"Kami ingin menyaksikan langsung spot destinasi yang disukai turis asing, yang ingin menikmati wisata alam di Kota Padang. Tahura Bung Hatta adalah salah satu dari banyak spot di Kota Padang yang memiliki potensi tersebut," ujar Dirut InJourney Dony Oskaria.
Ketertarikan InJourney untuk terlibat dalam pengembangan Tahura Bung Hatta tidak lepas dari peran aktif Pemerintah Kota Padang, khususnya Wakil Wali Kota Padang Ekos Albar.
"Banyak turis mancanegara yang mencari destinasi wisata alam yang asri dan alami. Tahura Bung Hatta memiliki semua itu, dengan suara binatang yang sudah jarang terdengar di negara mereka," ujar H Ekos Albar beberapa waktu lalu.
Yudis, perwakilan dari InJourney, yang meninjau langsung Tahura Bung Hatta disambut oleh Asisten II Didi Ariyado, Kadis Pariwisata Yudi Indra Sani, dan UPTD Tahura Edi.
"Potensi Tahura Bung Hatta sangat luar biasa. Alamnya masih orisinil dan bagus. Namun, perlu pengembangan dan perawatan yang standar destinasi kelas dunia," ujar Yudis.
Dony Oskaria, setelah melihat video kondisi Tahura Bung Hatta saat ini, mengatakan bahwa untuk menjadi destinasi kelas dunia, diperlukan kolaborasi dan sinergitas, termasuk pendanaan untuk rehabilitasi destinasi tersebut.
"Spot destinasi saat ini yang dipentingkan adalah aksesibilitas. Tahura Bung Hatta memiliki akses yang mudah, terletak di pinggir Jalinsum ruas Padang-Solok. Selain itu, alam dan hutannya masih orisinil. Yang perlu ditingkatkan adalah perawatan dan pembangunan areal publik di kawasan tersebut," jelas Dony Oskaria.
Ego Arianto, Analis Sumber Sejarah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang dalam tulisannya di Padek menjelaskan bahwa kebun raya ini diresmikan pada 1955 oleh Mohammad Hatta sewaktu masih menjabat wakil presiden.
Tiga dekade kemudian, nama Mohammad Hatta diabadikan sebagai nama tahura pertama di Pulau Sumatera.
Kebun Raya Setia Mulya adalah cikal bakal Tahura Dr. Mohammad Hatta. Berdirinya kebun raya ini bermula dari kunjungan Jawatan Penyelidikan Alam ke Sumatera Barat pada 1952. Kunjungan ini rupanya menginspirasi Gubernur Sumatera Tengah saat itu, Ruslan Muljoharjo, untuk mendirikan kebun raya di Sumatera.
Direktur Kebun Raya Bogor, Kusnoto Setyodiwiryo, menyambut baik upaya ini. Ia tidak hanya mendukung pembangunan kebun raya di Sumatera Barat, tetapi juga menjadikannya sebagai pusat penelitian dan konservasi tumbuhan, seperti yang ada di Bogor.
Upaya pendirian kebun raya akhirnya menjadi nyata tiga tahun kemudian. Pada Januari 1955, Wakil Presiden Mohammad Hatta meresmikan berdirinya Kebun Raya Setia Mulya.
Kebun raya yang berlokasi di dekat jalan raya Padang–Solok ini merupakan cabang dari Kebun Raya Bogor. Kebun Raya Setia Mulya memiliki luas sekitar 240 ha. Pada 1961, MIPI (Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia) mengalihkan pengelolaan kebun raya kepada Pemerintah Daerah Sumatera Barat.
Saat ini, Tahura Bung Hatta dikelola oleh UPT Dinas Pertanian Kota Padang.
Menurut Ketua Jaringan Pemred Sumbar Adrian Tuswandi, ada dua kelebihan utama Tahura Bung Hatta.
"Pertama, destinasi ini menarik bagi turis yang memiliki minat khusus, karena banyak flora dan fauna di hutan sekitar Tahura Bung Hatta. Kedua, wisata healthy forest. Masuk ke sini ukur tensi, keluar ukur tensi pasti berubah," ujar Toaik, sapaan akrab Adrian Tuswandi.(rel)