Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Petani Bawang Merah Tertekan Biaya Bibit Mahal dan Risiko Musim Hujan

Muhammad Reza Bayu Permana • Selasa, 16 Desember 2025 | 13:04 WIB

Photo
Photo

PADEK.JAWAPOS.COM-Petani bawang merah saat ini menghadapi tekanan berat akibat tingginya curah hujan dan kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Selain risiko cuaca, petani juga dibebani kebutuhan modal besar untuk membeli bibit, sementara harga jual bawang merah di tingkat petani cenderung tidak stabil dan berfluktuasi.

Salah seorang petani, Heru (32), mengungkapkan bahwa biaya awal yang harus dikeluarkan sangat tinggi.

Baca Juga: Siap Dominasi Panggung Dunia: Haluan Digital Agency Kirim Kreator Terbaik RI ke China, Fokus Asah Kualitas Livestream

Untuk kebutuhan 250 kilogram bibit bawang merah, ia menghabiskan dana sekitar Rp22 juta. Dengan demikian, harga bibit mencapai Rp88.000 per kilogram, yang menjadi beban besar di awal musim tanam.

Di sisi lain, harga jual bawang merah yang diterima petani dari pedagang pengumpul atau tauke saat ini berada di kisaran Rp30.000 per kilogram.

Fluktuasi harga tersebut menimbulkan kesenjangan yang cukup jauh antara biaya produksi dan potensi pendapatan, sehingga margin keuntungan petani menjadi sangat tipis.

Baca Juga: SMP IT Al Kahfi Pasaman Barat, Bencana dan Jeritan Pendidikan

Tingginya harga bibit sejalan dengan proses persiapan yang memakan waktu cukup lama.

Untuk memastikan kualitas bibit yang optimal, petani harus melakukan pengolahan dan penyimpanan selama sekitar dua bulan sebelum bibit siap ditanam.

Proses ini menjadi bagian dari biaya modal yang tidak bisa dihindari. Dalam menghadapi kondisi alam, petani dituntut memilih varietas yang tepat.

Baca Juga: Gunung Marapi Erupsi, Status Masih Waspada Level II

Heru menjelaskan bahwa petani di Alahan Panjang mengandalkan bibit bawang varietas Birma, yang dikenal lebih adaptif di tanah lembap.

Varietas ini dipilih karena mampu tumbuh lebih cepat di musim hujan, meski harganya relatif mahal. Kendala lain muncul saat pengolahan lahan. Curah hujan tinggi membuat kondisi tanah menjadi lembek dan sulit diolah.

Petani harus menunggu hingga enam hari agar kadar air tanah berkurang sebelum dilakukan pengolahan. Jika dipaksakan, struktur tanah menjadi padat dan dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Baca Juga: Ibu Rumah Tangga di Payakumbuh Diduga Jual Anak Kandung Lewat Aplikasi Media Sosial

Untuk melindungi bibit yang bernilai tinggi, petani membuat bedengan lebih tinggi guna memastikan drainase berjalan baik.

Bawang merah juga memerlukan tingkat keasaman tanah tertentu, sehingga petani menggunakan kapur dolomit untuk menaikkan pH tanah yang cenderung asam akibat hujan berkepanjangan.

Upaya ini dikombinasikan dengan penggunaan pupuk organik guna memperbaiki struktur tanah.

Baca Juga: Dembélé vs Mbappé: Duel Bintang Prancis di The Best FIFA Men’s Player 2025

Meski persiapan lahan dilakukan maksimal, risiko serangan jamur tetap tinggi di musim hujan. Kelembapan yang tinggi memicu penyakit tanaman dan memaksa petani mengeluarkan biaya tambahan untuk fungisida.

Heru menyebutkan bahwa jika serangan jamur terjadi, petani harus melakukan penyemprotan fungisida yang cukup keras secara intensif, yakni tiga hari berturut-turut dan diulang dua hari kemudian.

Frekuensi penyemprotan ini menyebabkan biaya operasional meningkat signifikan. Menurutnya, hasil panen pada musim hujan terkadang bisa lebih baik secara kuantitas.

Baca Juga: Wali Kota Padang Diskon 50% Tagihan PDAM, Ringankan Warga Pascabencana Banjir Bandang

Namun, biaya produksi yang melonjak akibat kebutuhan obat-obatan membuat keuntungan petani semakin tertekan, terlebih dengan harga jual yang tidak menentu.

Risiko kerugian juga tinggi menjelang masa panen, yang umumnya dilakukan setelah tanaman berusia minimal 60 hari. Petani tidak dapat memanen bawang saat hujan karena bawang yang basah mudah mengalami busuk leher dan busuk simpan.

Penentuan waktu panen pun menjadi sangat krusial. Petani harus menunggu cuaca panas agar kualitas bawang tetap terjaga. “Kalau hujan, jamur banyak dan risiko busuk tinggi. Kualitas tidak bisa dijamin,” ujar Heru.

Baca Juga: Mensesneg Instruksikan Sumbar Manfaatkan Lahan Negara dan BUMN untuk Relokasi Warga Terdampak Bencana

Kondisi tersebut membuat petani berharap adanya campur tangan pemerintah. Mereka menginginkan subsidi untuk pencegahan penyakit, stabilisasi harga bibit, serta kepastian harga jual panen agar risiko kerugian dapat ditekan.

Petani menilai, tanpa dukungan kebijakan yang memadai, tingginya biaya investasi awal, risiko alam, dan ketidakpastian harga akan terus membebani usaha tani bawang merah dan mengancam keberlanjutan produksi pangan. (cr2)

 
 
 
Editor : Novitri Selvia
#bawang merah #Fluktuatif #petani bawang #Alahan Panjang