Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Unand Turun Tangan Pulihkan Salarehaia Pascagalodo

Rommy Delfiano • Rabu, 18 Februari 2026 | 12:24 WIB

Tim Program Mahasiswa Berdampak (PMB) BEM KM Universitas Andalas hadir, bukan sekadar membawa bantuan, tetapi bekerja langsung memulihkan lingkungan dan menata ulang harapan warga.
Tim Program Mahasiswa Berdampak (PMB) BEM KM Universitas Andalas hadir, bukan sekadar membawa bantuan, tetapi bekerja langsung memulihkan lingkungan dan menata ulang harapan warga.
PADEK.JAWAPOS.COM—Banjir bandang dan longsor (galodo) yang menerjang Nagari Salarehaia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, menyisakan lumpur, puing, dan trauma.

Di tengah situasi itu, Tim Program Mahasiswa Berdampak (PMB) BEM KM Universitas Andalas hadir, bukan sekadar membawa bantuan, tetapi bekerja langsung memulihkan lingkungan dan menata ulang harapan warga.

Program ini bagian dari Program Mahasiswa Berdampak di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Fokusnya jelas: pemulihan lingkungan dan penguatan ketahanan masyarakat di daerah terdampak bencana.

Selama tiga hari, 2–4 Februari 2026, tim bergerak melakukan reaktivasi lingkungan. Mereka membersihkan jalan, tempat ibadah, dan fasilitas sosial dari timbunan tanah, lumpur, serta puing yang terbawa arus banjir. Aktivitas yang sempat lumpuh perlahan kembali berjalan.

Tak hanya fasilitas umum, perhatian juga diarahkan ke Hunian Sementara (Huntara) Kayu Pasak yang ditempati warga terdampak. Area hunian dibersihkan untuk menciptakan ruang tinggal yang lebih sehat dan aman.

Bagi warga yang kehilangan rumah, langkah ini bukan hal kecil. Lingkungan yang bersih menjadi titik awal memulihkan rasa aman.

Ketua Tim PMB BEM KM Universitas Andalas Dr Eng Ir Dendi Adi Saputra didampingi anggota Dr Dian Hafizah dan Ade Suzana Ekaputri PhD menegaskan, reaktivasi lingkungan adalah pondasi awal sebelum program lanjutan dijalankan.

“Kami ingin memastikan masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan layak. Pemulihan fisik lingkungan harus berjalan seiring dengan penguatan ketahanan jangka panjang,” ujarnya.

Langkah jangka panjang itu diwujudkan lewat penghijauan pada 5 Februari 2026. Di wilayah yang terdampak longsor, mahasiswa bersama warga menanam bibit petai, jengkol, dan pinang. Tanaman tersebut dipilih bukan tanpa alasan: sistem perakarannya kuat untuk menahan struktur tanah, sekaligus memiliki nilai ekonomis.

Pendekatan ini memadukan aspek ekologis dan ekonomi. Di satu sisi, vegetasi baru diharapkan mampu mengurangi risiko longsor di masa mendatang. Di sisi lain, hasil panennya kelak dapat menjadi tambahan sumber pendapatan masyarakat. Mitigasi dan keberlanjutan dirancang berjalan beriringan.

Program ini tidak berhenti pada bersih-bersih dan tanam pohon. Tim PMB BEM KM Universitas Andalas menyiapkan agenda lanjutan selama 20 hari ke depan.

Beberapa di antaranya adalah kegiatan psiko-sosial untuk membantu pemulihan mental warga, penyediaan sistem filtrasi air bersih, serta pengembangan pertanian hidroponik.

Agenda psiko-sosial menjadi krusial mengingat bencana tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga meninggalkan tekanan psikologis.

Sementara itu, sistem filtrasi air bersih diharapkan menjawab persoalan sanitasi yang kerap muncul pascabencana. Program hidroponik disiapkan sebagai alternatif produktivitas di tengah keterbatasan lahan terdampak.

Yang menarik, seluruh kegiatan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat. Pendekatan kolaboratif ini membuat program tidak terasa sebagai proyek singkat, melainkan proses bersama membangun kembali nagari.

Program Mahasiswa Berdampak yang dijalankan BEM KM Universitas Andalas menunjukkan peran mahasiswa tidak berhenti di ruang kelas atau forum diskusi.

Di Salarehaia, mahasiswa hadir dengan kerja nyata, mengangkat lumpur, menanam bibit, dan menyusun langkah pemulihan berkelanjutan. Di tengah meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi, model intervensi seperti ini menjadi relevan. 

Pemulihan tidak hanya soal bantuan instan, tetapi juga tentang membangun daya tahan lingkungan dan sosial. Bagi warga Nagari Salarehaia, kehadiran Tim PMB BEM KM Universitas Andalas bukan sekadar solidaritas sesaat. Ia menjadi simbol bahwa proses bangkit dari bencana membutuhkan kolaborasi, konsistensi, dan keberpihakan pada masa depan. (rdo)

Editor : Adetio Purtama
#Salarehaie #pascagalodo #unand