian wisatawan untuk mengunjungi Sumatera Barat (dulu disebut Sumatra’s Westkust/Pantai Barat Sumatra), sebuah negeri yang dulu dikenal sebagai ‘het Land van Tourist.’
Tulisan ini mencoba mengulas upaya promosi pariwisata yang dilakukan oleh VTS pada dekade 1910-an hingga 1930-an.
‘Vereeniging Touristenbelang op Sumatra’ didirikan di Padang pada 1916. Lembaga swasta ini diakui keberadaannya melalui Gouvernementsbesluit (Keputusan Pemerintah) No. 67 tanggal 27 April 1916. Kantornya berlokasi di Bentengweg No. 6 (kini dinamai Jl. Bagindo Aziz Chan), namun kantor itu sudah tak berbekas.
Tujuan dibentuknya VTS adalah untuk mempromosikan dan memfasilitasi kunjungan wisatawan ke Sumatera Barat dan daerah sekitarnya.
Terdapat sejumlah alasan mengapa VTS berupaya mempromosikan pariwisata Sumatera Barat. Pertama, daya tarik pariwisata di kawasan ini masih belum begitu dikenal, terutama oleh orang Belanda yang tinggal di Hindia-Belanda (Indonesia).
Oleh sebab itu, pada tahun-tahun awal pendirian VTS, upaya promosi pariwisata ditujukan pada orang Belanda di Hindia-Belanda.
Memasuki awal 1920-an, VTS mulai menyasar wisatawan mancanegara dengan mengirimkan bahan promosi pariwisata ke biro-biro perjalanan di Belanda, Inggris, dan Amerika.
Kedua, pariwisata di Sumatera Barat kurang mendapat perhatian dari pemerintah.
Vereeniging Touristenverkeer (VTV/Perhimpunan Pariwisata)–lembaga pariwisata modern pertama yang dibentuk Pemerintah Hindia-Belanda di Batavia–dalam praktiknya lebih mementingkan pariwisata di Pulau Jawa.
Hal ini menyebabkan pariwisata di Sumatera Barat relatif ketinggalan dibandingkan tempat-tempat lain di Jawa.
Untuk mengenalkan berbagai destinasi pariwisata di Sumatera Barat, VTS melakukan serangkaian langkah promosi. Promosi pariwisata ini dilakukan baik secara langsung maupun tak langsung.
Dalam promosi secara langsung, VTS memanfaatkan bahan-bahan promosi cetak seperti peta perjalanan, brosur/selebaran, dan foto.
VTS juga membuka layanan informasi pariwisata di beberapa tempat di Padang seperti di kantor VTS, Emmahaven (Teluk Bayur), gedung Societeit De Eendracht, kantor Nederlandsche Handel Maatschappij, dan Padangsche Spaarbank.
Promosi secara langsung juga dilakukan dalam suatu pameran di Padangpanjang.
Sementara itu, promosi secara tidak langsung dilakukan di antaranya dengan memasang iklan promosi pariwisata di surat kabar, menjalin kerja sama dengan VTV dan perusahaan-perusahaan terkait kepariwisataan, seperti perusahaan pelayaran dan kereta api, serta dengan biro perjalanan di luar negeri.
Sebagai langkah awal, VTS memulai upaya promosi dengan menerbitkan brosur panduan perjalanan berjudul ‘Bezoekt de Padangsche Bovenlanden, den schoonsten diamant in den gordel van smaragd’–yang berarti: Kunjungi Dataran Tinggi Padang, permata terindah di sabuk zamrud.
Brosur ini mulai dicetak pada 1917 dan terus dipakai pada tahun-tahun berikutnya.
‘Bezoekt de Padangsche Bovelanden’ memuat peta Dataran Tinggi Padang dan foto-foto sejumlah destinasi pariwisata menarik di pedalaman Sumatera Barat.
Beberapa di antaranya adalah Ngarai Sianok, Lembah Anai, Lembah Harau, Danau Maninjau, Danau Singkarak, dan Gunung Marapi.
Untuk mencapai tempat-tempat tersebut, brosur ini dilengkapi dengan daftar perusahaan penyewaan mobil yang memungkinkan wisatawan menggunakan jasa transportasi wisata.
Perusahaan penyewaan mobil itu dimiliki antara lain oleh Barkey, Chevalier, Ibrahim bin Kasim, Kong Tjiang Loeng, Lim Liang Ie, dan Seng Hap (Padang), Si Moenek dan Lie Tje Siang (Fort de Kock/Bukittinggi).
Tak kalah penting, brosur ini juga memuat daftar hotel dan pesanggrahan, sehingga wisatawan dapat menginap selama beberapa hari.
Hotel-hotel itu antara lain Oranje Hotel dan West Sumatra Hotel (Padang), Hotel Merapi (Padang Panjang), Hotel Renard dan Hotel Spoorzicht (Fort de Kock).
Sementara itu, pesanggrahan tersedia di kota-kota atau daerah seperti Alahan Panjang, Solok, Singkarak, Fort van der Capellen (Batusangkar), Buo, Tabek Patah, dan Matur.
Pada 1923, perhimpunan VTS menerbitkan panduan lainnya, yaitu ‘wandelkaart’ (peta trekking) untuk wilayah Fort de Kock.
Panduan ini dibutuhkan oleh wisatawan karena di wilayah tersebut ada titik-titik tertentu yang sulit ditempuh, berbahaya, atau belum ada transportasi pada jalur tersebut.
Selain menerbitkan brosur panduan perjalanan dan peta trekking, bentuk promosi secara langsung lainnya dilakukan dengan membuka/menyewa kantor untuk mempromosikan dan memberikan informasi wisata.
Kantor VTS yang beralamat di Bentengweg (Jl. Bagindo Aziz Chan) menjadi pusat informasi pertama.
Pada 1919, VTS membuka layanan informasi serupa di gedung Societeit “De Eendracht” Padang, namun sayangnya hanya menarik sedikit wisatawan.
Karena Padang merupakan ‘pintu gerbang’ pariwisata Sumatera Barat–yaitu tempat masuk dan keluarnya wisatawan ke dan dari Sumatera Barat–maka, pada 1922, VTS dan otoritas pelabuhan mengubah salah satu stan mobil di Emmahaven menjadi kantor informasi pariwisata juga.
Di sana disediakan peta destinasi, brosur panduan perjalanan, serta staf layanan yang siap menyambut wisatawan dan mempromosikan pariwisata Sumatera Barat.
Kantor Nederlandsche Handel Maatschaapij (NHM) dan Padangsche Spaarbank di Handelskade (kini Jl. Batang Arau) juga turut menyediakan layanan informasi pariwisata, terutama sejak 1928 hingga 1933.
Hal ini bisa terjadi karena adanya hubungan kerja sama antara VTS dengan kedua perusahaan tersebut.
Selain itu, jajaran pengurus VTS pada dasarnya berasal dari perwakilan beragam perusahaan ternama di Kota Padang, termasuk NHM dan Padangsche Spaarbank.
Selain promosi secara langsung, seperti yang diulas sebelumnya, VTS juga melakukan promosi pariwisata secara tidak langsung.
Upaya itu dilakukan antara lain dengan mengirimkan artikel dan memasang iklan pariwisata Sumatera Barat di berbagai surat kabar di Sumatra dan Jawa.
VTS juga mengirimkan brosur panduan perjalanan ke lembaga VTV di Batavia dan agen KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij/Perusahaan Pelayaran Kerajaan Belanda).
Sejumlah foto dan bahan promosi pariwisata juga dikirimkan ke biro-biro perjalanan di Belanda, Inggris, dan Amerika.
Upaya ini rupanya menuai hasil luar biasa. Thomas Cook & Son, salah satu biro perjalanan di Inggris, mampu mengorganisir sekitar 300 wisatawan Amerika ke Hindia-Belanda, khususnya Sumatera Barat.
Pada Maret 1924, ratusan wisatawan itu tiba di Emmahaven dengan Kapal Cunard “Samaria”. Kapal ini mulai meninggalkan New York pada Januari 1924, dan singgah di beberapa pelabuhan di Laut Tengah, Port Said (Mesir), dan Britsch-Indie (India) sebelum melanjutkan pelayaran ke Hindia-Belanda.
Di Sumatera Barat, para wisatawan mengunjungi sebuah pameran di Meisjes Normaalschool (Sekolah Guru Perempuan), Padangpanjang.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, VTS menjadi lembaga yang mengurusi dan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan demi kelancaran perjalanan ini.
Dari Emmahaven ke Padangpanjang, dan sebaliknya, wisatawan memanfatkan layanan dari Kereta Api Sumatera (Sumatra Staatsspoor).
Mereka didampingi oleh beberapa orang Padang sebagai pemandu. Selama perjalanan, seperti yang bisa diduga, para pemandu melaksanakan tugasnya: memandu wisatawan, memberikan informasi, dan mempromosikan keunikan dan keindahan destinasi pariwisata di Sumatera Barat.(*)
Editor : Heri Sugiarto