Mereka adalah Yancway, S.Pd, dan Welmina Imbiri, yang menempuh ribuan kilometer dari Sorong Selatan, Papua Barat Daya, demi satu momen berharga: menyaksikan Stevanus Aser Way diwisuda.
Perjalanan menuju Kota Padang bukan hal mudah bagi pasangan ini. Tiket pesawat telah mereka pesan jauh hari, disisihkan dari hasil tabungan bertahun-tahun. Semua demi janji sederhana: hadir di hari kelulusan anak mereka.
“Saya tidak ingin melewatkan hari penting ini. Ini buah kerja keras Stevanus selama bertahun-tahun jauh dari keluarga,” tutur Yancway dengan mata berkaca.
Stevanus, lulusan Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta, berhasil menamatkan studi dengan IPK 3,48, menjadikannya lulusan terbaik di tingkat program studi.
Bagi Yancway dan Welmina, melihat anaknya berdiri di barisan sarjana bukan hanya kebanggaan, melainkan juga bukti nyata bahwa pendidikan bisa menembus batas geografis.
“Semoga ilmu yang ia dapat di Universitas Bung Hatta bermanfaat bagi banyak orang, terutama bagi kami di tanah Papua,” ujarnya lirih.
Kisah keluarga ini menjadi simbol bagaimana pendidikan mampu menghubungkan dua dunia — antara timur yang jauh dan barat yang terbuka — dalam semangat yang sama: menuntut ilmu demi masa depan.
Wisuda di Tengah Akreditasi Unggul
Momen wisuda ke-84 Universitas Bung Hatta tahun ini terasa istimewa. Selain melantik 368 wisudawan pada hari pertama, universitas ini juga merayakan akreditasi Unggul dari LLDIKTI Wilayah X — peringkat tertinggi di antara 115 perguruan tinggi di wilayah tersebut.
Rektor Universitas Bung Hatta dalam sambutannya menegaskan, “Wisuda bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk mengamalkan ilmu dan menciptakan karya.”
Ia juga mengajak lulusan melanjutkan studi ke jenjang magister yang telah dibuka universitas, seperti Magister Manajemen, Akuntansi, Hukum, hingga Pendidikan Dasar.
Ketua Badan Pembina Yayasan Pendidikan Bung Hatta, Prof. Ganefri, berpesan agar para lulusan menjadikan Bung Hatta sebagai teladan hidup.
“Bung Hatta mengajarkan kesederhanaan dan integritas. Jadikan itu fondasi dalam membangun bangsa,” ujarnya.
Sementara perwakilan Gubernur Sumbar, Ahmad Zakri, S.Sos., M.Si., mengingatkan bahwa lulusan harus menjadi agen perubahan dan siap menghadapi dunia kerja yang kompetitif.
LLDIKTI Wilayah X, Afdalisma, S.H., M.Pd., menambahkan, “Di era digital, keterampilan dan etika adalah kunci. Jadilah lulusan unggul, adaptif, dan berintegritas.”
Pendidikan yang Menyatukan
Ketika upacara berakhir, Stevanus menunduk, menyalami kedua orang tuanya. Di pelukan itu, semua jarak, lelah, dan kerinduan seolah luruh.
“Semua perjuangan ini terbayar,” ucap Yancway pelan, menatap toga hitam yang kini menjadi simbol harapan baru.(*)
Editor : Hendra Efison