Deri Asta menyebutkan, tujuan kerja sama itu adalah untuk meningkatkan kewenangan maupun program kerja, terkhusus dalam bidang pangan dan perikanan. Selama ini pasokan kebutuhan komoditi pertanian di Sawahlunto dominan didatangkan dari daerah tetangga termasuk Tanahdatar.
Baik untuk kebutuhan konsumsi oleh warga Sawahlunto hingga sebagai bahan baku olahan produk makanan, dan lain sebagainya. Guna menjawab tantangan tersebut maka dibuat kontrak perjanjian kerja sama antar kedua daerah, dengan sasaran agar kedua daerah dapat bergerak lebih leluasa.
Termasuk melakukan hal-hal lebih luas dan lebih optimal lagi dalam mengelola sektor untuk. Sehingga Sawahlunto dan Tanahdatar saling diuntungkan. Tidak hanya pada bidang pertanian, menurut Deri, namun ini juga untuk memaksimalkan potensi kepariwisataan. Di tengah menjalankan urusan, warga yang datang tentunya di sela waktu sekaligus dapat menikmati objek wisata yang ada.
“Potensi wisata di Kota Sawahlunto cukup banyak, begitu juga Tanahdatar. Namun kendala saat ini adalah akses jalan yang menghubungkan kedua daerah ini belum begitu baik. Disepanjang jalan utama Sawahlunto- Tanahtadar banyak terdapat kerusakan. Maka hal ini akan menjadi PR ke depannya,” tegas Deri Asta.
Bupati Tanahdatar Eka Putra juga menuturkan sektor pertanian selama ini memang andalan masyarakat Tanahdatar. Bahkan dalam menghadapi inflasi daerah, sektor pertanian turut menjadi tumpuan dan ujung tombak perekonomian daerah.
Di antaranya melalui upaya peningkatan produksi dan hilirisasi bawang merah dan cabai merah, akhirnya Tanahdatar didaulat menjadi TPID berprestasi wilayah Sumatera pada tahun 2021 dalam ajang TPID award 2022. (atn) Editor : Novitri Selvia