Menteri Pariwisata dan Penerbangan Sipil Sri Lanka, Harin Fernando, menyatakan langkah ini diambil setelah meningkatnya minat wisatawan Eropa terhadap destinasi tropis selain Bali dan Thailand.
“Kami ingin menjadikan Sri Lanka sebagai pilihan utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman tropis dengan harga terjangkau dan budaya kaya,” ujarnya, dikutip dari The Sun, Senin (13/10/2025).
Sri Lanka dikenal dengan pantai eksotis, perkebunan teh, serta situs warisan dunia UNESCO seperti Sigiriya. Pemerintah menargetkan 3 juta wisatawan asing pada akhir 2025, dengan Inggris, Jerman, Prancis, dan Belanda sebagai pasar utama.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah meniadakan biaya visa turis jangka pendek hingga enam bulan ke depan dan meluncurkan kampanye global bertajuk “Sri Lanka – Beyond the Ordinary”.
Program ini mempromosikan keunikan budaya, kuliner, dan keramahan masyarakat lokal melalui kerja sama dengan agen perjalanan global dan platform digital.
Selain promosi, pemerintah juga menyiapkan dana khusus untuk memperbaiki infrastruktur pariwisata, termasuk jalur kereta wisata pantai selatan dan peningkatan kapasitas Bandara Internasional Bandaranaike.
Kebijakan bebas visa ini juga diperluas untuk wisatawan dari India dan Tiongkok, dua pasar terbesar Asia. Pemerintah berharap strategi ini menjadikan Sri Lanka sebagai hub pariwisata Asia Selatan yang kompetitif dan ramah wisatawan.
Selain itu, program “Green Tourism” akan diterapkan untuk memastikan keberlanjutan lingkungan dan pembangunan ramah alam di kawasan wisata utama seperti Ella dan Mirissa.
Maskapai nasional SriLankan Airlines juga menambah rute langsung dari London dan Frankfurt guna mempercepat arus kunjungan wisatawan Eropa.
Dengan strategi akses bebas visa dan promosi global, Sri Lanka menegaskan diri sebagai destinasi tropis unggulan yang siap bersaing dengan Bali, Phuket, dan Langkawi.(CC5)
Editor : Hendra Efison