Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Berburu Durian Timbago Sijunjung, Sikuning Nan Legit dan Manis

Yulicef Anthony • Selasa, 13 September 2022 | 11:07 WIB
RAMAI DIKUNJUNGI: Seorang pembeli sedang memilih durian yang aka dibeli dari pedagang yang ada di Kabupaten Sijunjung.(IST)
RAMAI DIKUNJUNGI: Seorang pembeli sedang memilih durian yang aka dibeli dari pedagang yang ada di Kabupaten Sijunjung.(IST)

Lain lubuk lain pula ikannya, lain padang lain ilalang. Pepatah ini pas juga untuk melukiskan karakteristik durian asal Sumbar. Tiap daerah berbeda jenis dan rasa duriannya. Misalnya durian timbago di Sijunjung. Dinamai timbago karena daging duriannya kuning seperti tembaga.

Durian sijunjung memiliki cerita tersendiri. Kebanyakan pohon durian tumbuh setelah ditanam oleh pemilik kebun. Jika ditanam dengan sistem pembibitan (dari biji), biasanya baru akan berbuah setelah berumur 10-12 tahun.

Bahkan lebih, tergantung kualitas bibit, serta bagaimana cara perawatannya. Selain pembibitan dari biji, ada juga tanaman durian dengan sistem cangkokan atau okulasi. Tentunya dengan sistem ini agak lebih cepat berbuah, dan buahnya cenderung lebih unggul.

Varietasnya pun beragam, mulai dari jenis durian montong, musangking, bangkok, serta banyak lagi yang lainnya. Menariknya lagi, ada pula pohon durian yang umurnya mencapai lebih 100 tahun. Sampai-sampai batangnya tampak berlumut, lingkaran batangnya sangat besar, tinggi menjulang ke langit.

Terkadang pemiliknya sendiri tidak tahu entah apa jenis atau varietasnya. Sehingga dinamai saja sesuai nama lokasi tempat durian itu tumbuh. Kalau tumbuhnya di area tebing, disebut durian tabiang, atau berdasarkan bentuk atau warna gading durian itu sendiri, bila agak kuning disebut durian tambago atau durian kuniang.

Durian peninggalan leluhur kebanyakan suka tumbuh di lereng bukit, tepi jurang, serta di pinggir aliran sungai. Ketika buah ada yang jatuh, butuh perjuangan mencarinya, kalau tidak bersua, terpaksa diikhlaskan saja.

Seperti diketahui Kabupaten Sijunjung merupakan salah satu daerah penghasil buah durian. Bila musimnya tiba, banyak dijual pedagang di beberapa titik pinggir jalan raya Sijunjung.

Seorang pemilik kebun durian Nasrul, 55, warga Nagari Sijunjung, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, mengaku memelihara pohon durian cukup rumit dan melelahkan. Selain perawatan hingga pemupukan juga diperlukan usaha ekstra sebelum akhirnya buah yang masak jatuh dan dapat dikumpulkan.

Ketika pohon durian mulai berbunga, berputik, pemilik tanaman mulai dituntut mempersiapkan diri sampai seluruh buah terpelihara dengan baik hingga mencapai ukuran yang maksimal.

Pemilik tanaman harus berjuang melawan serangan hama (hewan liar), mulai dari hama tupai, kera, beruk, simpai, dan sebagainya. Biasanya pemilik kebun mendirikan sebuah pondok, sebagai tempat berjaga-jaga guna mewaspadai serangan hama.

Menurut Nasrul, hama tupai cukup membahayakan. Sewaktu-waktu mereka cenderung datang puluhan ekor secara bersamaan menggerogoti dan merontokkan bakal bunga atau putik durian. Akibatnya bunga atau putik buah bertebaran di bawah batang.

Untuk menghadapi semua itu dibutuhkan usaha ekstra. Di antaranya mengusir atau menghalau hewan itu dengan cara memukul-mukul potongan seng bekas sambil bersorak, membuat alat letusan dengan pipa paralon, hingga menembak menggunakan senapan angin. Namun untuk simpai, siamang, cukup diusir saja.

Petani lainnya, Dt Malin Pono, 65, warga Nagari Muaro juga menuturkan, hama tupai dan monyet senantiasa jadi ancaman tiap kali musim durian tiba. “Ada-ada saja datang mengganggu. Kalau tidak kera, sewaktu-waktu muncul gerombolan beruk atau simpai. Maka di siang hari terpaksa rutin dijaga atau ditunggui,” ujarnya.

Diakuinya, buah durian miliknya tiap kali musim cenderung dijual, dengan cara dijajal di pinggir jalan depan runah. Kualitas bagus  dibanderol Rp50 ribu per biji, dan paling murah di kisaran Rp10-15 ribu. Ada juga sistem borongan dengan harga menyesuaikan.

Murni,43, pedagang durian di pinggir jalan Adinegoro, Nagari Padanglaweh, Kecamatan Sijunjung menjelaskan, stok saat musim durian kali ini tidak banyak. Maka harga jual ecerannya relatif agak mahal, yakni berkisar Rp20 ribu ke atas per buah.

Selain seputaran Kecamatan Sijunjung, produksi buah durian dari berbagai nagari juga banyak dijual para pedagang di sejumlah titik di pinggir jalan lintas Sumatera (jalinsum) dari arah Muarobodi- Kiliranjao.  Dengan sasaran pengendara yang tengah melintas.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sijunjung, Ronaldi menuturkan, durian telah menjadi salah-satu komoditi strategis penopang perekonomian masyarakat. Bahkan saat musimnya ada yang dikirim ke luar daerah, luar provinsi, dengan harga bersaing.

Guna menjaga kualits, Pemkab Sujunjung melalui Dinas Pertanian selalu berupaya menberikan sosialisasi pada warga agar tidak melakukan sistem panen paksa. Yakni buah durian sebelum waktunya jatuh dipaksa dipetik semuanya menggunakan hewan beruk (terlatih) atau dipanjat oleh orang yang memang punya keterampilan khusus.

Buah jatuh dikumpulkan dan selanjutnya dijual secara borongan pada tauke. Biasanya tauke akan melakukan pemeraman selama beberapa hari agar seluruh buah lekas masak.

Namun tanpa disadari cara-cara seperti ini justru dapat merusak tanaman, bahkan bisa mengakibatkan pohon durian berhenti berbuah selama beberapa musim.  Ketika kembali berbuah, kualitas buahnya memburuk, dan itu akan terus berlangsung bertahun-tahun. (atn)

Editor : Novitri Selvia
#Pemkab Sujunjung #Durian Timbago #Dinas Pertanian Kabupaten Sijunjung #durian