JLH Tanam Mangrove, Gaungkan Penyelamatan Pesisir

Yoni Syafrizal • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 08:45 WIB
Keindahan hutan mangrove di kawasan Konservasi Penyu Amping Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan. Kawasan ini akan menjadi lokasi aksi penanaman mangrove dan pelepasan tukik dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia 2026. (DOK KIS UNTUK PADEK)
Keindahan hutan mangrove di kawasan Konservasi Penyu Amping Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan. Kawasan ini akan menjadi lokasi aksi penanaman mangrove dan pelepasan tukik dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia 2026. (DOK KIS UNTUK PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Ancaman ke­rusakan ekosistem pesisir mendorong Jurnalis Li­ng­kungan Hidup (JLH) bersama Rescue Lingkungan Hi­dup (RLH) me­nggelar aksi penanaman mangrove dan pelepasan tukik di kawasan Konservasi Penyu Am­ping Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Mi­nggu (26/7) mendatang.

Kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 sekaligus kampanye nyata menjaga kelestarian kawasan pesisir ya­ng memiliki fungsi strategis bagi kehidupan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Ketua Pelaksana, Soni, me­ngatakan peringatan Hari Mangrove Sedunia tidak cukup diperingati secara seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi lingkungan.

“Jurnalis Lingkungan Hi­dup ingin menjadi bagian dari gerakan nasional pelestarian mangrove. Menanam mangrove berarti menanam harapan bagi masa depan pesisir dan generasi mendatang,” ujar­nya, Minggu (19/7).

Menurut Soni, mangrove memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Hutan mangrove berfungsi melindungi ga­ris pantai dari abrasi, men­ja­di habitat berbagai biota laut, sekaligus menyerap emi­si karbon yang berkontribusi mengurangi dam­pak perubahan iklim.

Sebaliknya, kerusakan hutan mangrove akan berdampak luas terhadap ling­kungan maupun kehidupan masyarakat pesisir. Hilangnya kawasan mangrove tidak hanya mengurangi perlindungan alami pantai, tetapi juga mengancam habitat satwa dan sumber mata pencaharian masyarakat.

Ia menjelaskan, kawasan Konservasi Penyu Amping Pa­rak dipilih sebagai lokasi ke­gia­tan karena memiliki nilai eko­lo­gis yang tinggi. Selain menja­di habitat penting bagi pe­nyu, kawasan tersebut juga memili­ki hutan mangrove ya­ng perlu dijaga keberlanjutannya.

Menurutnya, penanaman mangrove dan pelepasan tu­kik merupakan dua aksi konservasi yang saling berkaitan. Pelepasan tukik menjadi simbol keberlanjutan populasi penyu, sementara penanaman mangro­ve merupakan investasi ling­ku­ngan jangka panjang untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

Soni berharap kegiatan ter­sebut mampu meningkatkan kesadaran kolektif ma­sya­rakat akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Ia menegaskan bahwa pelestarian lingkungan bukan semata tanggung jawab pemerintah maupun aktivis, melainkan menjadi kewajiban seluruh elemen masyarakat.

“Kami mengajak ma­sya­ra­kat, pelajar, mahasiswa, dunia usa­ha, organisasi hingga media mas­sa untuk terlibat dalam gerakan ini. Semakin banyak yang ber­partisipasi, semakin besar manfaat yang dirasakan,” katanya.

Ia juga menegaskan komitmen JLH dalam men­do­ro­ng ge­rakan pelestarian li­ng­­ku­ngan melalui kegiatan kon­ser­vasi, edukasi, dan advokasi. Menurutnya, jurnalisme ling­ku­­ngan tidak berhenti pada pem­be­ritaan, tetapi juga harus mampu mengedukasi sekaligus me­nggerakkan ma­sya­ra­kat untuk ikut menjaga ling­ku­ngan.

Selain itu, JLH mendoro­ng kolaborasi lintas sektor dalam menjaga ekosistem pesisir yang melibatkan peme­rintah, legislatif, aparat penegak hukum, akademisi, komunitas, hingga ma­sya­rakat. “Kami mengundang seluruh pihak untuk bersama-sama menanam mangrove sebagai warisan bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Kegiatan tersebut direncanakan dihadiri anggota DPD RI, DPRD, unsur Forkopimda dan Forkopimca, kepala OPD, instansi vertikal, tokoh ma­sya­rakat, serta berbagai komunitas lingkungan.

Peringatan Hari Mangro­ve Se­dunia 2026 mengusung te­ma “Menjaga Mangrove, Me­nga­mankan Generasi Men­­datang.” Melalui momentum tersebut, pe­merintah mengajak seluruh ele­men masya­rakat melakukan ak­si nyata berupa penanaman ma­ngro­ve, edukasi publik, serta kam­panye pelestarian ling­ku­ngan.

Gerakan nasional itu diha­rapkan semakin memper­kuat k­o­­laborasi dalam menjaga ga­ris pantai, melindungi ke­ane­kara­gaman hayati, me­ni­ng­kat­kan ketahanan ter­­hadap pe­­rubahan iklim, serta me­wa­­ris­kan ling­kungan ya­ng sehat ba­gi generasi men­da­tang. (yon)

Editor : Adriyanto Syafril
Penyu Amping Parak mangrove