Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Sawit di Sijunjung Menguat Rp 3.200 Sekilo

Yulicef Anthony • Rabu, 9 Oktober 2024 | 11:35 WIB
KABAR BAIK: Petani sedang memanen sawit. Saat ini harga sawit di Sijunjung mulai naik kekisaran Rp 3.000 per kilo  (Jawapos)
KABAR BAIK: Petani sedang memanen sawit. Saat ini harga sawit di Sijunjung mulai naik kekisaran Rp 3.000 per kilo (Jawapos)

PADEK.JAWAPOS.COM-Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menguat di level Rp 3.200 per kilogram di Kabupaten Sijunjung, Selasa (8/10). Kondisi ini membuat masyarakat kembali bersemangat mengelola lahan perkebunan mereka.

Pantauan Padang Ekspres di kawasan Kamangbaru, masyarakat mengaku lega atas menguatnya harga TBS sejak dua bulan terakhir. Masyarakat kian proaktif melakukan pengelolaan terhadap lahan perkebunan garapan mereka. 

Apalagi tanaman kelapa sawit saat ini cukup menjadi primadona bagi masyarakat bagian selatan Sijunjung tersebut. Selain tanaman getah karet yang merupakan komoditi perkebunan alternatif secara turun-temurun.

Demikian juga di kawasan Tanjunggadang, IV Nagari hingga nagari-nagari di Kecamatan Sijunjung. Pembukaan area perkebunan kelapa sawit terus digalakkan masyarakat karena dinilai strategis untuk jaminan masa depan. 

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Kabupaten Sijunjung Bagus mengungkapkan, pihaknya terus melakukan pengawasan terhadap harga kelapa sawit. Saat ini harga jual TBS di pabrik mencapai Rp 3.200, sementara di tingkat pedagang (tauke) bertengger di kisaran Rp 3.000 per kilogram. 

"Alhamdulillah sekarang sudah agak bergairah, yakni di kisaran Rp 3.000-3.200 per kilogram. Semoga harga tersebut terus bertahan, jika perlu dapat bergerak naik," ujarnya.

Disebutkan Bagus, standar harga kelapa sawit berlaku secara nasional, sehingga pihak perusahaan (pabrik pengolahan CPO) tidak semestinya memberlakukan harga secara sepihak. Sebab itu Asosiasi Petani Kelapa Sawit Sijunjung akan terus mengawal standar harga di tingkat daerah.

"Biaya pengolahan tanaman sawit itu cukup mahal, mulai dari biaya pupuk, pemeliharaan hingga ongkos panen dan transportasi mengeluarkan biaya besar. Maka itu harga jualnya harus berlaku secara wajar, jangan asal patok saja demi meraup untung besar oleh pihak perusahaan," tegasnya.

Sementara, seorang petani kelapa sawit di Nagari Kamang, Witriani, mengaku ikut lega atas naiknya harga TBS saat ini. Ia bersama para petani lainnya mulai kembali bersemangat mengelola lahan perkebunan garapan mereka. 

Hasil panen per hektare tiap 20 hari sekali setidaknya mencapai 600 kilogram dengan nilai jual kotor Rp 1,8 juta. Dikurangi biaya garapan hingga upah panen separuhnya, dapat penghasilan bersih sekitar Rp 900 ribu. Semakin luas lahan garapan akan semakin besar pula hasil penen.

"Dalam situasi ekonomi sulit seperti sekarang jelas hasil panen kelapa sawit sangat membantu perekonomian keluarga," ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah ikut proaktif mengawal standar harga TBS di Sijunjung supaya pihak perusahaan dan pengusaha tidak seenaknya mematok harga sawit dari petani. (atn)

Editor : Novitri Selvia
#harga sawit #Tanjunggadang #tbs #Tanjunggadang Sijunjung #Nagari Kamang