Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Desa Wisata Ampingparak Pessel, Surga Konservasi Penyu dan Mangrove yang Mendunia

Yoni Syafrizal • Jumat, 11 Juli 2025 | 13:17 WIB

Kawasan Desa Wisata Amping Parak yang terlihat indah dan menyejukan mata.
Kawasan Desa Wisata Amping Parak yang terlihat indah dan menyejukan mata.
Desa Wisata Ampingparak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, kian bersinar di kancah wisata nasional maupun internasional. Selain menawarkan panorama pantai yang sejuk dengan pohon cemara dan bakau yang tertata rapi, kawasan ini juga dikenal sebagai lokasi konservasi penyu yang terus berkembang sejak pertama kali digagas pada tahun 2016.

Laporan YONI SYAFRIZAL, Pessel—

Pantai yang dulunya terlihat gersang, kini telah berubah wajah menjadi kawasan yang hijau dan tertata, lengkap dengan berbagai fasilitas ramah wisatawan.

Tidak hanya keindahan alam yang disuguhkan, Ampingparak juga menjadi tempat edukasi dan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat.

Penjabat (Pj) Wali Nagari Ampingparak, Iwal, saat dihubungi Jumat (10/7), mengungkapkan bahwa Desa Wisata Ampingparak kini menjadi salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Pesisir Selatan.

“Saat ini kawasan ini tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tapi juga karena pengunjung dapat melihat penyu secara dekat di pusat penangkaran. Ini menjadikan Amping Parak memiliki daya tarik yang unik dan edukatif,” kata Iwal.

Ia menyebutkan, status desa wisata ditetapkan melalui SK No. 556/32/Kpts/BPT-PS/2021. Sejak saat itu, kawasan ini terus berkembang dengan mengedepankan konsep ekowisata yang memadukan konservasi dan edukasi.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sekaligus Ketua Laskar Turtle Camp (LTC) Amping Parak, Haridman, menyampaikan bahwa saat ini pihaknya telah merancang berbagai paket wisata edukatif yang sangat diminati wisatawan.

Seorang anak sedang tracking mangrove dengan perahu kano.
Seorang anak sedang tracking mangrove dengan perahu kano.

“Kami memiliki paket edukasi tentang penyu, paket edukasi mangrove, pengurangan risiko bencana untuk anak dan keluarga, serta tracking mangrove menggunakan kano. Semua ini disusun agar wisatawan tidak hanya berlibur, tapi juga mendapatkan ilmu tentang ekosistem pesisir,” ujar Haridman.

Untuk mendukung pengembangan budaya dan seni lokal, kawasan ini juga telah membangun panggung utama Pentas Seni Desa Wisata Amping Parak yang digunakan oleh para pelaku seni nagari. Fasilitas ini menjadi wadah bagi seniman lokal dalam mengekspresikan dan melestarikan budaya tradisional.

Haridman juga menjelaskan, lokasi Pantai Penyu Desa Wisata Ampingparak hanya berjarak sekitar 125 kilometer dari Kota Padang dengan estimasi waktu tempuh sekitar 3 jam. Letaknya sangat strategis karena hanya berjarak sekitar 100 meter dari jalan lintas Sumatera dan tidak jauh dari Pasar Ampingparak.

Baca Juga: Dukung Ketahan Pangan, Polres dan Warga Tanam Jagung Serentak

Untuk mendukung keberlanjutan kawasan ini, pemerintah nagari setempat juga telah menetapkan beberapa regulasi, seperti Peraturan Nagari (Pernag) tentang ekowisata berbasis Pengurangan Risiko Bencana (PRB), serta Pernag tentang perlindungan penyu dan habitatnya.

Sejumlah pengunjung dari mancanegara saat melepas tukik di Desa Wisata Amping Parak.
Sejumlah pengunjung dari mancanegara saat melepas tukik di Desa Wisata Amping Parak.

“Sekarang, kunjungan wisatawan bisa mencapai sekitar seribu orang dalam sepekan. Banyak pengunjung yang datang tidak hanya untuk bersantai, tapi juga mengikuti berbagai program edukasi,” tambahnya.

Sarana pendukung di kawasan ini sangat lengkap. Untuk edukasi penyu, tersedia bak perawatan penyu, rumah penetasan, pondok galeri, pondok diskusi, dan amphitheater. Sementara untuk edukasi mangrove, telah disiapkan rumah pembibitan, area penanaman, dan jalur tracking.

Tidak ketinggalan, kawasan ini juga menyediakan fasilitas bermain edukatif untuk anak-anak dengan tema pengurangan risiko bencana serta zona camping ground dan area family gathering untuk menambah kenyamanan wisatawan dari luar daerah.

Wisatawan mancanegara menyaksikan tukik saat dilepas ke laut.
Wisatawan mancanegara menyaksikan tukik saat dilepas ke laut.

“Keberhasilan ini tentu tidak terlepas dari kepedulian masyarakat yang bahu-membahu memajukan nagari lewat potensi wisata bahari, khususnya melalui Pokdarwis Laskar Turtle Camp,” pungkas Haridman. (*)

Editor : Adetio Purtama
#mendunia #pessel #pariwisata #konservasi penyu #mangrove #Desa Wisata Ampingparak