PADEK.JAWAPOS.COM-Di tengah menyusutnya dana transfer dari pusat ke daerah, Pemerintah Kabupaten Solok Selatan mulai mengubah strategi pembiayaan pembangunan.
Wakil Bupati Solok Selatan, Yulian Efi, menegaskan bahwa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak bisa lagi hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebagai sumber utama pendanaan.
Menurut Wabup, kondisi keuangan daerah yang semakin terbatas menuntut kreativitas dan proaktivitas setiap OPD dalam mencari alternatif sumber dana, terutama dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun APBD provinsi.
“Kita harus berani jemput bola. Jangan menunggu. Setiap OPD yang memiliki program pembangunan tetapi tidak tertampung dalam APBD, segera cari peluang pendanaan ke pusat.
Siapkan proposal dan perencanaan yang matang agar bisa masuk dalam sistem nasional,” ujar Yulian Efi, Selasa (4/11) di Padangaro.
Wabup menekankan pentingnya fokus pada program yang benar-benar prioritas, terutama yang berkaitan dengan pelayanan dasar dan kebutuhan masyarakat luas.
Ia juga meminta agar rencana kerja perangkat daerah tetap selaras dengan arah pembangunan yang tertuang dalam RPJMD Solok Selatan 2025–2029.
“Beberapa sektor yang akan menjadi perhatian utama pemerintah daerah tahun depan antara lain pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), program unggulan daerah, serta pembangunan infrastruktur strategis,” jelasnya.
Sementara itu, rancangan APBD tahun anggaran 2026 yang baru diserahkan ke DPRD menunjukkan tren penurunan cukup signifikan. Total pendapatan daerah diperkirakan hanya mencapai Rp729,45 miliar, turun sekitar 16,78 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sedangkan belanja daerah juga menyusut menjadi Rp726,55 miliar, atau berkurang 20,26 persen dibanding tahun ini. Pemerintah daerah menyadari bahwa penurunan ini akan berdampak pada kelanjutan sejumlah proyek dan program prioritas yang sudah direncanakan.
“Selain itu, rasio ketimpangan fiskal juga semakin melebar, sehingga belum semua amanat regulasi terkait belanja wajib (mandatory spending) dan alokasi earmark seperti 40 persen belanja infrastruktur bisa terpenuhi,” imbuhnya.
Kendati demikian, Yulian Efi optimistis bahwa dengan kolaborasi lintas instansi dan keterbukaan dalam mencari peluang pendanaan eksternal, pembangunan daerah tidak akan terhambat.
“Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Justru ini saatnya kita membuktikan bahwa Solok Selatan bisa mandiri dan kreatif dalam membangun,” tegasnya. (tno)
Editor : Novitri Selvia