Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menyusuri Los Lambuang Pasa Ateh: Surga Kuliner Ikonik Kota Jam Gadang

Rian Afdol • Jumat, 5 Desember 2025 | 07:00 WIB

Salah seorang penjual Nasi Kapau di Los Lambuang, Pasa Ateh, Bukittinggi.
Salah seorang penjual Nasi Kapau di Los Lambuang, Pasa Ateh, Bukittinggi.
Bukittinggi tidak hanya dikenal sebagai kota wisata dan sejarah di Sumbar. Kota yang identik dengan Jam Gadang itu juga memiliki sejarah panjang tentang kuliner khas, yakni nasi kapau. Salah satu lokasi yang patut dikunjungi jika ingin merasakan kuliner khas itu adalah di Los Lambung Pasa Ateh. Seperti apa ceritanya?

Laporan RIAN AFDOL, Bukittinggi—

Selalu ada banyak alasan untuk datang ke Kota Bukittinggi. Kota kecil dengan nama besar ini menyimpan reputasi panjang dalam lintasan sejarah Republik, melahirkan tokoh-tokoh penting Indonesia, menyimpan beragam peninggalan sejarah, dan memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai. Posisi strategis serta panorama alamnya yang memukau juga menjadi alasan kuat mengapa kota ini selalu dirindukan.

Dari sekian banyak daya tariknya, kekayaan budaya kuliner menjadi salah satu magnet utama. Di kota tempat berdirinya ikon Jam Gadang ini, ragam kuliner tradisional diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Salah satu yang paling populer dan menjadi kebanggaan warga adalah Nasi Kapau, hidangan khas Minangkabau dengan keunikan bumbu, cita rasa, dan cara penyajian yang berbeda dari masakan Minang pada umumnya.

Lebih jauh, Bukittinggi juga memiliki pusat kuliner khusus yang melegenda sebagai rumah besar para penjaja Nasi Kapau, yakni Los Lambuang. Berada di kawasan Pasa Ateh, lokasi ini hanya berjarak sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari Jam Gadang. Setiap hari, aroma masakan dan keramaian pengunjung memenuhi lokasi tersebut.

“Saya sudah generasi kedua sebagai salah satu penjual nasi Kapau. Kalau saya sendiri sudah sekitar 14 tahun berjualan di sini,” ujar Fitria, penjual Nasi Kapau yang akrab disapa Uni Fit, saat ditemui Kamis (4/12).

Uni Fit menjelaskan, Nasi Kapau memiliki sejumlah menu utama yang menjadi ciri khasnya. Mulai dari tunjang, usus, tambusu, dendeng, pangek ikan, babat, hati, ayam goreng, ayam lado hijau, ayam gulai, ayam bumbu hingga rendang. Tak ketinggalan sayur kapau, menu pelengkap yang tak dapat dipisahkan dari identitas kuliner ini.

“Usus, tambusu, tunjang dan dendeng itu yang paling banyak dicari pengunjung. Selain masyarakat Bukittinggi, pembeli biasanya juga datang dari Pekanbaru dan kota-kota lain. Biasanya sejalan dengan kunjungan wisatawan ke Jam Gadang,” jelasnya.

Ia menambahkan, salah satu keistimewaan Nasi Kapau terletak pada sayur Kapau yang diolah dengan bumbu dan teknik memasak warisan keluarga. Resepnya dibawa turun-temurun hingga tetap mempertahankan keaslian rasa.

“Sayurnya diolah dengan cara khusus. Bumbunya, baik untuk sayur maupun menu utama, menggunakan racikan khas dapur tradisional dan semuanya alami,” lanjutnya.

Namun keunikan Nasi Kapau tak berhenti pada cita rasa saja. Penyajiannya pun memiliki ciri khas tersendiri. Tidak seperti rumah makan pada umumnya yang menggunakan etalase kaca, jajaran menu Nasi Kapau ditata bertingkat seperti tangga.

Penjual duduk lebih tinggi dari pembeli, sehingga ketika menyiapkan pesanan mereka menggunakan sanduak panjang untuk menghindari sentuhan langsung.

Satu porsi Nasi Kapau dijual dengan harga Rp33.000, sementara porsi tambua dibanderol Rp38.000. Menurut banyak pengunjung, harga tersebut sepadan dengan kelezatan dan pengalaman unik yang ditawarkan.

Lebih dari sekadar makanan atau komoditas, bagi Uni Fit, Nasi Kapau adalah bagian dari budaya Minangkabau yang harus terus dijaga keberlangsungannya.

“Ini bukan hanya soal jual beli. Nasi Kapau adalah budaya yang harus diwariskan. Semoga tetap eksis dan diteruskan generasi mendatang,” harapnya.

Tak jauh dari Los Lambuang, kawasan Jam Gadang juga menawarkan beragam kuliner khas lain yang memperkaya pengalaman wisatawan. Makanan berbahan sanjai, pisang panggang, hingga pisang bakar menjadi pelengkap perjalanan kuliner di kota berhawa sejuk ini.

Semua sajian khas tersebut dapat ditemui dengan mudah di sekitar Pasa Ateh dan sekitarnya, menjadikannya surga kecil bagi para pencinta kuliner Nusantara.

Bukittinggi, dengan segala pesona dan kekayaan kulinernya, seolah tak pernah kehabisan alasan untuk dikunjungi. Setiap hidangan tidak hanya menghadirkan rasa, tetapi juga cerita dan tradisi yang terus hidup dari masa ke masa. (*)

Editor : Adetio Purtama
#wisata kuliner #los lambuang #nasi kapau #bukittinggi #pasa ateh