Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Akses Jalan Maligi–Sasak Terputus, Warga Terpaksa Gunakan Perahu Ponton

Fadli Zikri • Rabu, 7 Januari 2026 | 12:28 WIB

PERAHU PONTON: Warga Maligi sedang menyeberang menggunakan perahu ponton di Bancah Galinggang, Kecamatan Sasak Ranah Pesisir, Selasa (6/1).
PERAHU PONTON: Warga Maligi sedang menyeberang menggunakan perahu ponton di Bancah Galinggang, Kecamatan Sasak Ranah Pesisir, Selasa (6/1).

PADEK.JAWAPOS.COM-Akses jalan utama yang menghubungkan Maligi dengan Sasak hingga kini masih terputus pascabanjir beberapa bulan lalu di Kecamatan Sasak Ranah Pesisir, Kabupaten Pasaman Barat.

Kondisi tersebut berdampak kepada warga Maligi sehingga harus menggunakan perahu ponton untuk menyeberang jika hendak menuju Sasak maupun daerah lainnya.

Pantauan di lapangan pada Selasa (6/1) menunjukkan, jalan yang sebelumnya menjadi jalur utama warga amblas di beberapa titik. Akibatnya, kendaraan roda dua maupun roda empat tidak bisa melintas.

Warga Maligi yang hendak keluar dan masuk harus menggunakan kendaraan roda dua untuk menyeberang menggunakan jasa ponton yang disediakan masyarakat setempat.

Situasi ini menyulitkan warga, terutama bagi mereka yang memiliki keperluan mendesak seperti bekerja, berobat, maupun mengantar anak ke sekolah.

Proses penyeberangan membutuhkan waktu dan tenaga ekstra serta berisiko, terutama saat debit air sungai meningkat.

Sekretaris Camat Sasak Ranah Pesisir, Dendi Hardiman, menjelaskan, kondisi jalan di Bancah Galinggang telah berlangsung sejak banjir melanda kawasan itu beberapa bulan lalu.

Sehingga aktivitas warga Maligi menjadi terganggu karena jalan tersebut merupakan satu-satunya akses darat menuju pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan.

“Ini sudah terjadi sejak masa banjir pada beberapa bulan yang lalu. Jalan ini sangat penting karena menjadi penghubung utama warga Maligi ke Sasak,” ujar Dendi Hardiman, Selasa (6/1).

Ia mengungkapkan, pihak kecamatan bersama masyarakat dan pemerintah kecamatan sebenarnya sudah berupaya melakukan penanganan.

Bahkan, perbaikan jalan telah dilakukan sebanyak tiga kali, baik melalui swadaya masyarakat maupun bantuan dari pemerintah.

“Upaya yang dilakukan berupa penimbunan di beberapa titik jalan yang amblas agar bisa kembali dilalui. Namun, karena curah hujan yang tinggi, jalan tersebut kembali amblas dan tidak bisa dilewati,” kata Sekretaris Camat.

Ia menambahkan, genangan air yang terus terjadi di badan jalan membuat material timbunan tidak bertahan lama. Kondisi ini menyebabkan jalan kembali rusak meski sudah diperbaiki berulang kali.

Dendi Hardiman menyampaikan, telah berkoordinasi dengan pemerintah terkait untuk penanganan lebih lanjut. Bahkan, peninjauan langsung ke lokasi juga sudah dilakukan beberapa waktu lalu guna mencari solusi permanen.

“Kami berharap penanganan bisa segera dilakukan karena di Maligi terdapat sekitar 1.249 KK yang sangat bergantung pada akses jalan ini, dan warga Sikilang juga biasa melewati jalan tersebut,” ungkapnya.

Sementara itu, Indra Suhendri, 50, salah seorang warga yang menyediakan jasa perahu ponton, membenarkan bahwa jalan tersebut sudah tiga kali diperbaiki, namun kembali amblas.

Tingginya curah hujan menjadi faktor utama rusaknya jalan yang sudah diperbaiki. “Air tergenang di jalan yang sudah ditimbun, jadi lama-lama tanahnya turun lagi. Akhirnya warga kembali harus pakai ponton,” tutur Indra Suhendri.

Ia menjelaskan, untuk jasa penyeberangan ponton, pihaknya mematok tarif Rp10 ribu untuk pulang pergi. Akan tetapi, tarif tersebut tidak bersifat mengikat dan tidak memaksa warga.

“Kalau ada yang tidak mampu, kami juga tidak mengharuskan membayar segitu, kadang seberapa ikhlasnya saja,” pungkasnya.

Kondisi ini juga dirasakan oleh para tenaga pendidik. Erwin Zadi Putra, seorang guru disalah satu sekolah di Maligi, mengaku kesulitan setiap kali berangkat dan pulang mengajar karena harus dua kali naik ponton.

“Selain memakan waktu lebih lama, biaya juga bertambah. Cukup memberatkan, apalagi ini jalan satu satunya yang harus dilalui setiap hari,” ungkap Erwin.

Warga berharap pemerintah segera melakukan penanganan serius agar akses jalan Maligi–Sasak dapat kembali normal. Jalan tersebut dinilai sangat vital bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari masyarakat Maligi. (cr6)

Editor : Novitri Selvia
#Ranah Pesisir #Sasak #jalan putus #Maligi Pasbar #jalan amblas