Suara burung langsung pecah, menandai rutinitas hariannya sebagai penghobi burung kicau yang sudah ia jalani sejak 1987.
Firman mulai memelihara burung sejak usia 16 tahun, dengan jenis awal seperti murai batu, barau-barau, dan kenari.
Seiring waktu, minat tersebut berkembang hingga membuatnya memelihara berbagai jenis burung lomba, seperti cucak hijau, murai batu, kacer, kenari, lovebird, konin, dan kapas tembak. Saat ini ia merawat sekitar 15 ekor burung di rumahnya.
“Ini sudah sedikit. Dulu hampir semua jenis burung pernah saya pelihara, cuma sekarang mulai dikurangi. Yang dibawa lomba sekarang cucak hijau sama murai batu saja,” ujarnya kepada Padang Ekspres, Jumat (14/11/2025).
Mulai Terjun ke Lomba
Awalnya, Firman hanya menikmati kicau burung sebagai penenang suasana pagi. Namun sejak 2012, ia mulai mengikuti berbagai lomba burung berkicau di Sumatra Barat dan sejumlah provinsi lain.
Dalam tiga pekan terakhir, Firman ikut serta pada Lomba Burung Berkicau Dandim 0309/Solok Cup II di Taman Pramuka Pulang Belibis, Kota Solok, dan meraih Juara 3 kelas Murai Batu Ring.
Ia menuturkan sejumlah gelaran besar yang pernah diikuti, seperti Piala Gubernur, Piala Wali Kota, hingga Piala Raja. Firman juga pernah mengikuti kompetisi di Jambi dan Pekanbaru.
Beberapa jenis burung peliharaannya tercatat pernah meraih juara, mulai dari murai batu, cucak hijau, kapas tembak, kenari, lovebird, hingga kacer.
Perawatan hingga Latihan Burung Lomba
Firman mengakui proses mendapatkan burung juara tidak mudah. Perawatan, pola makan, dan latihan suara menjadi kunci.
Menurutnya, burung lomba perlu dilatih agar bisa menirukan suara burung lain.
“Melatihnya bisa dari burung langsung, seperti mendekatkan sangkar supaya murai batu bisa ambil suara kapas tembak atau lovebird. Bisa juga pakai MP3,” jelasnya.
Memelihara 15 ekor burung membutuhkan biaya cukup besar untuk pakan, vitamin, peralatan kandang, dan biaya perjalanan lomba. Namun bagi Firman, semuanya sebanding dengan kepuasan menjalani hobi.
Harmoni dari Kicau Burung
Menurut Firman, burung bukan sekadar koleksi atau sarana mencari prestasi. Ia menemukan ketenangan dari suara burung yang memenuhi halaman rumahnya.
“Kalau sudah hobi, ya enggak ada yang mahal,” ujarnya.
Bagi Firman, dunia kicau memberikan ruang untuk beraktivitas, berkompetisi, sekaligus menemukan ketenangan yang tidak tergantikan.(*)
Editor : Hendra Efison