Laporan FADLI ZIKRI, Pasaman Barat—
Kawasan yang awalnya merupakan lokasi konservasi itu kini berkembang menjadi salah satu destinasi wisata keluarga andalan di wilayah pesisir barat Sumatera Barat.
Pantai ini berjarak sekitar 20 kilometer dari Simpang Empat, ibu kota Kabupaten Pasaman Barat, dan dapat ditempuh sekitar empat jam perjalanan dari Kota Padang.
Suasana pantai yang tenang, teduh, serta udara yang sejuk menjadikan Pantai Pohon Seribu pilihan bagi wisatawan untuk melepas penat bersama keluarga.
Pada awalnya, kawasan ini merupakan lokasi konservasi pohon cemara untuk menahan abrasi pantai pascagempa Sumatera Barat tahun 2009.
Pada 2012, ribuan bibit cemara ditanam di sepanjang garis pantai sebagai upaya perlindungan kawasan pesisir dari terjangan ombak.
Seiring pertumbuhan pohon-pohon tersebut, kawasan ini kemudian dikenal dengan nama Pantai Pohon Seribu dan mulai menarik perhatian masyarakat.
Pemilik Orange Kafe yang berada di kawasan pantai, Azharudin, mengatakan mulai berjualan di kawasan Pantai Pohon Seribu sejak 2017. Menurutnya, suasana teduh di bawah naungan pohon cemara menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.
“Kalau tidak ada pohon cemara ini, mungkin pantai tidak seramai sekarang. Orang datang ke sini karena suasananya nyaman, tidak panas, dan enak untuk duduk santai. Awalnya tempat ini mulai dikunjungi dari 2017,” ujar Azharudin, Kamis (22/1).
Ia menuturkan, jumlah pengunjung mulai meningkat signifikan pada 2019 seiring pertumbuhan pohon cemara yang semakin tinggi dan rapat.
Banyak wisatawan memanfaatkan kawasan tersebut untuk bersantai, menikmati kuliner, hingga berfoto di antara deretan pohon yang kini menjadi ikon Pantai Pohon Seribu.
Di sepanjang kawasan pantai, pengunjung juga dapat menikmati beragam pilihan kuliner sederhana yang disediakan oleh pedagang setempat.
Menu yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari nasi goreng, mi rebus, mi goreng, ayam goreng, hingga berbagai camilan. Selain itu, tersedia pula menu khas olahan ikan karang yang dimasak dengan bumbu daerah, dikenal dengan sebutan gulai sabo.
“Bagi pengunjung yang mau bersantai lebih lama, ada juga aneka minuman seperti teh, kopi, es jeruk, serta berbagai jus buah segar,” katanya.
Azharudin menambahkan, keberadaan pohon cemara tidak hanya memperindah pantai, tetapi juga memberi dampak langsung terhadap perekonomian warga sekitar.
“Pohon Seribu ini tempat kami mencari nafkah. Kami sangat bergantung pada ramainya pengunjung,” jelasnya.
Salah seorang pengunjung, Riniyanti, 38, mengungkapkan biaya berwisata ke Pantai Pohon Seribu tergolong terjangkau bagi keluarga.
Ia mengatakan tersedia tempat duduk gratis untuk berkumpul bersama keluarga di bawah rindangnya pepohonan. “Jajanannya masih murah. Tempat ini pas jadi tempat liburan keluarga,” kata Rini.
Menurutnya, wahana ATV menjadi salah satu daya tarik tambahan di kawasan Pantai Pohon Seribu.Dengan menaiki kendaraan roda empat yang disewakan seharga Rp 100 ribu per jam, pengunjung dapat menyusuri jalur pantai yang teduh sambil menikmati panorama laut.
Perjalanan terasa santai karena dikelilingi pepohonan cemara yang rindang serta hembusan angin laut yang sejuk. Selain menikmati suasana pantai, pengunjung juga dapat membeli oleh-oleh khas pesisir sebelum pulang.
Beragam hasil laut seperti ikan asin dan aneka keripik olahan menjadi pilihan favorit wisatawan. Seiring waktu, Pantai Pohon Seribu terus berkembang sebagai destinasi wisata keluarga yang ramah dan nyaman.
Keberadaan kawasan tersebut tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga sumber penghidupan bagi warga sekitar. Pantai Pohon Seribu sekaligus menjadi bukti bahwa upaya konservasi alam dapat berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir. (*)
Editor : Adetio Purtama