Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengunjungi Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma, Rekam Perjuangan Pahlawan selama Agresi Militer II

Rian Afdol • Jumat, 2 Agustus 2024 | 17:30 WIB

SEJUMLAH senjata yang digunakan pahlawan bangsa terpajang di Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma. (RIAN AFDOL/PADEK)
SEJUMLAH senjata yang digunakan pahlawan bangsa terpajang di Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma. (RIAN AFDOL/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Kota sejarah, tentu tidak berlebihan jika disematkan kepada Bukittinggi. Selain menjadi salah satu episentrum pergerakan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, kota ini menjadi sangat vital dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Semua kenangan dan cerita sejarah itu bisa dilihat ketika mengunjungi Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma. Seperti apa ceritanya?

Masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, menjadi salah satu momen epik bernilai sejarah bagi Bukittinggi. Kota ini sempat menjadi ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang menjadi penyambung napas yang kala itu digempur agresi militer.

Pasalnya, ketika agresi militer kedua yang terjadi pada Desember 1948, Yogyakarta yang kala itu menjadi Ibukota negara dilumpuhkan Belanda dan para pemimpin negara, mulai dari Sutan Sjahrir, Soekarno dan Hatta ditahan Belanda.
Pada momen kritis ini, Sjafruddin Prawiranegara mengambil peran penting. Dia mengumumkan berdirinya PDRI di Bukittinggi. Hal ini menjadi penting untuk memastikan bahwa Indonesia masih ada dan tetap berdaulat.

Semangat perjuangan ini, direkam dan ditampilkan kembali dengan baik di Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma. Museum yang terletak di Jalan Panorama Nomor 22, Kayu Kubu, Kecamatan Guguakpanjang ini menyimpan berbagai koleksi benda benda bersejarah yang berkaitan dengan masa perjuangan melawan agresi militer kedua.

Museum ini dulunya sempat menjadi kediaman Gubernur Sumatera Tengah, kemudian digarap menjadi museum dan diresmikan oleh salah satu perintis Kemerdekaan Indonesia,  Muhammad Hatta pada 16 Agustus 1973. Pada Agustus 2023 yang lalu, museum ini direvitalisasi, sehingga lebih komunikatif dan menarik.

Penambahan sejumlah item seperti narasi yang melengkapi koleksi, ditambah dengan monitor yang mendukung pemaparan audio visual terkait koleksi membuat museum ini sangat representatif bagi mereka yang mencari data dan juga pelajar. Museum ini menyimpan berbagai senjata dan alat yang digunakan dalam perjuangan melawan agresi militer kedua. Mulai dari Pemancar Radio YBJ-6, berbagai senjata jenis revolver hingga senjata senapan mesin, meriam dan juga berbagai peralatan boat dan kapal.

Salah satu koleksi menarik dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan ini ialah senjata revolver yang dibuat oleh tangan terampil pengrajin logam dari Sungaipua, dan juga digunakan dalam pernah mempertahankan kemerdekaan pertama dan kedua.

Selain itu juga terdapat banyak senjata rampasan perang selama periode 1948 hingga 1949, senjata ini dipajang dilengkapi dengan narasi yang menarik yang menjelaskan asal didapatkannya senjata dan negara yang memproduksi senjata tersebut. Tidak berhenti sampai disana, di Museum yang dikelola oleh Korem 032 Wirabraja ini juga mengoleksi senjata yang digunakan dalam pernah Kamang, perjuangan Siti Manggopoh serta sejumlah senjata lokal lainnya.

“Salah satu koleksi kami YBJ-6 merupakan salah satu koleksi dengan nilai sejarah yang tinggi. Pemancar radio ini menjadi media yang digunakan oleh pejuang yang mempertahankan kemerdekaan di tengah agresi militer,” ujar Kepala Pengelola Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma Serda Ahmad Munir, Kamis (1/8).

Ia menjelaskan, ketika agresi militer kedua 1948, Yogjakarta yang menjadi pusat pemerintahan diduduki Belanda. Kemudian Sjarifuddin Prawiranegara mengumumkan pembentukan PDRI. “Belanda mempropagandakan bahwa Indonesia sudah tidak berdaulat lagi. Disini lah peran besar pemancar radio ini. Lewat pemancar radio inilah PDRI mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia masih berdaulat masih utuh,” ujarnya.

Serda Ahmad Munir juga mengharapkan museum ini bisa menjadi jembatan antara sejarah dan generasi muda hari ini untuk menyadari dan menyerapi nilai-nilai perjuangan dan patriotisme. “Harapan kita tentu museum mampu menjadi penghubung antara generasi muda dan nilai-nilai sejarah. Kita juga mengharapkan kerja sama dari berbagai pihak terutama lembaga pendidikan untuk menekankan nilai-nilai sejarah dengan berbagai cara salah satunya dengan berkunjung ke museum,” tambahnya. (RIAN AFDOL—Bukitttinggi)

Editor : Novitri Selvia
#wisata #Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma #museum #Agresi Militer II #pdri