Bongko, kue berbungkus daun pisang berbahan tepung beras, santan, gula aren, dan air pandan, diproduksi di sebuah dapur sederhana di kawasan Padang Karambi, Kecamatan Payakumbuh Selatan, Sumatera Barat.
Setiap hari selama Ramadan, tiga perempuan terlihat membungkus adonan hijau ke dalam lipatan daun pisang sebelum mengukusnya hingga matang, menghasilkan aroma khas yang tercium kuat dari dapur produksi.
Kue tradisional ini dikenal sebagai penganan musiman yang hampir hanya tersedia saat Ramadan dan menjadi pilihan warga sebagai menu pembuka puasa.
Salah seorang pembuat bongko, Titi Amur, menyebutkan bahwa permintaan meningkat signifikan selama bulan puasa dibandingkan hari biasa di luar Ramadan.
Dalam satu hari, Titi mampu menjual hingga 400 bungkus bongko yang seluruhnya habis terjual.
“Hanya ada saat Ramadan, jadi banyak yang mencari. Alhamdulillah, setiap hari habis,” ujar Titi.
Ia memproduksi dua varian, yakni original dan campuran roti, yang masing-masing dijual dengan harga Rp6.000 per bungkus.
Menurutnya, meski jajanan modern terus bermunculan dan mendominasi lapak takjil di berbagai titik Kota Payakumbuh, bongko tetap memiliki peminat tersendiri.
Kehadiran bongko selama Ramadan menjadi bagian dari kebiasaan kuliner masyarakat yang mempertahankan cita rasa lama di tengah perubahan tren makanan berbuka puasa.
Produksi dilakukan setiap hari selama bulan Ramadan untuk memenuhi permintaan warga yang mencari kue tradisional tersebut.
Dengan kapasitas penjualan mencapai ratusan bungkus per hari, bongko menjadi salah satu takjil tradisional yang tetap bertahan di tengah persaingan jajanan kekinian.
Aktivitas produksi dan penjualan berlangsung sepanjang Ramadan di kawasan Padang Karambi, Kecamatan Payakumbuh Selatan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kue tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat, khususnya saat momen Ramadan yang identik dengan ragam hidangan berbuka puasa.(*)
Editor : Hendra Efison