Musala Nur Taqwa saat ini menjadi tempat ibadah alternatif warga setelah Masjid Jabal Nur yang sebelumnya menjadi pusat kegiatan keagamaan hanyut akibat banjir bandang pada penghujung November 2025 lalu.
Kunjungan Safari Ramadan ini menjadi bentuk kehadiran pemerintah provinsi di tengah masyarakat yang masih berjuang memulihkan diri pascabencana.
Rombongan gubernur disambut Wakil Bupati Solok Candra, didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Solok Medison, para asisten, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Solok, Camat Junjuang Sirih, serta para wali nagari setempat.
Dalam sambutannya mewakili Bupati Solok, Wabup Candra memaparkan perkembangan rehabilitasi pascabencana. Ia menyebutkan bahwa koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Solok dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus dilakukan secara intensif.
Menurutnya, wilayah DTS Batua Cacang menjadi daerah paling parah terdampak banjir di bagian utara Kecamatan Junjuang Sirih.
“Alhamdulillah, rekonstruksi Masjid Jabal Nur yang hanyut telah masuk dalam program R3P Kabupaten Solok. Tim teknis sudah turun melakukan peninjauan lapangan untuk memproses pembangunan kembali. Salah satu persyaratan bantuan adalah mempertahankan nama masjid sebagaimana sebelumnya,” ujar Candra.
Selain menyampaikan progres rekonstruksi, Wabup juga mengapresiasi kuatnya nilai gotong royong masyarakat Nagari Paninggahan. Ia menjelaskan, nagari tersebut memiliki dua Peraturan Nagari yang dinilai efektif menjaga ketertiban sosial.
Peraturan pertama mengatur pelarangan pertunjukan orgen tunggal pada malam hari. Kebijakan yang telah berjalan sekitar 25 tahun itu disebut mampu meminimalkan potensi konflik antarjorong yang kerap terjadi akibat hiburan malam.
Peraturan kedua mengatur tentang Ketertiban Umum dan Antisipasi Penyakit Masyarakat, hasil kolaborasi pemerintah daerah dan tokoh masyarakat. Nagari Paninggahan tercatat sebagai nagari pertama yang memberlakukan regulasi tersebut.
Menanggapi hal itu, Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa Safari Ramadan 1447 H secara khusus difokuskan ke wilayah terdampak bencana yang belum tersentuh kunjungan pemerintah provinsi.
“Safari Ramadan kali ini kami fokuskan pada wilayah yang dilanda bencana agar dapat melihat langsung kondisi masyarakat, memantau proses pemulihan, serta menginventarisasi kebutuhan yang memerlukan percepatan,” tegasnya.
Mahyeldi menggambarkan Batua Cacang sebagai salah satu wilayah dengan dampak banjir paling berat. Ia mengajak masyarakat untuk tetap tabah dan mempererat persaudaraan, seraya memastikan pemerintah akan terus hadir melalui koordinasi lintas sektor guna mempercepat pemulihan.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama sejumlah mitra menyerahkan bantuan, antara lain Rp10 juta untuk fasilitas ibadah, Rp10 juta dari Jamkrida Sumatera Barat, Rp2 juta dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III, Rp50 juta dari pemerintah provinsi untuk renovasi masjid, serta Rp25 juta bagi warga terdampak.
Selain itu, BAZNAS Sumatera Barat melalui Program Kemanusiaan menyalurkan bantuan sebesar Rp143 juta untuk masyarakat terdampak di Kabupaten Solok. Di sektor pendidikan, disalurkan bantuan senilai Rp704 juta bagi 704 siswa. Karpet dan Al-Qur’an juga diserahkan kepada pengurus mushalla sebagai perlengkapan ibadah.
Kunjungan Safari Ramadan ini menjadi momentum mempererat solidaritas antara pemerintah dan masyarakat. Di tengah keterbatasan akibat bencana, bantuan dan perhatian yang diberikan diharapkan menjadi energi baru bagi warga Batua Cacang untuk bangkit serta membangun kembali kehidupan secara lebih kokoh dan bermartabat. (cr8)
Editor : Adetio Purtama