Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Geosite Konglomerat Brani Ngalau Batauik Ungkap Jejak Sungai Purba 23 Juta Tahun di Sijunjung

Heri Sugiarto • Selasa, 17 Desember 2024 | 21:45 WIB

Geosite Konglomerat Brani Ngalau Batauik di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, dilihat dari jauh. (Foto: Ridwan/ Geopark Ranah Minang Silokek)
Geosite Konglomerat Brani Ngalau Batauik di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, dilihat dari jauh. (Foto: Ridwan/ Geopark Ranah Minang Silokek)
PADEK.JAWAPOS.COM-Geosite Konglomerat Brani Ngalau Batauik di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, menyimpan jejak sejarah geologi berupa batuan konglomerat hasil pengendapan sungai purba berumur Oligosen, sekitar 23 juta tahun lalu.

Geosite ini merupakan bagian dari Kawasan Geopark Ranah Minang Silokek yang kini menjadi destinasi unggulan wisata geologi dan penelitian ilmiah.

Batuan konglomerat yang ada di lokasi ini termasuk dalam Formasi Brani.

Manager Geopark Ranah Minang Silokek, Ridwan, menjelaskan bahwa struktur batuan terbentuk dari fragmen batu kerakal hingga berangkal yang tertanam dalam batupasir.

“Struktur sedimen yang mengkasar ke atas pada batuan konglomerat ini menunjukkan adanya perubahan arus pengendapan di masa lampau,” jelas Ridwan.

Aktivitas Tektonik dan Lanskap Dramatis

Aktivitas tektonik juga berperan besar dalam membentuk area geosite ini. Proses kekar dan sesar yang dipengaruhi oleh Sesar Sumatera—berarah barat laut-tenggara—telah menyebabkan rekahan serta pergeseran pada batuan.

Rekahan dan pergeseran batuan masih terlihat jelas hingga saat ini.

Proses kekar dan sesar ini, dikombinasikan dengan erosi jutaan tahun, membentuk lanskap unik berupa perbukitan struktural dengan tebing-tebing vertikal serta celah antar tebing.

Bentang alam dramatis tersebut juga menjadi alur sungai purba yang membelah tebing, menciptakan keindahan sekaligus jejak sejarah bumi.

“Fenomena ini adalah bukti nyata dari aktivitas geologi yang terjadi di masa lalu,” tambah Ridwan.

Potensi Wisata Geologi dan Penelitian Ilmiah

Dengan nilai ilmiah yang tinggi, Geosite Konglomerat Brani Ngalau Batauik menarik perhatian para peneliti, wisatawan, hingga pegiat olahraga alam.

Sejak dibuka pada tahun 2020, kata Ridwan, geosite ini telah menjadi lokasi penelitian mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ternama seperti UNSRI, ITB, dan ITERA Lampung.

Selain itu, komunitas panjat tebing dari Pekanbaru pernah membuat jalur panjat tebing di kawasan tebing batuan terjal ini.

“Geosite ini memiliki potensi besar untuk pengembangan wisata geologi berkelanjutan, menggabungkan keindahan alam eksotis dan edukasi ilmiah,” ujar Ridwan.

Lokasi ini berjarak sekitar 3,5 jam dari Kota Padang atau sekitar 4,5 jam dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padangpariaman sehingga menjadikannya destinasi yang cukup mudah diakses bagi wisatawan dan peneliti.

Murid SDN 12 Nagari Padang Laweh Sijunjung, melakukan kegiatan trekking dan mencatat kondisi geologi di sepanjang perjalanan menuju Geosite Konglomerat Brani Ngalau Batauik. (Foto: Ridwan)
Murid SDN 12 Nagari Padang Laweh Sijunjung, melakukan kegiatan trekking dan mencatat kondisi geologi di sepanjang perjalanan menuju Geosite Konglomerat Brani Ngalau Batauik. (Foto: Ridwan)

Edukasi Generasi Muda tentang Geologi

Selain untuk penelitian, geosite ini menjadi destinasi edukasi geologi bagi para pelajar dari berbagai daerah.

"Sejak Januari hingga November 2024 sebanyak 4.825 orang telah berkunjung ke 14 situs geologi, 4 situs biologi dan 7 situs budaya yang tersebar di wilayah Kabupaten Sijunjung," kata Ridwan.

Dari jumlah tersebut, tercatat sebanyak 254 siswa dari berbagai sekolah telah mengunjungi lokasi Geosite Konglomerat Brani Ngalau Batauik.

Hari ini, 17 Desember 2024, sebanyak 60 murid SDN 12 Nagari Padang Laweh Kecamatan Koto VII, Sijunjung, melakukan kegiatan trekking menuju Geosite Konglomerat Brani Ngalau Batauik.

“Mereka berjalan kaki sekitar 30 menit dari tempat pemberhentian kendaraan sambil mengamati dan mencatat kondisi geologi di sepanjang perjalanan menuju geosite,” ujar Ridwan.

Dengan potensi wisata edukasi yang terus berkembang, Geosite Konglomerat Brani Ngalau Batauik diharapkan dapat menarik lebih banyak wisatawan, peneliti, dan generasi muda untuk mempelajari sejarah bumi serta menikmati keindahan alam yang ditawarkan.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#Geosite Konglomerat Brani Ngalau Batauik #Sungai Purba Oligosen #Ridwan #formasi brani #Geopark Ranah Minang Silokek #wisata geologi sumatera barat #sijunjung