Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

UGM Kembangkan Microforest: Inovasi Ciptakan Udara Bersih

M Algredi • Minggu, 20 April 2025 | 14:19 WIB

Pengembangan Teknologi Microforest diinisiasi oleh Guru Besar Teknik Kimia Fakultas Teknik, Prof Arief Budiman dan Dosen Fakultas Biologi Dr Eko Agus Suyono.
Pengembangan Teknologi Microforest diinisiasi oleh Guru Besar Teknik Kimia Fakultas Teknik, Prof Arief Budiman dan Dosen Fakultas Biologi Dr Eko Agus Suyono.
PADEK.JAWAPOS.COM -- Universitas Gadjah Mada (UGM) telah mengembangkan teknologi inovatif bernama Microforest, yang dirancang untuk mendukung upaya dekarbonisasi dan keberlanjutan lingkungan.

Teknologi ini berbasis mikroalga, yang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menyerap karbon dioksida (CO2) dan menghasilkan oksigen (O2).

Manfaat dan potensi Microforest dalam keberlanjutan Lingkungan, juga membantu mengurangi emisi karbon di lokasi-lokasi dengan tingkat polusi tinggi.

Teknologi ini mendukung target Net Zero Carbon yang dicanangkan oleh berbagai negara dan perusahaan.

Microforest sangat efisiensi ruang karena tidak membutuhkan lahan luas, Microforest menjadi solusi ideal untuk kota-kota besar dengan keterbatasan ruang hijau.

Dengan fitur seperti layar indikator karbon yang terserap, Microforest juga berfungsi sebagai alat edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya dekarbonisasi.

Microforest menjadikan microalga sebagai produk yang futuristik dengan penambahan fitur-fitur seperti layar indikator karbon dioksida yang terserap sehingga menghasilkan oksigen.

Microforest didesain fungsional, dan juga estetis, sehingga dapat ditempatkan di dalam ruangan atau lobi gedung.

Keunggulannya terletak pada kemampuannya menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen di lokasi yang tidak memungkinkan ditumbuhi tanaman.

Teori dan Fakta di Balik Microforest

Mikroalga sebagai Solusi Dekarbonisasi, dikenal memiliki kemampuan menyerap CO2 hingga 30-50 kali lebih banyak dibandingkan tanaman darat biasa.

Proses ini melibatkan fotosintesis, di mana mikroalga mengubah CO2 menjadi oksigen dan biomassa.

Teknologi ini diinisiasi oleh Guru Besar Teknik Kimia Fakultas Teknik, Prof. Ir. Arief Budiman, D.Eng. dan Dosen Fakultas Biologi Dr. Eko Agus Suyono.

Keduanya merupakan Peneliti Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUIPT) Microalgae Biorefinery UGM.

Microforest menggunakan sistem Fotobioreaktor yang dimodifikasi untuk mengoptimalkan penyerapan karbon.

Sistem ini memungkinkan mikroalga tumbuh dalam media cair dengan pencahayaan yang diatur secara khusus untuk meningkatkan efisiensi fotosintesis.

Microforest dirancang agar estetis dan fungsional, sehingga dapat ditempatkan di ruang terbuka maupun dalam ruangan seperti lobi gedung.

Microforest adalah pengembangan lanjutan dari Algaetree, dengan kapasitas media kultivasi 100 liter, alat ini mempunyai kemampuan penyerapan karbon hingga 37,6 kilogram CO2 per tahun, atau setara dengan kemampuan penyerapan karbon oleh 4 pohon dewasa.

Teknologi ini telah dipasang di lokasi seperti Masjid Raya Syeikh Zayed Solo dan kantor pusat PT Pertamina EP Cepu Regional 4. Microforest cocok untuk area dengan keterbatasan lahan hijau.

UGM bekerja sama dengan PT Algatech Nusantara dan PT Enthalphy Environergy Consulting untuk mengembangkan dan memasarkan teknologi ini, dan mendukung komitmen Indonesia bebas karbon di tahun 2060 mendatang.

Microforest telah mendapat respons positif dari berbagai industri yang tengah berupaya menerapkan dekarbonisasi untuk memperkuat komitmen ESG (Environmental, Social, Governance)

Microforest adalah inovasi modern yang menggabungkan teknologi keberlanjutan untuk mengatasi tantangan perubahan iklim. Dengan kemampuan menyerap karbon yang tinggi dan desain yang fleksibel, teknologi ini memiliki potensi besar untuk diterapkan di berbagai sektor.(*)

Editor : Hendra Efison
#Inovasi Ciptakan Udara Bersih #UGM Kembangkan Microforest