Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa ini berasal dari aktivitas Sesar Sumani.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Padangpanjang, Suaidi Ahadi, menyampaikan bahwa hasil analisis menunjukkan episenter gempa berada pada koordinat 0,99° Lintang Selatan dan 100,71° Bujur Timur.
“Lokasi pusat gempa berada di darat, tepatnya 18 kilometer Barat Daya Kabupaten Solok dengan kedalaman hiposenter 10 kilometer,” kata Suaidi.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan lokasi dan kedalaman sumber gempa, peristiwa tersebut termasuk kategori gempa dangkal.
“Dengan memperhatikan lokasi dan kedalaman pusat gempa bumi, gempa yang terjadi dikategorikan sebagai gempa dangkal. Fenomena ini diakibatkan oleh adanya aktivitas Sesar Sumani,” ujarnya.
BMKG mencatat estimasi peta guncangan (shake map) menunjukkan variasi intensitas di beberapa daerah.
Guncangan paling signifikan dirasakan di Kabupaten Solok pada skala III–IV Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada level ini, getaran dirasakan nyata oleh banyak orang di dalam rumah, seperti truk besar yang melintas, bahkan dapat membuat jendela atau pintu bergetar.
Di wilayah Padang dan Solok, intensitas guncangan berada pada skala II–III MMI, di mana getaran dirasakan sebagian besar orang dan benda ringan yang digantung tampak bergoyang.
Sementara itu, daerah Sijunjung dan Sawahlunto merasakan guncangan lebih lemah dengan intensitas I–II MMI, yang umumnya hanya tercatat oleh alat atau dirasakan sebagian kecil masyarakat.
Hingga Rabu pagi, belum ada laporan resmi terkait kerusakan akibat gempa tersebut. BMKG terus memantau aktivitas seismik pasca-gempa utama.
Dalam laporan sementara, tercatat satu kali gempa susulan yang terjadi pada pukul 03.11 WIB dengan magnitudo 2,1. Monitoring akan terus dilakukan untuk memastikan perkembangan aktivitas tektonik di wilayah tersebut.(CC1)
Editor : Hendra Efison