Tumpukan batang pohon berukuran besar ini mengganggu pemandangan dan melumpuhkan aktivitas wisata di lokasi tersebut.
Material kayu yang menutup area pantai membuat kunjungan wisatawan menurun tajam.
Pedagang yang biasanya membuka lapak di sepanjang pesisir juga tidak dapat beraktivitas karena area usaha tertutup gelondongan.
Warga setempat, Sardi, 50 tahun, mengatakan upaya pembersihan selama ini hanya dilakukan secara manual oleh masyarakat.
Sebagian kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan ringan atau kayu bakar, namun jumlah material terlalu banyak untuk ditangani tanpa bantuan alat berat.
“Kami sudah coba angkut sedikit demi sedikit. Ada yang dipakai untuk bangun pondok, ada juga untuk kayu bakar di dapur. Tapi kayunya terlalu banyak, tenaga kami terbatas,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan sebagian gelondongan kini tertimbun pasir karena tersapu ombak selama berbulan-bulan.
Kondisi itu membuat pembersihan semakin sulit dilakukan secara menyeluruh.
“Tumpukan gelondongan ini sulit dibersihkan total karena sangat banyak dan sudah mulai tertanam di pantai. Ukurannya besar-besar dan susah dikeluarkan,” kata Sardi.
Situasi tersebut turut menimbulkan kekhawatiran keselamatan bagi pengunjung.
Menurutnya, wisatawan enggan datang karena risiko terluka akibat serpihan kayu yang tersebar di area pasir.
“Pantai sekarang tidak ada lagi pengunjung karena banyak kayu. Orang tidak bisa bermain pasir, kaki bisa luka. Pedagang juga tidak berani buka lapak karena tempatnya tertutup batang pohon,” tuturnya.
Warga berharap pemerintah daerah segera menurunkan alat berat untuk membersihkan kawasan tersebut.
Tanpa intervensi segera, pemulihan wisata dan ekonomi warga di belakang Pangeran Beach diperkirakan akan memakan waktu jauh lebih lama.(cr3)
Editor : Hendra Efison