”Signal kadang ada, kadang tidak, kami harus naik ke bukit kalau mau memakai internet,” ujar Hardiman, seorang warga Rurapatontang.
Cerita di atas bukanlah hal asing di delapan jorong terpencil Pasbar. Sejak lama, wilayah itu dikenal sebagai ”zona sunyi” karena tak tersentuh jaringan telekomunikasi. Dari telepon hingga internet, semuanya seakan berhenti di batas nagari.
Kini, secercah harapan muncul. Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat mengusulkan ke Kementerian Komunikasi dan Digital agar delapan jorong itu dibangun Base Transceiver Station (BTS).
”Proposalnya sudah kita sampaikan. Harapannya, masyarakat bisa keluar dari keterisoliran komunikasi,” kata Kepala Dinas Kominfo Pasbar, Armen.
Delapan Jorong yang Terisolasi
Delapan jorong tersebut terbentang di beberapa kecamatan, Rurapatontang di Nagari Parit (Kotobalingka), Ranahpanantian dan Pulau Panjang di Nagari Airbangis (Sungai Beremas), Guo dan Siligawangadang di Nagari Rabijonggor (Gunungtuleh), Tombang di Nagari Sinuruik (Talamau), serta Sarasahtalang dan Sarasahbetung di Nagari Sungai Aur.
Jarak dan kondisi geografis yang sulit ditempuh menjadi salah satu penyebabnya. Di musim hujan, jalan menuju wilayah itu licin dan berbahaya. Warga kerap merasa terputus dengan dunia luar.
Bagi banyak orang kota, internet mungkin sekadar hiburan. Namun bagi warga di jorong-jorong ini, akses sinyal berarti kehidupan. Guru bisa mengajar dengan materi digital, petani sawit dan karet bisa memantau harga pasar, dan warga bisa segera menghubungi petugas kesehatan saat darurat.
”Pernah ada ibu melahirkan yang harus ditandu berjam-jam karena tidak ada sinyal untuk menghubungi bidan,” kenang seorang tokoh masyarakat di Jorong Guo.
Inilah alasan Pemkab Pasbar berjuang agar BTS segera dibangun. Selain mendukung pendidikan, kesehatan, dan layanan publik, kehadiran jaringan juga diyakini membuka jalan bagi UMKM lokal untuk menembus pasar digital.
Menunggu Perubahan
Sebelumnya, Pasbar sempat mendapatkan bantuan akses internet berupa V-Sat dan beberapa tower dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti). Namun, jangkauannya terbatas. Karena itu, usulan pembangunan BTS baru menjadi angin segar.
Pemerintah daerah juga berharap perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Pasbar ikut berkontribusi menyediakan jaringan di wilayah sekitar mereka.
”Harapan kami sederhana. Kami ingin bisa berkomunikasi seperti orang lain. Bisa belajar, bisa bekerja, dan bisa cepat minta bantuan kalau ada bencana,” kata Amir, warga Jorong Tombang.
Di delapan jorong itu, suara dering telepon dan tanda notifikasi masih terasa asing. Namun bila BTS benar-benar berdiri, mungkin suatu hari kelak, warga tak perlu lagi mendaki bukit hanya untuk mendapatkan signal. Mereka akan benar-benar terhubung dengan dunia, menembus sunyi yang selama ini membelenggu. (*)
Editor : Eri Mardinal