Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Wisata Mandeh Terbengkalai, Pengelolaan Dinilai Gagal

Yoni Syafrizal • Senin, 14 April 2025 | 11:37 WIB

KECEWA: Bupati Pessel, Hendrajoni, saat meninjau kondisi fasilitas di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Mandeh, Kamis (5/4).(KOMINFO UNTUK PADEK)
KECEWA: Bupati Pessel, Hendrajoni, saat meninjau kondisi fasilitas di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Mandeh, Kamis (5/4).(KOMINFO UNTUK PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Mandeh, yang selama ini digadang-gadang sebagai “Raja Ampat-nya Sumatera Barat”, kini justru memperlihatkan wajah muram.

Banyak fasilitas penunjang wisata di kawasan unggulan ini mengalami kerusakan dan terbengkalai. Situasi tersebut menjadi sorotan tajam Bupati Pesisir Selatan (Pessel), Hendrajoni, yang turun langsung meninjau kondisi lapangan, Kamis (5/4).

Dalam kunjungan kerjanya bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), anggota DPRD daerah pemilihan II, serta sejumlah pemangku kepentingan, Bupati Hendrajoni menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap minimnya pengelolaan fasilitas yang sebelumnya dibangun dengan dana besar.

“Bangunan, fasilitas, dan utilitas yang ada di kawasan ini sangat potensial. Namun sayangnya, tidak dimanfaatkan dengan baik. Akibatnya, masyarakat tidak merasakan manfaat langsung dari keberadaan infrastruktur ini,” ujar Hendrajoni saat meninjau Gedung Pusat Informasi Pariwisata (Tourism Information Center/TIC), sentra IKM pengolahan hasil perikanan, dan Pasar Modern Carocok Mandeh.

Gedung TIC yang menjadi ikon baru sektor pariwisata di Nagari Carocok Anau, dibangun pada awal 2021 dan diresmikan pada 25 Desember 2021. Fasilitas ini dilengkapi berbagai sarana pendukung seperti galeri, amfiteater, musala, dermaga mini, ruang informasi, toilet, dan area parkir.

Namun, semangat pembangunan itu tampaknya tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan yang berkelanjutan. Seiring waktu, operasional TIC terhenti akibat minimnya anggaran dan tidak adanya manajemen pengelolaan yang profesional.

“Padahal ini bisa menjadi pusat informasi strategis yang tak hanya melayani wisatawan, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya, kuliner, dan destinasi di Pesisir Selatan,” lanjut Bupati.

Meski sempat diaktifkan oleh komunitas lokal, TIC tidak mampu bertahan lama. Minimnya dukungan anggaran operasional membuat kegiatan terhenti. Keadaan ini menimbulkan pertanyaan publik di mana koordinasi antara pemerintah daerah dan pelaku pariwisata?

Kepala Dinas Pariwisata dan Olahraga Pessel, Suhendri, membenarkan bahwa fasilitas seperti TIC sebenarnya mendapat sambutan hangat dari komunitas pelaku pariwisata sejak pertama diresmikan.

“TIC menjadi titik temu antara pelaku UMKM, wisatawan, dan promosi destinasi. Tapi karena belum ada sistem pengelolaan yang permanen, pelayanan di sini tidak bisa berjalan maksimal,” kata Suhendri.

Ia berharap ke depan ada perhatian lebih serius dari Pemerintah Kabupaten maupun pemerintah pusat untuk mengalokasikan anggaran revitalisasi dan pembentukan unit pengelola kawasan.

Kawasan Mandeh sendiri merupakan satu dari 10 destinasi prioritas pariwisata nasional yang ditetapkan pemerintah pusat. Dengan keindahan perpaduan laut dan perbukitan serta posisi strategisnya yang dekat dari Kota Padang, Mandeh memiliki semua potensi menjadi primadona wisata bahari Sumatera Barat.

Namun, tanpa pengelolaan yang baik, Mandeh bisa saja hanya menjadi proyek mercusuar—indah di atas kertas, tetapi kosong di lapangan.

“Kami akan terus berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur pariwisata. Tapi kami juga butuh sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, pusat, dan masyarakat,” tutup Hendrajoni.

Kini, publik menanti langkah konkret dari pemerintah daerah untuk menyelamatkan aset wisata ini agar tak menjadi bangunan kosong tanpa makna.(yon)

Editor : Novitri Selvia
#Suhendri #Wisata Mandeh Terbengkalai #Dinas Pariwisata dan Olahraga Pessel #hendrajoni