KOTA TUA PADANG telah sejak lama menjadi destinasi pariwisata. Jika misalnya, catatan perjalanan wisatawan dijadikan preferensi untuk menentukan kapan kawasan ini mulai menjadi tujuan wisata, maka jawabannya adalah dekade 1850-an dan 1860-an.
Pada periode itulah untuk pertama kalinya Kota Tua Padang dikunjungi oleh para wisatawan.
Mereka umumnya datang secara individu, dan menariknya, sebagian di antara mereka sempat menulis dan mempublikasikan kisah perjalanannya selama berada di “Oud-Padang”, nama yang dulu disematkan pada kawasan ini.
Siapakah wisatawan periode awal yang berkunjung ke Kota Tua Padang? Bagaimana para wisatawan menggambarkan keadaan di sekitar destinasi pariwisata ini?
Tulisan ini berupaya menyajikan keadaan Kota Tua Padang pada saat kawasan ini pertama kali dikunjungi oleh wisatawan.
Penyajiannya menggunakan sudut pandang para wisatawan: tentang apa yang dilihat, didengar, dan dialami langsung oleh wisatawan.
Untuk tujuan itu, tulisan ini menilik catatan perjalanan (travelogue) dari lima orang wisatawan yang berkunjung ke Kota Tua Padang pada periode 1850-an hingga 1860-an.
Kelima wisatawan tersebut beserta tahun kunjungannya adalah Ida Pfeiffer (1852), S.A. Buddingh (1855), A.E. Croockewit (1865), Albert S. Bickmore (1866), dan H.J. Lion (1869).
Ida Pfeiffer adalah pelancong asal Austria dan salah satu wanita Eropa pertama yang melakukan perjalanan keliling dunia.
Ia menghabiskan waktu selama delapan belas bulan di Hindia-Belanda (kini: Indonesia). Perjalanan ini menempatkannya sebagai salah seorang pelancong wanita kulit putih pertama di Hindia-Belanda.
Karena alasan ini pula, ia termasuk pada kelompok wisatawan periode awal (Honings, 2024).
Kisah perjalanan Pfeiffer ditulis dalam bukunya, “A Lady’s Second Journey Round the World: From London […] and the United States”, diterbitkan pada 1855.
Ia sendiri mengunjungi Padang pada pertengahan Juli 1852. Melalui catatannya diketahui bahwa Pfeiffer berlayar dari Batavia ke Padang pada 10 Juli 1852 dengan kapal uap “Macassar”.
Ia sempat singgah di Bengkulu sebelum akhirnya berlabuh di Padang tiga hari kemudian.
Pfeiffer menyebut suasana di Padang, kota terbesar di Pulau Sumatra saat itu, sangat indah dan mengesankan. Dia mengagumi Gunung Monyet (Apenberg) dengan menyebutnya sebagai salah satu bukit terindah di pesisir barat Sumatra.
Ketika menjejaki daratan Padang di tepi Batang Arau, Pfeiffer mendapati rumah-rumah orang Eropa dilengkapi dengan taman-taman yang indah serta diteduhi oleh pohon-pohon kelapa di sekitarnya.
Pfeiffer adalah sosok pengelana terkenal pada zamannya. Pelayarannya ke Hindia-Belanda diberitakan oleh berbagai surat kabar.
Ketika tiba di Padang, Pfeiffer disambut dengan baik oleh Gubernur Sipil dan Militer Pantai Barat Sumatra, Jan van Switen, serta diundang ke kediamannya.
Bahkan, Pfeiffer ditawari sejumlah fasilitas–seperti kereta kuda–yang memudahkannya berkeliling Padang dan melanjutkan perjalanan ke daerah pedalaman.
Gambaran Kota Tua Padang yang asri juga disajikan oleh wisatawan S.A. Buddingh (1811-1875).
Buddingh adalah seorang pelancong sekaligus pendeta Belanda. Ia berkunjung ke Padang dan pedalaman Sumatra Barat pada Maret hingga pertengahan Mei 1855–.
Tujuannya melakukan inspeksi ke gereja-gereja dan sekolah-sekolah Protestan di Hindia-Belanda.
Di Padang pada saat itu terdapat sebuah gereja Protestan yang cukup luas dan bersih yang dibangun sejak 1844.
Perjalanan Buddingh ke Padang dikisahkan dalam jilid ketiga dari bukunya, “Neerlands-Oost-Indie: Reizen over […] gedaan gedurende het tijdvak van 1852-1857”, terbit pada 1861.
Dalam catatannya, Buddingh menyebut kapal yang ditumpangi rombongannya berlabuh di sebuah pulau kecil (Pulau Pisang).
Tak lama kemudian, perahu pemerintah datang menjemput mereka dan pelayaran ke daratan Padang dilanjutkan dengan mendayung perahu tersebut.
“Selama berlayar di atas gelombang ombak yang berayun lembut, kami dengan penuh perhatian mengamati Gunung Monyet yang menjulang setinggi 319 kaki di atas permukaan laut,” tulis Buddingh.
Dari puncak Gunung Monyet itu dapat dilihat seluruh pemandangan pelabuhan dan kota. Di tengah kota terdapat sebuah taman besar dengan jalanan yang teduh, dan di tengah-tengah taman itu ada sebuah rumah peristirahatan kecil yang dibangun oleh salah seorang bekas Residen Padang.
“Ketika kami mulai melayari sungai (Batang Arau), banyak monyet bermunculan dari balik pepohonan di tepi sungai, dan menatap kami dengan penuh perhatian, seolah-olah ingin tahu: siapakah orang yang memasuki Sungai Padang ini?” lanjut Buddingh.
Rombongan Buddingh turun di sebuah dermaga dekat beberapa gudang pemerintah. Seperti Ida Pfeiffer sebelumnya, Gubernur Jan van Switen juga menyambut kunjungan Buddingh dengan ramah.
Bahkan, sebuah kereta kuda telah disiapkan di dermaga untuk membawa Buddingh ke kediaman sang gubernur.
Dalam catatannya, Buddingh menyebut Padang sebagai sebuah kota yang tertata rapi dan luas, dengan adanya jalanan yang lebar dan jalan pintas, serta banyak rumah-rumah Eropa, pribumi, dan Tionghoa.
Kawasan Kota Tua di tepi sungai ditandai dengan keberadaan rumah-rumah batu dan toko-toko milik pedagang Eropa, kantor-kantor pemerintah, dan gudang-gudang yang saling berdekatan.
Meski demikian, sebagian besar rumah-rumah Eropa di Padang dan tempat-tempat lain di Pantai Barat Sumatra dibangun dari papan dan bertumpu pada pilar-pilar kayu atau batu yang tingginya sekitar 3 hingga 5 kaki dari tanah.
Rumah kayu dianggap lebih adaptif terhadap gempa bumi yang sering terjadi di kawasan ini, sehingga pada masa itu tidak disarankan untuk tinggal di rumah batu.
Kota ini, menurut Buddingh, memberikan kesan yang sangat menyenangkan bagi orang asing dan dapat disebut sebagai salah satu kota tropis yang paling menawan.
Selain Ida Pfeiffer, pelayaran dengan kapal uap “Macassar” dari Batavia ke Padang juga dilakukan oleh A.E. Croockewit (1839-1917). Croockewit tiba di Pelabuhan Padang (Pulau Pisang) pada malam 27 Februari 1865.
Ia menuliskan kisah perjalanannya selama dua bulan berada di Padang dan kawasan lainnya di Pantai Barat Sumatra dalam “Twee Maanden in de Padangsche Boven- en Benedenlanden”, diterbitkan dalam majalah De Gids pada 1866.
Kota Tua Padang memberikan kesan yang baik bagi Croockewit. Ia mengagumi Pelabuhan Padang yang aman dan membandingkannya dengan Pelabuhan Batavia yang tak menyenangkan.
Pelabuhan Padang berjarak sekitar satu jam mendayung dari pusat kota. Di satu sisi terdapat Pulau Pisang sebagai tempat kapal-kapal berlabuh, sementara di sisi lainnya terlihat kawasan pantai berbukit yang terletak tepat di muara Sungai Padang dekat Gunung Monyet (Apenberg).
Seperti halnya Buddingh, Croockewit juga menceritakan pengalamannya berperahu dari Pulau Pisang ke pusat kota di tepi Batang Arau.
“Di sepanjang dan sekitar hilir sungai (Batang Arau) terdapat kantor-kantor administrasi pemerintah, gudang-gudang dan kantor-kantor dagang bangsa Eropa, Kampung Cina dan orang-orang Timur asing lainnya, pasar, rumah-rumah penduduk pribumi dan beberapa rumah orang Eropa yang kurang mampu serta orang-orang yang dipersamakan dengan mereka,” tulis Croockewit.
Menurut Croockewit, meski Padang memiliki banyak bangunan umum, tetapi tak ada satu pun yang menonjol dari segi keindahan bentuknya.
Bangunan-bangunan umum yang terpenting adalah tangsi, rumah sakit militer, kantor gubernur, gedung pengadilan, kantor perbendaharaan, gudang-gudang, gereja Protestan, gereja Katolik, dan sebuah bangunan yang saat ini ditempati oleh kolonel-komandan militer Pantai Barat Sumatra yang nantinya akan diubah menjadi hotel untuk gubernur.
Masa tinggal Croockewit di Padang hanya beberapa hari, dan dengan sebuah bendi, ia melanjutkan perjalanan ke Pariaman pada 1 Maret 1865.
Pesona Kota Tua Padang yang mengesankan juga diceritakan oleh seorang naturalis asal Amerika, Albert S. Bickmore (1839-1914).
Bickmore singgah di Padang pada pertengahan Februari 1866. Kisah perjalanannya kemudian diterbitkan dalam bukunya, Travels in the East Indian Archipelago, pada 1868.
Pelayaran Bickmore dari Batavia ke Padang menggunakan kapal “Menado”.
Dalam pelayaran itu, ia menjumpai pemandangan Pegunungan Bukit Barisan yang menjulang tinggi dari tepi laut Padang.
Bickmore menyebutnya sebagai salah satu pemandangan terindah yang dapat dinikmati di Pulau Sumatra. Kapal Bickmore berlabuh di sebuah pelabuhan terbuka (Pulau Pisang) yang berjarak sekitar 3 mil dari kota.
Dari pulau ini para penumpang diangkut ke Padang menggunakan perahu.
Ketika menginjakkan kaki di Padang, Bickmore mendapati jalanan-jalanan tampak teduh dan rapi. Di dekat pusat kota terdapat lapangan yang luas dan indah, yang pada salah satu sisinya berada kediaman gubernur.
Di sisi selatan terdapat sungai (Batang Arau) tempat penduduk Padang menambatkan perahu mereka, dan di sana beberapa tongkang mengangkut muatan.
Kawasan ini sebagian besar berupa gudang-gudang dan kantor-kantor dagang.
Pada awalnya, Bickmore menginap di sebuah hotel dekat kota. Tak lama kemudian, ia menemui Gubernur Van den Bossche yang menerimanya dengan sangat ramah.
Bahkan, Gubernur Bossche menawari Bickmore untuk tinggal di kediamannya selama ia berada di Padang.
Selain itu, Gubernur Bossche juga menyiapkan sebuah kereta kuda untuk digunakan Bickmore ketika nanti melanjutkan perjalanan ke Fort de Kock (Bukittinggi).
Dalam catatannya, Bickmore menyebut jalanan di Padang pada umumnya dinaungi oleh pohon-pohon palem yang tinggi, dan melintas di bawahnya dengan kereta kuda merupakan pengalaman luar biasa yang tidak akan pernah terlupakan.
“Pada suatu hari yang cerah, kami berkereta kuda sejauh beberapa mil ke sebuah lapangan, suatu tempat di mana gubernur sebelumnya bertempat tinggal. Rumah itu telah dirobohkan, tetapi lapangan di sekitarnya yang indah masih ada. Jalan menuju tempat ini melewati persawahan, dan terlihat tanaman padi muda setinggi enam hingga delapan inci melambai-lambai tertiup angin pagi. Jalanan yang lurus dan pepohonan besar yang rindang di kedua sisinya adalah salah satu jalan paling indah yang pernah saya lihat,” tulis Bickmore.
Wisatawan lain yang berkunjung ke Padang adalah H.J. Lion (1806-1869). Lion merupakan eks tentara Belanda yang beralih profesi menjadi jurnalis.
Lion pernah menjabat pemimpin redaksi Bataviaasch Handelsblad, salah satu surat kabar terkemuka di Hindia-Belanda pada pertengahan abad ke-19.
Dia melakukan perjalanan ke Padang pada 1869 dan kisah perjalanannya diterbitkan dalam buku Een Uitstap naar Padang pada tahun yang sama.
Dalam pelayarannya ke Padang, Lion memuji pesisir barat Pulau Sumatra dengan mengatakan keindahan kawasan ini tidak kalah dibandingkan dengan pantai-pantai di Sardinia (Laut Tengah), Hyeres-Marseilles (Prancis), dan Plymouth-Dover (Inggris).
“Tanda pertama kekuasaan dan peradaban Barat yang terlihat di Padang adalah sebuah pos sinyal sederhana di puncak Gunung Monyet. Pos sinyal itu berfungsi memberi isyarat mengenai kedatangan kapal-kapal ke Padang,” tulis Lion.
Lion juga mengungkapkan kekagumannya pada pemandangan kota dan aliran Batang Arau yang dapat terlihat dari Gunung Monyet.
“Gunung Monyet adalah sebuah bukit karang yang tinggi, dan di sepanjang arah utara kaki bukit ini mengalir Sungai Padang yang bermuara ke laut. Kota Padang terletak di tepi utara sungai yang sangat jernih ini,” ungkap Lion.
(Bersambung)