Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kisah Mawi, Tukang Sol Sepatu di Pasaman Barat: Kalah oleh Belanja Online, Bangkit jadi Tukang Sol Sepatu

Fadli Zikri • Kamis, 18 Desember 2025 | 10:19 WIB

Mawi, tukang sol sepatu keliling, sedang beristirahat di becaknya.
Mawi, tukang sol sepatu keliling, sedang beristirahat di becaknya.
Di tengah padatnya lalu lintas dan riuh suara kendaraan yang melintas di Jalan M. Natsir, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, sebuah becak tua tampak terparkir rapi di tepi jalan. Di atas becak itulah tersusun peralatan sederhana berupa jarum, palu kecil, paku, benang nilon, hingga potongan karet sol sepatu. Tempat itu menjadi saksi perjuangan seorang pria paruh baya yang akrab disapa Mawi, tukang sol sepatu keliling yang telah enam tahun terakhir menggantungkan hidupnya dari pekerjaan tersebut.

Fadli Zikri, Pasaman Barat—

Setiap hari, sejak pagi hingga senja, Mawi duduk menunduk dengan tekun. Tangannya lincah bekerja, memperbaiki alas kaki para pelanggan yang datang silih berganti. Becak yang digunakannya bukan sekadar alat transportasi, melainkan bengkel berjalan yang setia menemaninya melewati hari demi hari.

Sesekali ia menyapa pelanggan, namun selebihnya ia bekerja dalam senyap, ditemani suara kendaraan yang bersaut-sautan.

Tak banyak yang mengetahui bahwa sebelum menekuni pekerjaan sebagai tukang sol sepatu, kehidupan Mawi pernah berjalan di jalur yang berbeda. Ia dulunya adalah penjual baju anak-anak yang biasa berjualan di pasar-pasar pekanan.

Usaha tersebut sempat berjalan cukup baik dan menjadi tumpuan utama ekonomi keluarganya selama bertahun-tahun.

“Dulu saya jualan baju anak-anak, penjual baju pekan-pekanan istilahnya. Tapi semenjak barang online ini masuk, usaha saya makin sepi yang beli,” ujar Mawi saat ditemui Padang Ekspres, Selasa (16/12).

Perubahan mulai terasa ketika belanja daring semakin marak di tengah masyarakat. Pelanggan satu per satu beralih ke toko online. Penjualan yang sebelumnya stabil perlahan menurun hingga akhirnya nyaris tak memberikan hasil. Ia mengaku tak mampu bersaing dengan harga murah serta kemudahan transaksi yang ditawarkan platform digital.

“Sejak orang-orang banyak beli online, dagangan saya makin sepi. Kadang baju tidak laku berhari-hari. Sedangkan modal saya sudah tertahan,” katanya lirih.

Dengan pemasukan yang semakin tidak menentu, Mawi harus memutar otak mencari jalan lain untuk bertahan hidup. Keputusan beralih profesi pun akhirnya ia ambil, meski tidak mudah.

Ia teringat seorang temannya yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu. Dari situlah ia mulai belajar, sebagian besar hanya dengan melihat dan memperhatikan cara kerja temannya tersebut.

“Saya lihat-lihat saja dulu, bagaimana motong sol, pasang, sampai dijahit. Waktu muda saya dulu juga bisa menjahit, jadi belajarnya cepat,” ungkapnya.

Berbekal keahlian menjahit yang dimilikinya sejak muda serta keberanian untuk mencoba, Mawi memberanikan diri membuka jasa sol sepatu. Modal yang dimilikinya sangat sederhana. Sebagian alat merupakan barang bekas, dan sebuah becak tua ia sulap menjadi lapak kerja sekaligus sarana berkeliling.

Pria berusia 66 tahun itu mengaku, pada awal menjalani usaha barunya, perjalanan tidak selalu mulus. Pelanggan masih sedikit dan kepercayaan harus dibangun secara perlahan.

Meski demikian, ia memilih untuk tetap bertahan. Ia percaya bahwa hasil kerja yang rapi dan kejujuran dalam bekerja akan menemukan jalannya sendiri.

“Yang penting hasilnya bagus. Kalau orang puas, biasanya balik lagi. Kalau pendapatan, kadang ada, kadang tidak ada,” tuturnya.

Selama enam tahun terakhir, becak sederhana tersebut menjadi saksi jatuh bangun usahanya. Beragam alas kaki pernah ia perbaiki, mulai dari sepatu sekolah anak-anak hingga sandal orang dewasa. Setiap pasang sepatu yang dikerjakannya membawa cerita dan harapan dari pemiliknya.

Di tengah terik matahari dan guyuran hujan, Mawi tetap duduk di tempat yang sama, setia menekuni pekerjaannya. Baginya, pekerjaan sebagai tukang sol sepatu bukan sekadar cara mencari uang, melainkan upaya untuk tetap berdiri di atas kaki sendiri demi memenuhi kebutuhan keluarga.

“Ini pekerjaan terakhir bagi saya di usia yang sudah tua ini, hanya untuk bertahan hidup,” ucapnya pelan.

Di atas becak tua dan peralatan sederhana itu, Mawi membuktikan bahwa roda kehidupan memang dapat berputar ke arah yang tak terduga. Namun selama tangan masih mau bekerja dan kesabaran tetap terjaga, selalu ada jalan untuk bertahan. (*)

Editor : Adetio Purtama
#belanja online #pasaman barat #sol sepatu