Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kisah Sukses Putri Solok di Perancis Viral, Ini Respons Ex Direktur ATIP

Admin Padek • Kamis, 28 Oktober 2021 | 23:08 WIB
Photo
Photo

Kisah sukses Siska Hamdani, anak penjahit pakaian yang berhasil mengubah nasib hingga jadi expert (ahli) di sebuah perusahaan utilitas listrik di Perancis jadi viral. Kisahnya inspiratif dan diakses puluhan ribu kali (viewer).


Tempat kerja putri asal Solok, Sumbar itu saat ini adalah EDF (Électricité de France S.A) sebuah perusahaan utilitas listrik Perancis (semacam BUMN).


Usahanya yang penuh tantangan dalam menggapai pendidikan hingga meraih gelar PhD dan sukses jadi ahli di Perancis, menarik perhatian para netizen.


"Ta Bangkik Batang Tarandam," komentar  Rusdi Saleh, salah seorang netizen di akun Facebook Padang Ekspres.


Netizen lainnya bersyukur dan ikut bangga sebagai warga Indonesia asal Solok. "Alhamdulillah, sangat menginspirasi, ikut bangga karena sama-sama asli Indonesia (Solok) Sumbar. Semoga juga menjadi garis tangan anak"ku. amiin ya Allah," komen Anita Putri.


Sementara itu, mantan Direktur ATIP Padang M Arifin SE, MM  Arifin mengungkapkan bahwa Siska Hamdani sewaktu jadi mahasiswa ATIP, sudah memperlihatkan kecerdasannya. Sehingga meraih beasiswa dan cepat juga wisuda.


"Siska sangat berbeda terutama dalam hal semangat juangnya untuk meraih apa yang menjadi cita-cita dan keinginannya. Meski secara ekonomi agak kesulitan dibandingkan beberapa temannya, namun Siska terlihat tidak pernah minder dalam pergaulan di kampus," ungkap M Arifin lewat pesan WhatsApp, Kamis (28/10/2021) malam.


M Arifin yang pernah menjabat Direktur ATIP hingga status kampus di kawasan Tabing Padang itu berubah jadi Poltek ATI Padang, menyebutkan bahwa setiap kegiatan akademik dan non-akademik tetap dikerjakan dengan sungguh-sungguh oleh Siska.


Para dosen ATIP waktu itu, kata M Arifin, juga menyampaikan seperti itu. Siska tidak segan-segan jika ada hal-hal yang mesti didiskusikan dengan dosen terkait materi kuliah.


"Sehingga dosen senang dan selalu memberikan semangat pada Siska dalam menyelesaikan studinya," ujar Arifin yang biasa disapa mahasiswanya dengan panggilan Pak Alex ini.


Keberhasilan Siska dalam meraih capaian pendidikan tertinggi hingga sukses ini, kata M Arifin, hendaknya juga menginspirasi mahasiswa lainnya.


"Keterbatasan tidak menjadi alasan untuk kita meraih prestasi akademik," kata M Arifin yang kini menjadi salah seorang pejabat di Kementerian Perindustrian ini.


Menurutnya, itu bisa dicapai sepanjang kita punya niat dan cita-cita yang baik dan ditopang kerja keras serta semangat juang yang tinggi.


"Pasti ada jalan untuk  mewujudkannya. Siska adalah contoh nyata dari Itu semua. Selamat kepada Siska, semoga juga lahir Siska-Siska yang lain yang dapat mengharumkan nama Sumatera Barat dan Indonesia serta almamaternya," ungkap Pak Alex.


Keberhasilan itu, tambahnya, juga membuktikan bahwa pendidikan vokasi seperti ATIP yang sekarang menjadi Poltek ATI Padang juga bisa menelorkan alumni yang bisa berkiprah di kancah internasional.


Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Siska merupakan wanita asal Nagari Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok.


Meski sering kali dicemooh karena kondisi ekonomi keluarga, tidak membuat Siska Hamdani menyerah. Anak penjahit pakaian itu berhasil mengubah nasibnya.


Pada medio 2000-an awal, Siska Hamdani seorang mahasiswi berprestasi di Akademi Teknologi Industri Padang (ATIP) yang mendapatkan beasiswa semester gratis dari Bumi Asih, karena meraih nilai IP rata-rata 3,98-4.0. Berkat kecerdasan yang dimilikinya, ia pun berhasil menamatkan kuliah dalam waktu 2,5 tahun dari rata-rata masa kuliah di ATIP 4 tahun.


“Saya tamat ATIP tahun 2002. Saya bersyukur bisa tamat dari ATIP dalam waktu 2,5 tahun dan selama kuliah saya gratis uang semester, karena dapat beasiswa dari Bumi Asih. Beasiswa itu didapat karena saya meraih IP tertinggi dari untuk semua jurusan di ATIP,” kata Siska anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Yulizar (69) dan almarhumah Yasma Erni itu.


Sebelum kuliah di ATIP, wanita kelahiran 25 Januari 1980 itu menempuh pendidikan SD 01 Jawi-jawi dan pernah meraih juara umum di sekolahnya. Tamat tahun 1992, Siska melanjutkan sekolah ke SMP 3 Gunung Talang. Di SMP, ia pun juara berhasil meraih juara umum dan juga sering dilibatkan pihak sekolah untuk mengikuti lomba P4 tingkat Provinsi dan lomba speech contest (lomba pidato) Bahasa Inggris.


Tamat SMP tahun 1995, Siska kemudian melanjutkan sekolah ke Kota Padang, yaitu di Sekolah Analisis Kimia Padang (SMAKPA). Di sekolah yang berada di bawah Kementerian Perindustrian itu, Siska pun juga mendapakan beasiswa gratis uang SPP, karena meraih juara umum sejak dari Catur Wulan III. Meski begitu, sekolah gratis di SMAKPA juga dicemooh orang kampung ketika itu.


“Ada beberapa orang kampung yang mencemooh orangtua saya. Mereka bilang ke orangtua saya, kalau saya tidak tahu diuntung sekolah di SMAKPA, karena di SMAKPA itu biaya sekolahnya mahal. Tapi orangtua tidak menjawab apa kata orang itu, dan mereka yang mencemooh itu juga tidak tahu kalau saya dapat beasiswa full sejak tahun kedua,” ujarnya.


Siska mengatakan bahwa setelah tamat dari ATIP, ia banyak mendapat nasihat dari orang-orang hebat yang merupakan akademisi di Unand, seperti Prof. Dr.H. Novesar Jamarun, MS (Pembantu Rektor I Unand 2006-2010), Zam Sibar (dosen Jurusan Kimia Unand) dan alm. Rusdi Jamal yang pernah menjadi Wakil Rektor I Unand. “Mereka menyarankan saya untuk melanjutkan kuliah ke Universitas Gajah Mada (UGM). Dengan senang hati, saya pun kemudian mengikuti saran tersebut,” kata Siska yang dihubungi via WhatsApp.


Namun, upaya Siska untuk bisa kuliah terbentur dengan kondisi ekonomi orangtua yang pas-pasan, karena hasil dari pekerjaan sang ayah sebagai penjahit pakaian yang nyambi menjadi petani ladang itu, hanya mampu untuk biaya kebutuhan sehari-hari keluarga dan biaya sekolah dua orang adik-adiknya. Ditambah lagi adanya cemooh orang kampung terhadap keinginannya untuk melanjutkan kuliah S1 di UGM.


Meski begitu, Siska tak menghiraukan cemooh tersebut. Ia pun kemudian mencoba untuk meminta bantuan ke teman-temannya waktu sekolah di SMAKPA. Gayung bersambut, tiga orang temannya di SMAKPA bernama Ari Satriawan, Basri Hamdani dan Andre yang saat itu sudah bekerja di Jakarta, patungan untuk meminjamkan uang sebesar Rp4 juta untuk biaya masuk UGM.


Beasiswa PT Semen Padang


Tahun 2002, Siska pun masuk sebagai mahasiwi baru di jurusan Kimia Fakultas MIPA UGM. Di tahun kedua kuliah, Siska lagi-lagi dibentur persoalan ekonomi keluarga, karena orangtuanya tidak punya uang untuk bayar semester. Bahkan ketika itu, orangtuanya juga sempat mengajukan permohonan ke Pemda dengan membawa bukti hard copy IP 3,98 yang diraihnya. Tapi sayangnya, tidak dapat bantuan saat itu.


“Papa begitu sedih saat itu. Saya di tanah rantau ketika itu juga panik memikirkan uang kuliah. Setiap hari saya berdoa kepada Allah SWT agar diberi kemudahan,” ungkapnya.


Doa-nya dijabah Allah SWT. Ia mendapatkan beasiswa sebesar Rp1,2 juta dari PT Semen Padang dan dari dana beasiswa itu lah akhirnya Siska bisa membayar uang semesternya. Bukan kali itu saja, tapi PT Semen Padang juga memberikan beasiswa sampai Siska tamat kuliah pada tahun 2004.


“Total beasiswa yang saya dapatkan dari PT Semen Padang sebesar Rp2,4 juta. Beasiswa tersebut saya terima setiap semester. Bagi PT Semen Padang uang sebesar itu tidak ada apa-apanya, tapi bagi saya sangat luar biasa besarnya, karena berkat beasiswa itulah saya bisa menyelesaikan kuliah saya di UGM pada tahun 2004. Alhamdulillah, terima kasih PT Semen Padang atas kontribusinya. Kalau bukan karena bantuannya, belum tentu saya bisa bekerja dan menetap di Paris. Luar biasa efek dominonya,” kata Siska.


Kuliah di Luar Negeri


Setelah tamat dari UGM, Siska kemudian diterima bekerja di Buckman Laboratories (Asia) Pte Ltd, sebuah perusahaan multi internasional asal Amerika. Oleh perusahaan, ia ditempatkan sebagai Sales Technical Support untuk PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau selama 6 bulan. Kemudian di pertengahan 2005, ia pun mendapat tiga program beasiswa S2, yaitu beasiswa program program inpex scholarship di Jepang, beasiswa France Excellence di Ecole Nationale Supérieure de Chimie de Montpellier dan beasiswa dari Buckman Laboratories di Mervis Amerika.


Dari ketiga beasiswa tersebut, Siska pun mantap memilih beasiswa France Excellence, karena keahlian kimia di Prancis sangat terkenal di dunia. “Selain karena keahlian kimia Prancis sangat dikenal, motivasi saya kuliah di Prancis juga untuk ingin belajar bahasa Prancis, karena kalau untuk bahasa Inggris saya sudah fasih,” kata Siska.


Beasiswa France Excellence tersebut, katanya melanjutkan, tidak lah mudah untuk didapatkan. Karena beasiswa France Excellence itu diberikan kepada 150 orang di dunia dan dirinya merupakan satu-satunya dari Indonesia dan yang pertama mendapatkan beasiswa tersebut. Pada tahun 2007, ia pun berhasil mendapatkan gelar Master MSc.


“Begitu saya menerima beasiswa, saya juga sempat dicemooh oleh seseorang dari lembaga Prancis yang bekerja untuk membantu mahasiswa Indonesia. Mereka ketika itu memaksa saya untuk les bahasa Prancis 6 bulan, tapi saya tidak mau karena biaya lesnya mahal. Dan mereka juga tidak tahu kalau saya dapat summer class selama dua bulan belajar bahasa Prancis yang biayanya ditanggung oleh oleh Pemerintah Prancis,” katanya.


Setelah menyelesaikan program master di Ecole Nationale Supérieure de Chimie de Montpellier dengan skala 18,5 dari 20, pada tahun 2007 Siska kemudian melanjutkan progam PhD (setingkat doktor) Doctorat en physico-chimie des matériaux polymères atau spesialis bidang polimer untuk kabel tengangan tinggi di Université Montpellier II dengan disertasinya tentang silikon untuk aplikasi pada suhu tinggi seperti kabel keamanan. Bahkan, di Université Montpellier II, penelitian dasar terkait dengan pengisian mineral, mekanisme tahan api juga telah dipatenkan dan dipublikasikan.


Ada lima buku yang telah ditulis dan telah dipublikasikannya, serta beberapa paten yang telah dikantongi Siska selama menjalani studi PhD di Prancis. Di antaranya, Composition Aqueuse Ignifuge dari FR Paten Nasional Prancis, Fabric Comprising a transpoarent, fire-resistant coating dari European Worldwide Panten, dan Polystyréne Expancé Ignifiguré par Hydroxide d’Aluminium dari FR Paten Nasional Prancis.


“Program PhD itu juga merupakan beasiswa yang ditawarkan oleh orang Rusia di Université Montpellier II. Mereka menawarkannya, karena mereka tertarik dengan tesis saya, yaitu inovasi baru yang dapat meluruskan rambut keriting orang Afrika,” bebernya.


Setelah menyelesaikan program PhD pada tahun 2011, Siska kemudian diangkat menjadi asisten dosen di laboratorium Université Montpellier II. Kemudian pada tahun 2014-2015, menjadi asisten dosen Ingénierie des Matériaux Polymères à l’INSA de Lyon, yang merupakan pusat polimer nomor satu di Prancis. Setelah di de Lyon, Siska kemudian bekerja di Research And Innovation Engineer dari Maret 2015- Juli 2018. Dan, sejak Oktober 2018 sampai sekarang, Siska bekerja di EDF dan ditempatkan sebagai spesialis polimer di EDVANCE yang merupakan anak perusahaan EDF.


Kini, Siska tinggal Kota Versailles, dekat Paris, Perancis, dan telah menikah dengan ahli IT di perusahaan Saint Gobain untuk Aerospace, dan juga seorang muallaf berkebangsaan Prancis bernama Jerome pada Desember tahun 2009 di kampung halamannya Nagari Guguk, Kabupaten Solok.


Dari pernikahannya, Siska-Jerome dikaruniai dua orang anak yang masing-masing bernama Sileana Nilam (9 tahun), dan Emili Intan (2,5 tahun). Meski sudah belasan tahun di Prancis, Siska pun hingga kini masih tetap berstatus sebagai warga kebangsaan Indonesia (WNI).


“Sampai sekarang ini saya masih megang paspor hijau. Meski lama di Perancis dan anak saya juga sudah sekolah di Perancis, sampai sekarang tidak terpikir untuk menjadi warga negara Perancis, karena kalau menjadi warga negara Perancis, status sebagai WNI akan hilang. Tapi sebaliknya, di Prancis ini seorang WNI tidak akan berpengaruh kalau lama-lama menetap di Perancis. Saya di Perancis bayar pajak, dan saya juga punya kartu residence Perancis yang masa berlakunya 10 tahun. Kemudian, juga aneh rasanya kalau kita pulang kampung ke Indonesia, tapi minta Visa,” ujarnya.


Kemudian ketika ditanya apakah pihak Indonesia pernah menawarkan untuk pulang ke Indonesia dan dijanjikan pekerjaan? Siska pun mengatakan bahwa sudah ada beberapa kali tawaran menjadi dosen, yaitu dari Universitas Bina Nusantara (BINUS) dan UGM. Di BINUS, tawaran tersebut langsung datang dari Rektornya. “Sedangkan di UGM, tawaran itu dari pembimbing saya waktu kuliah di UGM. Namun karena saya punya penyakit autoimun sejak 2006, makanya tawaran itu saya tolak,” katanya.


Selain autoimun, sebut Siska, matanya juga sudah rabun. Bahkan kalau pulang kampung, dia pun kadang dibilang sombong, padahal dirinya tidak bisa melihat orang dengan jelas, kecuali jarak dekat, misalnya sekitar 10-15 meter. Kalau lebih dari itu, agak samar pandangannya. Biaya pengobatan di Indonesia juga mahal. Sedangkan di Prancis, biaya medical ditanggung pemerintah.


“Kemudian kalau untuk kerja pun di Perancis juga tidak masalah. Di Perancis, toleransinya tinggi, karena yang mereka inginkan itu hanya hasil. Jadi, itulah sebabnya kenapa sampai sekarang ini saya memilih untuk menetap di Perancis ini, meskipun awalnya saya tidak ada niat sedikit pun untuk menetap di Perancis. Namun begitu, saya rutin pulang kampung sekali setahun, kecuali sejak pandemi Covid-19 ini,” ujarnya.


Di akhir percakapan via WhatsApp, Siska pun menitip pesan kepada anak-anak Sumbar dan para penerima beasiswa dari PT Semen Padang khususnya, bahwa kesuksesan yang diraih saat ini, tidak terlepas dukungan banyak pihak dan doa dari orangtua.


“Teruslah rajin, giat belajar dan kejar cita-cita mu. Jangan pernah menyerah dan tidak usah dihiraukan apapun ocehan dan celaaan orang lain terhadap diri mu, karena sesungguhnya saingan terberat itu adalah diri mu sendiri. Saya harap, pesan ini dapat memotivasi adik-adik saya yang mendapatkan beasiswa dari PT Semen Padang,” katanya.


Dihubungi terpisah Yulizar, ayah dari Siska, mengaku bersyukur dan bangga atas kesuksesan anak sulungnya itu. Ia dan istrinya sempat melarang Siska untuk melanjutkan kuliah ke Perancis, karena penghasilan Siska saat bekerja di perusahaan Amerika setelah lulus dari UGM sangat besar, sekitar 1.000 US Dollar. Di tambah lagi Siska yang saat itu masih berstatus lajang, tentunya sebagai orangtua ia dan istrinya khawatir membiarkan anaknya seorang diri terpisah jauh di Eropa. “Karena Siska tetap gigih pada pendiriannya, saya dan mamanya merestui keingingan Siska untuk kuliah di Perancis,” kata Yulizar.(esg/hsn)

Editor : Admin Padek
#ATIP Padang #Kisah Sukses Siska Hamdani #Poltek ARI Padang #SMAK Padang #kementerian perindustrian #Viral Siska Hamdani #Direktur ATIP #M Arifin