Kapolres Payakumbuh AKBP Wahyuni Sri Lestari bertindak selaku Irup di lokasi makam pejuang Situjuah Banda Dalam bersama beberapa perwakilan Forkopimda lainya.
Dari kutipan sejarah Peristiwa Situjuah, tercatat sebanyak 69 orang pejuang gugur dalam mempertahankan NKRI, beberapa nama diantaranya sangat tidak asing di telinga warga Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota yakni Khatib Sulaiman, Kapten Tantawi, mantan Bupati Limapuluh Kota Arisun St Alamsyah serta beberapa nama lain yang gugur bersama 60 pejuang lainnya.
Dalam pelaksanaan ziarah makam juga dilakukan prosesi tabur bunga yang dilakukan Kapolres Payakumbuh selaku irup serta beberapa peserta ziarah lainya. Setidaknya ada delapan jasad pejuang Peristiwa Situjuh yang dimakamkan di Makam Pejuang Situjuah Banda Dalam tersebut.
Selain Kapolres Payakumbuh upacara Peristiwa Situjuh turut dihadiri jajaran forkopimda Provinsi Sumbar, anggota DPR-RI serta jajaran forkopimda Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Pada pelaksanaan upacara tersebut Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy bertindak selaku inspektur upacara.
Peristiwa Situjuah merupakan suatu peristiwa penyerangan oleh pasukan penjajah Belanda terhadap para pejuang kemerdekaan Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang menewaskan beberapa orang pimpinan pejuang dan puluhan orang anggota pasukan lainnya.
Ditemui pasca pelaksanaan upacara, Kapolres AKBP Wahyuni Sri Lestari menuturkan upacara peringatan Peristiwa Situjuah yang diadakan setiap tanggal 15 Januari merupakan bentuk mengenang dan menghargai jasa para pahlawan.
“Ini merupakan cara kita mengenang dan menghargai jasa para pejuang, untuk memberitahu kepada anak cucu kita terkait peristiwa bersejarah di daerah,” terangnya.
Walaupun bukan asli urang awak, Kapolres berharap ke depan peringatan peristiwa-peristiwa bersejarah di Sumbar dapat disemarakkan, karena pastinya banyak peristiwa penting yang terjadi di Sumbar.
Dalam rangkaian upacara tersebut juga, Wakil Gubernur Audy Joinaldy juga berkesempatan berikan penghargaan kepada beberapa individu dari masyarakat Nagari Situjuah Batua atas konsistensi dan kepedulian pada PDRI dan Peristiwa Situjuah yang mana Kapolsek Situjuh AKP Farzan salah satu diantara penerima penghargaan tersebut.
Momentum Mempertahankan Kemerdekaan
Sementara itu, Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy mengatakan peristiwa Situjuah merupakan salah satu rangkaian perjuangan bangsa Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dalam kurun waktu 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949.
Dalam salah satu mata rantai perjuangan PDRI itulah terjadi suatu peristiwa pada tanggal 15 Januari 1949, dimana puluhan orang pejuang yang terdiri dari beberapa pimpinan dan puluhan anggota pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK) tewas seketika diberondong tembakan oleh pihak penjajah Belanda.
Peristiwa itu terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.
Malam sebelumnya pada 14 Januari 1949 para pejuang tersebut mengadakan rapat untuk membahas strategi dalam menghadapi agresi yang dilakukan pihak Belanda yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II.
“Rapat itu atas instruksi Gubernur Militer Sumatera Tengah Sutan Mohammad Rasjid dan dipimpin oleh Chatib Sulaiman selaku Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah,” tutur Audy.
Selain itu rapat juga diikuti oleh beberapa orang pimpinan pejuang lainnya, diantaranya Arisun Sutan Alamsyah yakni Bupati Militer Lima Puluh Kota, Letnan Kolonel Munir Latief, Mayor Zainuddin, Kapten Tantawi, Lettu Azinar, Letda Syamsul Bahri serta 69 orang pasukan BPNK.
“Peristiwa Situjuah ini harus dijadikan sebagai inspirasi dan motivasi bagi kita semua untuk meneruskan perjuangan dalam membangun bangsa dan negara yang kita cintai,” ujar Audy.
Wagub mengatakan bahwa darah perjuangan yang diwariskan para pejuang kepada generasi yang gugur pada peristiwa Situjuah harus tetap dilanjutkan demi keberlangsungan NKRI.
Sementara Bupati Lima Puluh Kota Safaruddin Datuak Bandaro Rajo mengatakan bahwa Hari ini momen masyarakat untuk mengenang kembali Peristiwa Situjuah.
“Dalam momen ini, saya ingin mengingatkan kita semua, bahwa di saat mana para pejuang kita berkorban nyawa, bahkan harta untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, mari kita isi kemerdekaan ini dengan semangat rela berkorban dan saiyo sakato untuk membangun dan memajukan kabupaten Lima Puluh Kota khususnya, dan Indonesia yang kucinta, umumnya,” ujar Bupati Safaruddin.
Bupati menambahkan, Peristiwa Situjuah salah satu bukti nyata perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan. (fdl) Editor : Novitri Selvia