Di sini, di antara barisan pohon muda dan bau tanah lembap, teknologi berhenti di pintu gerbang—karena yang bekerja adalah tangan, insting, dan pengalaman manusia.
Di lahan hijau miliknya, Zendri (45), atau yang akrab disapa Ije, tampak meneliti batang rambutan muda di bawah naungan plastik paranet.
Ia bukan sarjana pertanian atau pemilik startup agritech, melainkan penerus tradisi keluarga yang telah berakar sejak awal 2000-an.
Sejak 2007, Ije resmi memegang kendali penuh atas usaha pembibitan yang diwariskan orang tuanya—bisnis yang tumbuh bersama tanah subur Lubuk Minturun.
“Dasar bisnis kami ya karena tinggal di sini. Lubuk Minturun memang sudah dikenal sebagai daerah pertanian. Bibit yang kami hasilkan bukan sekadar menumbuhkan biji, tapi memilih indukan unggul,” ujarnya, Sabtu (25/10/2025).
Dengan pendidikan terakhir sekolah teknik setingkat SLTP di Simpang Haru, Kota Padang, Ije membuktikan bahwa keterampilan praktis bisa menjadi modal utama untuk bertahan di era digital.
Dari tangan Ije dan istrinya, lahirlah ribuan bibit unggulan—rambutan, durian, alpukat, hingga mangga.
Omzet usahanya kini mencapai sekitar Rp20 juta per bulan, dan melonjak lebih tinggi saat musim buah tiba.
Namun angka itu bukan sekadar hasil penjualan, melainkan buah dari kesabaran, ketelitian, dan reputasi yang tumbuh perlahan.
Pelanggan Ije datang dari berbagai daerah, tak hanya dari Kota Padang. Dari Alahan Panjang hingga Payakumbuh, mereka rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan bibit unggul yang terkenal “cepat berbuah dan kuat akarnya.”
Salah satunya adalah Zuhelmi (61), petani buah dari Payakumbuh yang telah menjadi pelanggan tetap selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Pemprov Sumbar Sepakati Dua Solusi Atasi Kemacetan Padang Lua, Flyover dan Underpass Dibatalkan
“Saya sudah coba ke beberapa tempat, tapi bibit dari Uda Ije ini memang beda. Akarnya kuat, cepat berbuah, dan buahnya bagus-bagus,” ungkap Zuhelmi ketika ditemui, Sabtu siang.
Ia menambahkan, pelayanan yang diberikan juga membuat pelanggan betah. “Kalau ada bibit bermasalah, Uda Ije cepat tanggap dan kasih petunjuk perawatan yang tepat.”
Kepercayaan semacam itu menjadi modal tak ternilai bagi Ije. Di tengah dunia yang makin digital, hubungan personal dan reputasi tetap menjadi kunci.
“Orang beli bukan cuma karena bibitnya, tapi karena yakin dengan siapa yang menanamkannya,” ujarnya pelan sambil menepuk tanah di sekitar bibit durian muda.
Lubuk Minturun, dengan tanah suburnya, seakan menjadi simbol perlawanan lembut terhadap logika teknologi yang serba otomatis.
Dari sana, Ije membuktikan bahwa sentuhan manusia—dengan pengetahuan lokal, keuletan, dan ketulusan—masih menjadi mesin sejati yang menggerakkan ekonomi.
Usahanya menjadi bukti bahwa tidak semua profesi bisa digantikan algoritma. Di kebun kecil di utara Padang ini, masa depan justru tumbuh dari tanah, air, dan kesabaran.(cr3)
Editor : Hendra Efison