Sungai yang luas mengalir dengan tenang, sementara di tepinya berjajar rumah-rumah penduduk yang tampak sederhana.
Di beberapa sudut, terdapat restoran dengan pemandangan langsung ke sungai, dan menciptakan suasana yang menenangkan.
Di sisi lain, tampak gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi yang menandakan perkembangan modern di tengah kota.
Suasana ini dialami langsung oleh Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional, Dr. Aqua Dwipayana, pada Minggu sore, 15 September 2024.
Dalam suasana gerimis yang sejuk, ia memulai perjalanan sekitar pukul 17.15 dengan kapal bernama Mekong Magic, menelusuri Sungai Mekong selama lebih dari satu setengah jam.
Menurutnya, penumpang kapal ini didominasi wisatawan mancanegara. Semua menikmati keindahan sore hari di atas sungai yang historis, sembari mengabadikan momen-momen spesial.
Bagi mereka, perjalanan ini tidak sekadar petualangan, tapi juga bagian dari sejarah pribadi.
Dr. Aqua, yang sudah berpengalaman dalam berbagai perjalanan, tidak hanya menikmati pemandangan. Ia juga merenungkan potensi wisata sungai di Indonesia.
“Di Indonesia, potensi wisata sungainya luar biasa. Bagus sekali jika bisa mencontoh yang dilakukan di Sungai Mekong. Menambah pendapatan masyarakat dan memberikan suasana berbeda kepada wisatawan,” ujar Aqua dalam laporan perjalanannya yang diterima Padek.
Berdasarkan informasi Mekong River Commission for Sustainable Development, Sungai Mekong merupakan sungai terpanjang di Asia Tenggara, memiliki panjang sekitar 4.900 km.
Sungai ini mengalir dari sumbernya di Dataran Tinggi Tibet di Tiongkok, melintasi Myanmar, Republik Demokratik Rakyat Laos, Thailand, Kamboja, dan Vietnam, sebelum akhirnya membentuk delta besar dan mengalir ke laut.
Daerah aliran sungai ini mencakup luas daratan sebesar 795.000 km² dan memiliki debit tahunan rata-rata 475 km³, menjadikannya yang terbesar kesepuluh di dunia.
Suasana Bandara Mirip
Setelah menyelesaikan perjalanan di Phnom Penh, Aqua bersiap kembali ke Indonesia. Perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar 8,5 jam, termasuk transit di Kuala Lumpur, Malaysia.
Namun, saat berada di Phnom Penh International Airport, yang juga dikenal sebagai Cambodia Airport, Aqua merasa seperti di negara sendiri.
Bandara tersebut mengingatkannya pada Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang. Beberapa toko yang ia temui sangat familiar, seperti Starbucks Coffee dan Krispy Kreme.
Sambil menunggu penerbangan, ia duduk di ruang tunggu, memperhatikan pesawat-pesawat yang mendarat dan lepas landas, sebagian besar berasal dari negara-negara Asia seperti China, Taiwan, dan Malaysia.
Penumpangnya tidak terlalu banyak, sebagian besar warga Kamboja dan beberapa wisatawan asing.
“Di Cambodia Airport rasanya seperti di Bandara Soekarno-Hatta. Dalam 20 tahun terakhir, hampir setiap minggu saya melewati tempat itu,” ungkap Dr. Aqua, yang selalu mensyukuri setiap kesempatan terbang dan perjalanan yang ia lalui.
Perjalanan di Phnom Penh ini, baik di darat maupun di udara, memberikan refleksi mendalam bagi Aqua.
Selain menikmati keindahan sungai Mekong yang ikonik, Aqua juga menemukan kemiripan potensi wisata antar negara.(*)
Editor : Heri Sugiarto