Pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Nagari Bahagia, Zulkifli Harahap, mendesak pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi krisis air tersebut.
“Kalau pemerintah turun minggu ini, ribuan petani bisa terselamatkan,” ujarnya, Sabtu (9/8/2025).
Sonnip Pasaribu, petani asal Tanjung Aro, menyebut padi di wilayah Tanjung Aro, Pagaran Tobing, Sinonoan, Lubuk Torop, Pegang Baru, dan Durian Kadap mulai mengering. Sebagian besar sawah sudah retak karena kekurangan air.
“Meskipun ada pembangunan bendungan Panti-Rao, air tidak sampai ke sawah kami. Padahal ada solusi, yaitu mengaktifkan kembali bendungan lama di Sinonoan yang bersumber dari Sungai Batang Rambah. Tapi kondisinya dangkal dan tidak layak,” jelasnya.
Upaya swadaya warga untuk memperbaiki saluran air sudah dilakukan, namun dana yang terkumpul tidak mencukupi. Mereka meminta Pemerintah Provinsi Sumbar, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumbar, dan instansi terkait segera melakukan normalisasi sungai serta perbaikan pintu air.
Zulkifli menegaskan normalisasi bendungan Batang Rambah akan menyelamatkan ratusan hektare sawah. “Kami bahkan sudah membuat jadwal giliran air, tapi tetap tidak mencukupi,” katanya.
Kontraktor Diminta Bijak
Selain itu, warga meminta kontraktor proyek pembangunan irigasi agar memperhatikan kebutuhan petani dengan mengatur pekerjaan secara bergiliran.
“Separuh saluran dikerjakan, separuhnya tetap dialiri air agar suplai tidak terputus total,” ujar Zulkifli.
Penjaga pintu air Nagari Bahagia, Salman Alparis, menegaskan bendungan Batang Rambah di Sinonoan telah menjadi sumber utama air persawahan sejak lama.
“Kalau tidak segera diperbaiki, petani akan kesulitan ekonomi. Gagal panen bisa memicu kemiskinan dan kelaparan di daerah ini,” tegasnya.(roy)