PADEK.JAWAPOS.COM-Kampanye terbuka dengan strategi menghadirkan artis atau menyebarkan APK secara besar-besaran tidak menjamin kesuksesan dalam meraih dukungan pemilih pada Pemilu 2024.
Adrian Tuswandi, yang dikenal sebagai Caleg Partai Ummat untuk DPRD Sumbar dengan julukan CPM (Caleg Pokok Murah), menemukan fakta itu dalam perjalanannya keliling Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman yang menjadi daerah pemilihannya.
Menurut Adrian Tuswandi, rakyat cerdas dan tak mudah dirayu. Apalagi di Sumbar yang pemilihnya sangat rasional.
"Jelang masa tenang ini, rakyat sudah tahu siapa yang benar-benar diharapkan bisa memperjuangkan harapan mereka untuk memperbaiki kondisi hidup dan membangun daerah, tanpa harus pakai rayuan selangit. Jadi kampanye pakai artis dan meriah itu sebagai hiburan saja bagi masyarakat," ungkap Adrian.
Adrian mengakui menghadapi tantangan berat di masa kampanye. Harus bersaing dengan caleg-caleg bermodal besar yang memiliki baliho kampanye di mana-mana. Banyak di antara mereka jarang turun, bertemu dan berdialog dengan masyarakat. Sehingga mereka tak tahu masalah mendasar yang dihadapi masyarakat.
Dengan kreativitas dan dedikasi yang tekun dan ulet, Adrian terus turun langsung ke masyarakat di daerah pemilihannya, Piaman (Pariaman dan Padangpariaman).
Pendekatan unik Adrian Tuswandi yang tidak mengenal lelah dalam mendatangi rumah, kedai dan sawah serta berinteraksi langsung dengan masyarakat serta tokoh-tokoh lokal, sambil menyampaikan ide-ide dan gagasan-gagasan segar, diyakininya bisa jadi kunci keberhasilan.
Ketika turun langsung menemui masyarakat dan lintas tokoh, Adrian merasakan dukungan yang kuat dan respons positif dari pemilih di wilayah tersebut.
Selain itu, penerimaan positif dari masyarakat terhadap gagasan yang disampaikan oleh Adrian Tuswandi, seperti pokok pikiran dari anggota DPRD yang sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat memperkuat posisinya di mata pemilih.
"Ya pak Adrian Tuswandi itu dalam pendekatan ke pemilih punya cara beda, beliau tak kenal lelah datangi pintu ke pintu rumah dan tokoh masyarakat, menebar ide dan gagasan, satu yang buat kita terenyuh di Bari Sicincin ini, Pak Ad itu apa adanya. Dia sebut dirinya Caleg Pokok Murah (CPM)," ujar seorang warga Sicinci Uni Leni, Kamis (8/2/2024).
Menariknya, kata Leni, Adrian ini tidak sombong. Dia selalu mendengar apa saja keluhan dan kebutuhan yang menjadi harapan masyarakat. "Beliau banyak mendengar. Beliau ajak kami diskusi dan beri solusi ketika jadi anggota dewan," katanya.
Tak itu saja. Amri warga di Pakandangan juga mengakui kalau menyosialisasikan. Adrian Tuswandi lebih mudah karena gagasannya sangat tepat dan sesuai kebutuhan masyarakat.
"Warga pemilih diberi tahu, kalau Anggota DPRD itu untuk maota-ota jo pemilih ada tunjangan komunikasi insentifnya. Beliau beri pendidikan politik bagi masyarakat," ujar Amri.
Masyarakat juga memberikan semangat kepada Adrian untuk bergerak terus meski dengan modal apa adanya. "Terus bergerak Pak Ad. Masyarakat rindu DPRD seperti pak Ad ini," ujar Hari, warga lainnya di Sicincin.
Terobati Antusias Masyarakat
Meskipun mengakui upayanya jadi wakil rakyat begitu berat, Adrian Tuswandi merasa terobati dengan antusiasme dan dukungan yang diberikan oleh masyarakat selama masa kampanye.
Adrian percaya bahwa menjadi seorang wakil rakyat bukanlah tugas yang mudah. Mamun ia tetap berani dan tangguh menghadapinya.
"Terpenting jangan banyak berjanji. Sebab selama ini rakyat sudah banyak dijanjikan, tapi tidak pernah direalisasikan. Insyaallah jika saya dipilih dan ditakdirkan jadi anggota DPRD Sumbar, saya akan tunaikan apa yang menjadi amanah masyarakat," ungkap Adrian Tuswandi.
Sebagai seorang berlatar belakang wartawan, Adrian tahu benar bahwa selama ini rakyat sering dibohongi. Maka itu, menurutnya harus diubah oleh caleg dan masyarakat itu sendiri.
"Kuncinya, lihat rekam jejak orang yang akan dipilih. Jangan pilih yang suka berbohong, sombong dan tidak jelas kiprahnya serta hanya mengandalkan uang banyak ketika bertemu masyarakat," imbuh Adrian.
Sosok yang pernah menjabat komisioner Komisi Informasi (KI) Sumbar dan dikenal kritis serta sering beraksi melawan ketidakadilan ini menegaskan bahwa ia tidak menggunakan trik atau rekayasa dalam berkomunikasi dengan pemilih.
Kejujuran dan kesederhanaan menjadi prinsip utamanya dalam menyerap aspirasi masyarakat. "Saya apa adanya saja. Terpenting mengedepankan etika dan moral sesuai dengan kearifan lokal ketika berjumpa masyarakat. Jangan berlaku sok hebat dan sok tahu," tambah Adrian.
Dengan harapan-harapan yang diungkapkan oleh pemilih, seperti pendidikan murah, BPJS gratis, pupuk murah, lapangan pekerjaan yang lebih mudah, dan pemenuhan kebutuhan masyarakat lainnya, Adrian Tuswandi berkomitmen untuk menjadi wakil rakyat yang ideal bagi wilayahnya.
"Insyaallah dengan dukungan masyarakat Piaman, harapan itu saya perjuangkan sekuat tenaga. Kapan perlu gebrak-gebrak meja di gedung dewan itu," ungkapnya.
Meskipun menjalani proses demokrasi yang berliku, Adrian Tuswandi tetap optimistis dengan hasil akhir yang akan ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa nanti pada 14 Februari di bilik suara.
Dengan penuh keyakinan, ia melanjutkan perjuangannya menuju Pemilu 2024 dengan semangat yang tak kenal lelah.
"Saya yakin masyarakat sudah tahu mana yang hanya menginginkan suara saja jelang pemilu, dan mana yang benar-benar punya rekam jejak untuk memperjuangkan harapan mereka lewat wakil rakyat," kata tokoh muda Piaman yang pernah diendorse Anies Baswedan ini.(rel/esg) Editor : Admin Padek