PJJ Diperpanjang, Guru PAUD Solsel Sebut Orang Tua Mendukung

Lara Putri Yulina • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 14:22 WIB
Kabut asap masih menyelimuti wilayah Solok Selatan saat kualitas udara tercatat dalam kategori tidak sehat, Minggu (18/10/2026)
Kabut asap masih menyelimuti wilayah Solok Selatan saat kualitas udara tercatat dalam kategori tidak sehat, Minggu (18/10/2026)

PADEK.JAWAPOS.COM – Perpanjangan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Kabupaten Solok Selatan mendapat dukungan orang tua murid. Kebijakan selama dua hari, Senin–Selasa (19–20 Oktober 2026), itu berlaku bagi satuan pendidikan jenjang PAUD, SD, dan SMP karena kabut asap masih mengganggu kualitas udara.

Guru PAUD Mutiara Hati, Nagari Padang Air Dingin, Kecamatan Sangir Jujuan, Hilda Fitrida Yeni, 26, menilai perpanjangan PJJ diperlukan karena kondisi udara masih berkabut dan kurang baik bagi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi anak-anak.

“Sudah semestinya dilakukan karena udara yang masih sangat berkabut, jadi tidak baik untuk aktivitas di luar ruangan,” ujarnya.

Anak Belajar di Rumah Bersama Orang Tua

Hilda mengatakan, selama PJJ, sekolah tidak memberikan tugas khusus kepada anak-anak. Namun, mereka tetap mendapat arahan untuk belajar di rumah bersama orang tua.

Anak-anak juga diberi kebebasan melakukan kegiatan belajar sesuai hal yang disukai dan disenangi. Dengan cara tersebut, kegiatan belajar tetap berlangsung di lingkungan keluarga meskipun anak-anak tidak mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah.

Menurut Hilda, pelaksanaan PJJ sejauh ini berjalan dengan baik. Para orang tua juga mendukung kebijakan tersebut karena kondisi kabut asap masih menyelimuti wilayah Solok Selatan.

Dukungan orang tua diperlukan agar anak-anak tetap mendapat pendampingan selama belajar di rumah sekaligus mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara belum membaik.

Anak Mulai Batuk dan Flu

Di tengah kondisi kabut asap, Hilda menyebut beberapa anak mulai menunjukkan gejala ringan, seperti batuk dan flu. Meski demikian, keluhan yang diamatinya sejauh ini belum tergolong parah.

Kondisi tersebut tetap perlu menjadi perhatian karena anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap dampak pencemaran udara. Namun, gejala yang dialami anak-anak itu tidak dapat dipastikan disebabkan oleh kabut asap tanpa pemeriksaan medis.

Hilda berharap kabut asap di Solok Selatan segera menghilang agar kualitas udara kembali membaik dan masyarakat dapat beraktivitas dengan nyaman.

“Semoga segera hilang kabut asapnya dan udara kembali bersih, serta pembelajaran kembali seperti sediakala,” harapnya.

Kualitas Udara Solok Selatan Tidak Sehat

Berdasarkan pantauan aplikasi IQAir pada Minggu (18/10/2026) pukul 13.00, indeks kualitas udara di Solok Selatan tercatat 162, masuk kategori tidak sehat.

Angka tersebut menggambarkan kondisi pada waktu pemantauan dan dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca serta kualitas udara. Kondisi ini menjadi salah satu konteks penting dalam pelaksanaan PJJ untuk mengurangi paparan polusi udara terhadap siswa.

Pemerintah daerah memperpanjang PJJ selama Senin hingga Selasa (19–20/10/2026) bagi siswa PAUD, SD, dan SMP. Pembelajaran tatap muka diharapkan dapat kembali berlangsung setelah kondisi udara membaik dan dinilai aman bagi anak-anak. (mg9)

Editor : Hendra Efison
PJJ Solok Selatan kabut asap Solsel kualitas udara Solok Selatan guru PAUD Solsel