Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kesiapsiagaan Bencana Harus jadi Atensi Bersama, Perkuat Sistem hingga Kolaborasi Lintas Sektor

Willian. • Jumat, 12 Juni 2026 | 08:30 WIB
Penyampaian paparan pada kegiatan executive summary KKDN Perwira Siswa Sesko TNI Tahun Ajaran 2026 di Auditorium Gubernuran, Kamis (11/6), dihadiri jajaran Sesko TNI, Forkopimda Sumbar, serta perangkat daerah terkait. (DOK BIRO ADPIM)
Penyampaian paparan pada kegiatan executive summary KKDN Perwira Siswa Sesko TNI Tahun Ajaran 2026 di Auditorium Gubernuran, Kamis (11/6), dihadiri jajaran Sesko TNI, Forkopimda Sumbar, serta perangkat daerah terkait. (DOK BIRO ADPIM)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Sebagai salah satu daerah rawan bencana di Indonesia, Pemerintah Provinsi Su­matera Barat terus memperkuat kesiapsiagaan bencana melalui penguatan sistem, kelembagaan, serta kolaborasi lintas sektor.

Komitmen tersebut ditegaskan oleh Gubernur Sumbar diwakili Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Sumbar, Medi Iswandi, saat menghadiri paparan executive summary Ku­liah Kerja Dalam Negeri (KKDN) Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Re­guler (Dikreg) Level V Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI) Tahun Ajaran 2026 di Auditorium Gubernuran, Kamis (11/6).

Medi Iswandi menyampaikan bahwa Sumatera Barat merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi karena berada di kawasan aktif secara tektonik. Di sebelah barat wilayah tersebut terdapat zona subduksi Megathrust Mentawai yang berpotensi memicu gempa bumi besar serta tsunami.

Ia juga mengingatkan bahwa gempa besar yang melanda Su­matera Barat pada tahun 2009 menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak. Selain ancaman gempa dan tsunami, wilayah ini juga menghadapi risiko longsor, banjir, serta berbagai bencana hidrometeorologi lainnya.

“Sumatera Barat dapat dikatakan sebagai laboratorium nyata kebencanaan karena memiliki 13 jenis potensi bencana. Namun yang paling penting bukan hanya memahami ancamannya, melainkan memastikan seluruh unsur siap menghadapinya,” ujar Medi Iswandi.

Menurutnya, dampak bencana tidak hanya ditentukan oleh besarnya ancaman alam, tetapi juga oleh tingkat kesiapan sistem, ke­kuatan kelembagaan, serta kesadaran masyarakat terhadap risiko yang dihadapi.

Karena itu, ia menegaskan bahwa pertanyaan yang harus te­rus dijawab bersama bukan lagi apakah bencana akan terjadi, melainkan apakah seluruh pihak telah siap ketika bencana datang.

Sebagai bentuk implementasi, Pemprov Sumbar saat ini terus memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan kapasitas apa­ratur dan relawan, mengembangkan nagari tangguh bencana, me­nyusun rencana kontingensi tsunami, serta mendorong integrasi mitigasi bencana ke dalam perencanaan pembangunan daerah.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tanta­ngan yang perlu dihadapi bersama, mulai dari keterbatasan infrastruktur evakuasi, penguatan literasi kebencanaan masyarakat, hingga peningkatan koordinasi antarlembaga. Oleh sebab itu, sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor kunci dalam mem­ba­ngun daerah yang tangguh terhadap bencana.

“Masih banyak tantangan yang perlu menjadi perhatian kita bersama, terutama pada aspek penguatan infrastruktur dan literasi masyarakat. Oleh karena itu, ini perlu dukungan banyak pihak, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata,” tegas Medi.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan pentingnya peran Tentara Nasional Indonesia (Tentara Nasional Indonesia) da­lam mendukung kesiapsiagaan bencana. Menurutnya, kehadiran TNI tidak hanya penting pada saat tanggap darurat, tetapi juga dalam membangun budaya siaga melalui edukasi, pelatihan, dan simulasi kebencanaan di tengah ma­sya­rakat.

Ia menilai kegiatan KKDN Sesko TNI menjadi ruang strategis untuk memperkuat konektivitas antara kebijakan nasional dan implementasinya di daerah. Hasil kajian yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi masukan kebijakan serta referensi dalam memperkuat sistem kesiapsiagaan bencana, baik di Sumatera Barat maupun secara nasional.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus meningkatkan literasi dan budaya sadar bencana. Menurutnya, kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama demi melindungi masyarakat, menjaga keberlanjutan pembangunan, dan memperkuat ketahanan nasional.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Komandan Arif Widianto, para pejabat utama Sesko TNI beserta istri, unsur Forum Koordinasi Pim­pinan Daerah (Forkopimda Su­matera Barat) Provinsi Sumatera Ba­rat, para pendamping dari Sesko TNI, kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, serta para Perwira Siswa Pendidikan Reguler (Dikreg) Level V Sesko TNI Tahun Ajaran 2026. (wni)

Editor : Adriyanto Syafril
#Sesko TNI #pemprov sumatera barat