Laporan FADLI ZIKRI, Pasbar—
Berada di kawasan pesisir barat Sumatera, Pantai Sikabau memiliki ombak yang relatif landai dengan garis pantai yang panjang. Kondisi tersebut membuat pengunjung leluasa berjalan menyusuri bibir pantai sambil menikmati hembusan angin laut dan panorama alam sekitar.
Keindahan pantai semakin terasa saat sore hari, ketika matahari perlahan tenggelam dan menghadirkan pemandangan senja yang memukau.
Bagi wisatawan yang berangkat dari Kota Padang, Pantai Sikabau dapat ditempuh dengan perjalanan darat sekitar tujuh jam. Meski jaraknya cukup jauh, panorama alam yang disuguhkan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang menginginkan suasana pantai yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Keindahan Pantai Sikabau juga ditunjang oleh kondisi lingkungan yang masih alami. Pepohonan di sekitar pantai memberikan kesejukan, menjadikannya lokasi yang cocok untuk bersantai bersama keluarga maupun teman. Pada hari-hari tertentu, pantai ini ramai dikunjungi warga lokal yang datang untuk berlibur, memancing, atau sekadar menikmati suasana pantai.
Dampak positif keberadaan Pantai Sikabau turut dirasakan oleh masyarakat sekitar. Erpida, 55, salah seorang pedagang di kawasan pantai, mengaku telah tinggal di wilayah tersebut sejak tahun 1990-an dan menyaksikan langsung perkembangan Pantai Sikabau dari waktu ke waktu.
“Saya tinggal di sini sejak sekitar tahun 1990-an. Dari dulu sudah di kawasan ini dan tahu bagaimana pantai ini dulunya sampai sekarang. Saya berjualan di sini sudah lebih dari 10 tahun,” ujar Erpida saat ditemui Padang Ekspres.
Menurutnya, jumlah pengunjung biasanya meningkat signifikan pada hari Minggu dan hari libur nasional. Pada momen tersebut, aktivitas jual beli di sekitar pantai ikut mengalami peningkatan.
“Biasanya ramai hari Minggu, libur Tahun Baru, dan Hari Raya Idul Fitri. Kalau ramai, jualan kami juga ikut naik,” jelasnya.
Pada hari biasa, pendapatan pedagang kerap tidak mencapai Rp 100 ribu karena jumlah pengunjung relatif sepi. Namun, saat akhir pekan atau hari libur, pendapatan bisa meningkat hingga Rp 800 ribu, bahkan lebih.
Selain berjualan, warga sekitar juga menyediakan jasa penyeberangan ke pulau kecil di sekitar kawasan pantai. Tarif penyeberangan dipatok sekitar Rp 10 ribu per orang dan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat sekaligus menambah pilihan aktivitas wisata bagi pengunjung.
Erpida menambahkan, salah satu daya tarik utama Pantai Sikabau adalah panorama matahari terbenam yang terlihat jelas tanpa terhalang bangunan. Keunikan lainnya adalah pemandangan sapi-sapi milik warga yang kerap berjalan santai di sepanjang pantai pada sore hari, menciptakan nuansa pedesaan yang alami dan khas.
“Kalau daya tariknya di sini, sunset-nya sangat bagus. Biasanya juga ada sapi milik warga yang berjalan di tepi pantai,” pungkasnya.
Sementara itu, salah seorang pengunjung, Ahmad Habibi, 27, pekerja asal luar kota, mengaku terkesan dengan suasana Pantai Sikabau yang masih alami dan relatif sepi.
“Pantainya masih bersih, pasirnya putih, dan suasananya tenang. Cocok untuk liburan keluarga atau sekadar melepas capek,” ungkapnya.
Ahmad menilai Pantai Sikabau memiliki keunggulan dibandingkan pantai lain di Pasaman Barat karena pemandangannya yang luas dan belum banyak tersentuh pembangunan. Ia berharap ke depan akses jalan dan pengelolaan kawasan dapat ditingkatkan tanpa menghilangkan keasrian alamnya.
Selain menyuguhkan keindahan visual, Pantai Sikabau juga menghadirkan suara deburan ombak yang seolah menjadi musik alam bagi pengunjung. Menjelang senja, langit berwarna keemasan berpadu dengan hamparan laut lepas, menciptakan suasana yang menenangkan.
Dengan berbagai potensi yang dimiliki, Pantai Sikabau dinilai sebagai salah satu aset pariwisata daerah yang patut dijaga dan dikembangkan.
Kebersihan kawasan serta penyediaan fasilitas pendukung diharapkan dapat terus ditingkatkan agar pantai ini tetap menjadi tujuan wisata yang nyaman sekaligus memberi dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat. (*)
Editor : Adetio Purtama