PADEK.JAWAPOS.COM-Antrean kendaraan terlihat padat merayap hampir setiap pagi di Kota Payakumbuh setelah akses jalan Payakumbuh–Padang melalui Lembah Anai terputus akibat banjir dan longsor beberapa waktu lalu.
Meski antrean terjadi di sejumlah SPBU, Pemko Payakumbuh memastikan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) menjelang akhir tahun tetap dalam kondisi aman.
“Antre sekitar satu sampai dua jam. Sejak jalan Lembah Anai putus, ini sudah biasa. Mudah-mudahan ke depan lebih baik. Kita berharap akses jalan dan distribusi BBM kembali lancar,” ujar Albakri, seorang pemilik kendaraan angkutan barang, Kamis pagi (11/12).
Kendaraan tampak berjejer sepanjang Jalan Pahlawan, Sawah Padang, di salah satu SPBU di Payakumbuh. Kondisi serupa terlihat di Jalan Soekarno-Hatta dan SPBU Ngalau. Pengendara mengantre untuk mendapatkan Solar dan Pertalite.
“Antre sekitar satu atau dua jam. Namun ada sopir yang memarkir kendaraan sejak Subuh agar mendapatkan antrean lebih awal,” ujar seorang pengendara lainnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Payakumbuh melalui rilis Media Center memastikan ketersediaan BBM di daerah tersebut tetap berada pada level aman menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Kepastian ini disampaikan setelah Tim Monitoring Pengawasan BBM Kota Payakumbuh melakukan pengecekan ke sejumlah SPBU pada Selasa (9/12).
Hasil monitoring menunjukkan seluruh SPBU di Payakumbuh memiliki stok yang memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun distribusi BBM diakui mengalami kendala akibat bencana alam yang melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat.
Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Payakumbuh, Arif Siswandi, menjelaskan waktu tempuh pengiriman dari Terminal BBM Teluk Kabung, Padang, yang biasanya 6–7 jam, kini menjadi lebih lama.
“Perjalanan distribusi terhambat karena kondisi bencana di hampir seluruh wilayah Sumbar. Ini membuat proses pengiriman tidak secepat biasanya,” ujar Arif.
Meski begitu, ia menegaskan stok BBM tetap terkendali. Pemerintah juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
“Kami mengimbau masyarakat tidak panic buying karena hal itu justru dapat menimbulkan kelangkaan baru dan memicu antrean panjang di SPBU,” ujarnya. (fdl)
Editor : Novitri Selvia