PADEK.JAWAPOS.COM-Untuk membangun masyarakat yang lebih sehat, kebijakan jangka panjang yang fokus pada hulu pangan harus digencarkan.
Salah satu langkah penting adalah beralih dari pertanian anorganik ke pertanian organik, sehingga produk pangan yang dihasilkan bebas dari residu kimia berbahaya.
“Tidak hanya sehat, banyak dampak positif yang bisa kita petik dari arah kebijakan yang sehat ini. Selain produksi pangan yang sehat, lingkungan alam juga bisa diperbaiki akibat penggunaan bahan kimia pada pola pertanian yang bergantung pada produk-produk kimia seperti saat ini,” ucap salah seorang pegiat pertanian organik, Masril, Minggu (22/9).
Kemudian dari sisi ekonomi, produk pertanian organik akan mampu bersaing di pasar yang lebih luas, termasuk di pasar ekspor. Bahkan akhir-akhir ini, masyarakat lokal juga sudah jauh lebih paham bagaimana dampak pertanian anorganik dengan jejak residu pestisida yang tinggi berbahaya untuk kesehatan manusia.
Sehingga produk-produk organik menjadi hal yang selalu dicari saat ini, meski masih sangat sulit menemukannya.
“Kita sangat berharap kepada Pemerintah Kota Payakumbuh atau Kabupaten Limapuluh Kota melangkah cepat menuju pertanian organik. Bisa dimulai dengan memberikan stimulus bagi para petani untuk bisa memproduksi kebutuhan pertanian secara organik dan mensinergikan dengan seluruh upaya peningkatan produktivitas pertaniannya secara optimal,” kata Masril lagi.
Konkretnya, kata Masril, ketimbang memberikan subsidi pupuk anorganik atau pupuk kimia, alangkah lebih baik memberikan bantuan kepada petani untuk memproduksi pupuk organik sendiri dan dimanfaatkan untuk pertanian masing-masing.
“Kita sangat yakin, dengan pola ini, akan menjadikan Payakumbuh sebagai sumber pangan sehat dan akan terus jadi incaran pasar. Bahkan hal ini, kita yakini akan menjadikan Payakumbuh sebagai kota pusat tujuan kuliner sehat yang dibutuhkan. Bukan lagi sebagai kota persinggahan,” sebut Masril optimistis.
Melihat lebih dalam soal pertanian anorganik dengan sistem pertanian yang menggunakan bahan kimia sintetik, seperti pupuk dan pestisida, dalam proses produksinya.
Pertanian anorganik yang dikenal sebagai pertanian modern ini, telah merusak dengan masif simpul-simpul pertanian petani hingga ke sudut-sudut perkampungan.
Penambahan bahan kimia sintetis sebagai unsur hara, seperti UREA, TSP, KCL, dan SP-36 misalnya, telah merubah struktur alami tanah dengan penggunaannya, apalagi jika dilakukan secara berlebihan. Berbeda dengan pola organik yang menggunakan bahan-bahan alami.
“Pertanian organik menggunakan pertimbangan alam untuk pengendalian hama dan penyakit, tidak seperti pola pertanian anorganik menggunakan pestisida dan zat kimia lainnya. Hal ini harus menjadi kebijakan kepala daerah kedepan, bukan hanya sebatas slogan saja,” kata Masril yang yakin Payakumbuh bisa melakukannya.
Sekedar diketahui, beberapa negara seperti Malaysia, Singapura dan Uni Eropa mempersyaratkan produk hortikultura memenuhi Batas Maksimum Residu (BMR) yang rendah.
Bahkan di Indonesia juga sudah ada regulasi yang mengatur tentang BMR pestisida yaitu SNI 7313:2008 tentang batas maksimum residu pada hasil pertanian.
SNI mengacu pada kadar BMR maksimal 15 mg/kg. Sementara Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian No. 881/MENKES/SKB/VIII/1996, 711/Kpts/TP.270/8/1996 menetapkan BMR pestisida adalah 0,05 ppm.
“Pemeriksaan reguler terhadap residu pestisida dan cemaran kimia dan biologi pada buah atau sayuran yang akan diekspor harus dilakukan instansi terkait yakni Dinas Pertanian. Khususnya pemenuhan persyaratan keamanan pangan. Tentu dengan pola organik, kesempatan petani untuk melakukan lompatan besar akan bisa diwujudkan,” harap Masril.
Hal itu juga diungkapkan, Yarhamukallah, petani muda Kota Payakumbuh. Menurutnya, komitmen pemerintah sangat penting untuk mendorong pertanian organik sekaligus untuk kesejahteraan petani dan memperbaiki lingkungan serta kesehatan masyarakat lewat pangan sehat dari hulu pertanian.
“Jika kita tidak kembali pada pola pertanian organik, tidak lama lagi bisa-bisa kita akan menuju kemunduran pertanian, dampak kesehatan jangka panjang dan kerusakan lingkungan yang sulit dikendalikan. Kita berharap pemimpin Payakumbuh ke depan bisa menjadikan kebijakan pertanian organik sebagai salah prioritas,” ucap Yarhamukallah, kamarin.
Salah seorang kandidat calon Wali Kota Payakumbuh, dr Zulmaeta yang sempat berdiskusi dengan Padang Ekspres, Minggu (22/9) sore, merasa kebutuhan pertanian sehat sangat vital untuk masa depan Payakumbuh dan masyarakatnya.
Sehingga pola pertanian organik menjadi salah satu prioritas baginya jika nanti dipercayakan masyarakat Payakumbuh.
“Disamping aman untuk lingkungan juga hasil produknya bernilai jual tinggi. Berkaca pada kondisi saat ini, produksi kita masih kalah bersaing dengan Thailand yang sudah lama menggunakan pola pertanian organik,” sebut dokter yang juga pengusaha perkebunan Kelapa Sawit ini, kemarin. (fdl)
Editor : Novitri Selvia