Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Historikal Gempa Besar di Sumbar, Pengulangan Sejarah yang Terlupakan

Hendra Efison • Sabtu, 26 Februari 2022 | 13:59 WIB
Derita akibat gempa, warga Pasaman Barat di pengungsian.
Derita akibat gempa, warga Pasaman Barat di pengungsian.
Bencana memang menjadi takdir ilahi dan tak satupun insan bisa mengetahui kapan peristiwa itu akan terjadi lagi. Meskipun begitu trend dan periodenisasi peristiwa setidaknya bisa menjadi tuntutan bagi kita bersama untuk lebih siaga demi meminimalisir risiko bencana.

“Zamrud Khatulistiwa” yang dilabelkan untuk ranah Minang ini tidak didapat dengan gratis seperti itu saja. Negeri yang indah ini tercipta juga tak terlepas dari potensi bencana. Baik letusan Gunung Api maupun aktivitas gempa tektonik hingga gempa Vulkanik. Lihatlah hamparan Danau, lembah dan panorama, Gunung api dan lainnya. Semuanya itu tak terlepas dari aktivitas dan peristiwa alam.

Kalau kita bicara gempa, sebetulnya bencana ini ada siklus dan periodenisasinya. Pergeseran kerak  bumi dan lempeng bumi terlalu sering kita abaikan. Kita lebih memilih ribut dan kewalahan setelah peristiwa terjadi. Langkah langkah mitigasi dan antisipasi akan timbulnya peristiwa cendrung kita lupakan. Akibatnya, begitu bencana datang kita kelimpungan. Kita panik dan korban jiwa terus berjatuhan.

Cukup banyak fakta sejarah membuktikan kepada kita bahwa gempa darat di Sumatera Barat ini selalu berulang. Dikutip dari berbagai sumber, sangat banyak catatan sejarah penting tentang peristiwa gempa besar yang dapat menjadi pelajaran bagi kita bersama.

Dari catatan dan periodenisasi bencana gempa, Sumatera Barat memiliki siklus periodenisasi 200 tahun-an. Begitu juga dengan gempa di daratan dengan periodenisasi yang relative lebih pendek antara 40 tahun-an hingga 70 tahun-an. Dalam satu Abad terakhir setidaknya tercatat pernah terjadi 20 kali gempa besar. Gempa ini banyak menimbulkan korban jiwa dan harta. Seperti apa dan kapan kejadiannya berikut catatannya :

1 Oktober 1822

Lokasi: Padang. Di Padang terasa 3 kali goncangan keras, terdengar suara gemuruh di bawah tanah antara Gunung Talang dan Gunung Marapi. Namun sayangnya gempa ini tak tercatat dengan akurat seberapa besar kekuatannya dan berapa besar dampak kerusakan yang ditimbulkannya.

26 Agustus 1835

Lokasi: Padang. Kerusakan ringan dan retakan pada bangunan di Padang. Gempa ini juga kembali tak tercatat dengan baik terutama episentrum dan dampak kerusakan yang ditimbulkan.

1892

Lokasi: Sorik Merapi Kabupaten Pasaman.

5 Juli 1904

Terjadi tsunami di Pantai Siri Sori

28 Juni 1926

Gempa ini sangat melegendaris bagi para orang tua kita. Malahan tak jarang Gempa 28 Juli 1926 di Padang Panjang ini menjadi penanda kapan lahirnya seseorang. Gempa ini berlangsung cukup lama, karena setelah gempa utama dengan kekuatan 7,6 Skala Richter dilanjutkan dengan gempa susulan. Hampir seminggu gempa susulan terus bersahutan sehingga masyarakat menjadi trauma dan memilih untuk bertahan di luar rumah.

Dari catatan yang berhasil dihimpun Gempa Padang Panjang ini menelan korban jiwa sebanyak 354 orang. Terjadi di sekitar Danau Singkarak, Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Padang Panjang, Kabupaten Solok, Sawahlunto, dan Alahan Panjang. Gempa susulan mengakibatkan kerusakan pada sebagian Danau Singkarak. Di Kabupaten Agam (Bukit Tinggi-Bonjol) Sebanyak 472 rumah roboh di 25 lokasi, 57 orang tewas, 16 orang luka berat. Di Padang Panjang 2.383 rumah roboh, 247 orang tewas. Terjadi rekahan tanah di Padangpanjang, Kubu Kerambil dan Simabur.

8 dan 9 Juni 1943

Lokasi: Singkarak. Kekuatan: 7,2 SR, tujuh jam kemudian 7,5 SR. Skala 7.5 adalah gempa bumi terbesar yang terjadi di patahan Sumatera sejak akhir abad 19. Sayang gempa ini juga tak tercatat dampak kerusakan yang ditimbulkan.

8 Maret 1977

Lokasi: Pasaman. Terjadi pada kedalaman 22 KM. Di Sinurat (Talu): 737 rumah, 1 pasar, 7 sekolah, 8 mesjid dan 3 kantor rusak. Di Talu 245 rumah, 3 rumah dan 8 mesjid rusak. Retakan tanah antara 5 – 75 meter.

13 November 1981

Lokasi: Padang. Terjadi pada kedalaman 30 KM. Retakan dinding, bergesernya lemari & kaca jendela pecah di Padang & Painan.

2 Juli 1991

Lokasi: Padang. Terjadi pada kedalaman 54 KM Kerusakan ringan bangunan di Padang. Getaran terasa di Padang Panjang hingga Singapura.

7 Oktober 1995

Lokasi: Kerinci-Sungai Penuh. Terjadi pada kedalaman 33 KM. Sebanyak 84 orang tewas, 558 org luka berat dan 1.310 org luka ringan. 7.137 rumah, transportasi, irigasi, tempat ibadah, pasar dan pertokoan rusak. Liquefaction di desa Penawar, Kec. Sitinjau Laut. Retakan tanah berarah N 340 E – N 35 E di desa Sebukar, Koto Iman, Tanjung Tanah & Kayu Aro. Longsoran di Kampung Benik Selatan Danau kerinci.

25 Januari 2003

Lokasi: Malalak. Terjadi pada kedalaman 12 KM.  Kerusakan ringan sejumlah 80 bangunan di Lubuk Durian, Damar, Simik Air, Jorong Paladangan Kanagarian Malalak, Kec. IV Koto, Kab. Agam, berupa : lepasnya plesteran dinding, retakan dinding & kolom. Gempa ini bersifat lokal. Gempa tektonik lokal ini diawali tgl 20 s/d 25-01-2003. Getaran terasa di Kota Padang Panjang dan Malalak.

16 Februari 2004

Lokasi: Tanahdatar. Terjadi pada kedalaman 33 KM. Sebanyak 6 orang meninggal, 10 orang luka-luka, 70 rumah rusak, listrik mati sekitar 30 menit di Kab. Tanah Datar. Kerusakan melanda desa Pitalak, Gunung Rajo, Nagari Pitala, Paninggahan, Kec. Batipuh, Kab. Tanah Datar. Terjadi longsoran di Gunung Rajo, Paninjauan. Terjadi retakan jalan antara Gunung Rajo – Padang. Getaran gempa terasa kuat di Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Solok, Sawah Lunto, Sijunjung, Agam, dan Batusangkar.

22 Februari 2004

Lokasi: Pessel. Terjadi pada kedalaman 43 KM. Sebanyak 1 orang meninggal, 1 orang luka berat, 5 orang luka ringan, 151 bangunan & rumah rusak di Kab. Pesisir Selatan. 3 rumah roboh di Kec. Sutra. Getaran terasa kuat di kota Padang hingga Painan. Wilayah yang mengalami kerusakan : Kampung Gunung Pauh, Kampung Taratak Paneh, Kenagarian Amping Parak, Kec. Sutra; Nagari Surantih, Nagari Tuik, Kec. Batang Kapas; Kampung Kapeh Panji, Kec. Bayang; Kampung Ampang Pulai, Kec. Koto XI Tarusan, Kec. IV Jurai, Kec.Lengayang, Kec. Ranah Pesisir & Kec. Linggo Sari Baganti

9 April 2004

Lokasi: Pessel. Terjadi pada kedalaman 42,6 KM. Beberapa rumah penduduk retak-retak di perbatasan Kota Padang & Kabupaten Pesisir Selatan.

 10 Mei 2005

Lokasi: Kepulauan Mentawai. Gempa dirasakan di Padang, Padangsidempuan, Nias dan Pekanbaru dan Kuala Lumpur, Malaysia.

6 Maret 2007

Lokasi: Padangpanjang. Kedalaman 10 KM. Sebanyak 66 sekolah rusak. Tercatat 55 orang yang dirawat di RSU Padang Panjang, dan 4 orang meninggal dunia.

 12 September 2007

Kedalaman10 KM. Lokasi: Kepulauan Enggano. Gelombang pasang yang kemudian membanjiri sedikitnya 300 rumah penduduk dan bangunan di Pulau Pagai, Kepulauan Mentawai sampai setinggi 1 meter, 21 tewas.

16 Agustus 2009

Lokasi: Pulau Siberut. Kedalaman 32 KM. Puluhan rumah rusak di Siberut Kepulauan Mentawai.

30 September 2009

Lokasi: Padang, 57 KM dari barat laut Pariaman. Gempa berkekuatan 7,5 SR. Gempa ini menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah di Sumatera Barat seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat. Menurut data Satkorlak PB, sedikitnya 1.117 orang tewas akibat gempa ini yang tersebar di 3 kota & 4 kabupaten di Sumatera Barat, korban luka berat mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang. Sedangkan 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, & 78.604 rumah rusak ringan

 25 Februari 2022

Lokasi : Kanagarian Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat. Gempa ini memiliki kekuatan 5,2 SR dan 6,2 SR. Sampai saat ini baru terdata 6 orang meninggal. Ratusan rumah rusak, ratusan hektar areal pertanian hancur. Getaran gempa ini terasa sampai ke Provinsi tetangga seperti Riau dan Jambi hingga ke Negeri jiran. Gempa ini terbilang dangkal karena berada di bawah kedalaman 10 Km. Ini pula yang memicu daya rusak yang tinggi.

Selain merusak bangunan, gempa ini juga menimbulkan banjir bandang dan galodo yang melanda Kecamatan Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman. Limpahan bencana ini tak bisa dihindari karena aliran sungai dan anak sungai dari Gunung Talamau di Pasaman Barat tersebut memang banyak yang bermuara ke Kecamatan Tigo Nagari.

Seven Segmen Gempa

Sumatera Barat memiliki Seven Segmen gempa yang saling berangkai antara satu segmen dengan segmen yang lainnya. Selain patahan utama (patahan Semanko) yang membentang dari Pantai Barat Aceh hingga ke Teluk Semangko provinsi Lampung, Sumatera Barat juga dilengkapi dengan Seven Segmen gempa lainnya.

Menurut Ade Edward yang merupakan salah satu tim peneliti Neotectonic of The Sumatran Fault, Indonesia, 2000, membagi Patahan Sumatra ini menjadi 3 wilayah. Pertama yaitu wilayah Utara, Tengah dan Selatan, namun secara keseluruhan, berdasarkan pengamatan pada peta topografi dan foto udara, dibagi menjadi 19 segmen.

Dari 19 Segmen Patahan Sumatera 7 di antaranya terdapat di wilayah Provinsi Sumatera Barat dan akan berdampak langsung terhadap masyarakat yang berada pada zona-zona rentan. Adapun ketujuh segmen tersebut adalah Pertama, segmen Siulak (2.25°S ~ 1.7°S), segmen Suliti (1.75°S ~ 1.0°S), segmen Sumani (1.0°S ~ 0.5°S), segmen Sianok (0.7°S ~ 0.1°N), segmen Sumpur (0.1°N ~ 0.3°N), Segmen Barumun (0.3°N ~ 1.2°N) dan segmen Angkola.

  1. Segmen Angkola


Ujung utara segmen ini bermula pada Lembah Batang Toru, menyisir lembah Sungai Batang Angkola dan Batang Gadis di wilayah Sumatera Utara. Sementara ujung Selatannya berada di wilayah Sumatera Barat di dekat Lembah Batang Pasaman. Panjang segmen 160 km dengan Potensi kekuat gempa maksimum pada segmen ini adalah 7,6 MMI.

Gempa kedua dengan kekuatan 6,2 Skala Richter kemarin merupakan gempa kembar dari dua Segmen. Gempa pertama berkekuatan 5,2 SR itu berada di Segmen Sumpur sedangkan gema kedua memicu segmen Angkola dengan kekuatan 6,2 SR. Inilah yang dinamai gempa kembar.

“Ini lumrah saja dan alami, sebab antara satu segmen dengan segmen yang berdekatan akan sangat saling mempengaruhi. Alam itu bereaksi dan mencari keseimbangan. Begitu segmen Sumpu mengeluarkan energi maka segmen Angkola yang berdekatan akan bereaksi pula,” ujar Ade Edwar.

Dari catatan sejarah, Segmen Angkola ini pernah menghasilkan goncangan kuat pada tahun 1892 di sepanjang Lembah Batang Gadis dan Sungai Angkola di antara Malintang dan Lubuk Raya Volcanoes (Visser, 1922 dalam D. Hilman dan K Sieh, 2000).

  1. Segmen Barumun


Ujung Utara berada di Wilayah Sosopan Julu, Sumatera Utara, menyusuri Lembah Sungai Barumun. Bagian Selatan segmen ini berada di Wilayah Provinsi Sumatera Barat. Panjang segmen 125 km dengan potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah 7,6 MMI. Lembah Aliran Batang Asik dan hamparan lembah (depresi) Batang Sumpur di daerah Panti dan Sitompa hingga Sunpadang merupakan bukti dari adanya  pergeseran vertikal berupa amblasan pada bagian segmen ini.

  1. Segmen Sumpur


Segmen Sumpur di bagian Utara berujung pada sisi Selatan Depresi Sumpur, di Selatan Panti, kemudian menyisir Lembah Batang Sumpur ke Tenggara, Salabawan, hingga Bonjol, menyusuri Sungai Silasung. Panjang segmen 35 km dengan potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah 6,9 MMI.

  1. Segmen Sianok


Segmen ini memanjang dari sisi Timur Luat Danau Singkarak, melewati sisi Barat Daya Gunung Marapi hingga Ngarai Sianok. Panjang segmen 90 km dengan potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah 7,3 MMI. Gempa terbesar pernah tercatat pada segmen ini yaitu pada 4 Agustus 1926 dengan pusat hancuran antara Bukit Tinggi dan Danau Singkarak. Data terbaru mencatat bahwa  6 Maret 2007 (6,4 MMI dan 6,3 MMI)  juga terjadi gempa merusak pada segmen ini bersama sama dengan segmen Sumani dan mengakibatkan banyak kerusakan di daerah Batu Sangkar dan Solok.

  1. Segmen Sumani


Ujung Utara segmen ini berada di sisi Utara Danau  Singkarak, menyirisi sisi Barat Daya danau tersebut melintasi daerah Kota Solok, Sumani, Selayo dan berakhir di Utara Danau Diateh Tenggara Gunung Talang. Panjang segmen 90 km dengan potensi 65 km kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah M 7,2.

Gempa merusak tercatat terjadi pada 9 Juni 1943, 7.4 (MMI),  di bawah Danau Singkarak dan menghasilkan pergeseran horizontal sejauh 1 m 4 (D. Hilaman Natawijaya dkk. 1995), dan gempa pada 6 Maret 2007 juga telah menyebabkan banyak kerusakan di sepanjang segmen ini dari Sumani hingga Selayo.

  1. Segmen Suliti


Ujung Utara segmen berada pada Danau Diatas dan Danau Dibawah dengan lebar zona 4 km pada wilayah tersebut. Patahan Sumatera pada segmen ini menelusuri lembah Sungai Suliti ke Tenggara hingga anak-anak Sungai Liki di Barat Laut Gunung Kerinci, dengan panjang total 90 km. Potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah 7,4 MMI.

Gempa merusak pada segmen ini pernah terjadi pada 9 Juni 1943, M 7,1 (Pacheco dan Sykes, 1992). Menyebabkan kerusakan parah pada bagian Utara Segmen hingga Muarolabuh.

 Segmen Siulak

Ujung Selatan Segmen ini berada di wilayah Jambi menyusuri lembah di Barat Daya hingga Barat Laut Gunung Kerinci, overlap dengan segmen Suliti di wilayah Solok Selatan dengan panjang total 70 km. Potensi kuat gempa maksimum pada segmen ini adalah 7,2 MMI.
Gempa merusak pernah terjadi pada segmen ini pada 9 Juni 1909 dan  diyakini berkekuatan 7,7 (Abe, 1981) dan menyebabkan kerusakan parah hampir di sepanjang segmen. Kerusakan pada gempa 6 Oktober 1995, M 7,0 diberitakan terjadi pada area yang cukup luas di lembah Barat Laut Danau Kerinci (Kompas 7 Oktober 1995).

Waspadai Segmen Suliti

Dari seven segmen yang berada di Sumatera Barat khususnya segmen darat enam diantaranya sudah melepaskan energy. Satu diantaranya belum. Adapun segmen yang perlu diantisipasi dan dipersiapan mitigasinya adalah segmen Suliti.

 

Jika kita belajar dari peristiwa demi peristiwa ada siklus yang terbilang pendek dan akan terus berulang sepanjang masa. “Trend gempa darat ini terbilang pendek dengan siklus antara 40 tahun-an sampai dengan 70 tahun-an. Kini dari 7 segmen tadi tinggal Segmen Suliti yang belum lepas energynya. Untuk itu pemerintah dan masyarakat juga musti mewaspadainya”, ujar Ade.

Pedomani Bulan Hijriah

Hampir 70 persen bencana besar yang terjadi di dunia re rata terjadi +/- 3 menjelang dan setelah bulan purnama. Selain itu kecendrungan bencana juga terjadi pada transisi bulan Hijriah. Dari statistik data bencana yang pernah kami miliki priodenisasi itu sering terjadi.

“Ini berkaitan dengan Gravitasi bumi. Waktunya pun terbilang cukup riskan. Re rata menjelang dan setelah matahari terbit dan siklus keduanya setelah matahari terbenam. Itupulah yang diingatkan oleh ajaran Islam dengan perintah ibadah Dhuha dan tahjud”, ujar Ade Edward.

Gampa Talu dan Galodo Malampah

Gempa dan Galodo cendrung seiring. Ini tak terlepas dari karakter bumi sendiri yang mencari kesimbangan pasca aktivitas pelepasan energy. Secara logika sederhana, gempa memicu retakan. Retakan memiliki karakter menyerap air tapi tak mampu menahan air. Artinya, ketika retakan itu diisi air maka secepat itu pula tanah tadi akan melepaskan air dan memicu galodo.

“Khusus di Malampah, dihulunya ada Gunung Api Talamau yang memang secara karakter merupakan reservoir air. Gunung Api itu adalah penyimpan air terbaik dan terbanyak. Ketika terjadi gempa maka tanah diseputar dan jalur tadi meretak, retakan itu disiram air hujan maka tanah berubah sifat menjadi guyor. Longsoran akan terjadi dan mencari titik terendah. Malampah merupakan mata rantai yang terkait erat dengan itu,” ujar Ade.

Bisa memacu Aktivitas Vulkanik

Alam pastilah akan mencari keseimbangan. Begitu juga dengan pergerakan kulit bumi yang didalam juga tersimpan dapur magma gunung api. Ketika dapur dan magma itu terguncang maka dia akan bereaksi. Reasinyapun beragam, mulai dari meningkatnya aktivitas di dapur magma bisa juga memicu aktivitas vulkanis menjadi meningkat.

“Gunung Talamau adalah salah satu Gunung Api di Sumatera Barat. Tak tertutup kemungkinan, gempa kembar (Segmen Sumpur dan Segmen Angkola) kemarin memicu aktivitas magma di dapur Gunung Talamau. Semoga saja itu tak terjadi dan kita sama berdoa agar bencana Gempa ini tak berlanjut dengan bencana yang lainnya,” ucap Ade.

Belajarlah dari Peristiwa Alam

Apa yang bisa kita petik dari peristiwa demi peristiwa diatas tadi. Kita harus mengambil pelajaran dan hikmah dari rentetan peristiwa itu. “Ini takdir alam dan kita tak bisa menghindari. Satu satunya jalan yang bisa kita lakukan adalah mengantisipasi dampak. Untuk itu belajarlah kita bersama dari peristiwa alam ini.

“Alam ini tidak akan pernah memberikan bencana secara tiba tiba. Selalu ada tanda tanda (warning-red) sebelum terjadinya. Cuma kita saja yang abai dengan tanda tanda itu. Ambil contoh kenapa gempa Pasaman Barat ini terbilang relative kecil korban jiwanya? Karena gempa pertama 5,2 SR masyarakat sudah lari keluar bangunan dan setelah gempa kedua 6,2 SR datang re runtuhan tak lagi menimpa penduduk”, ujar Ade.

Ambilkah pelajaran dari peristiwa demi peristiwa. Yakinlah gempa itu akan tersu berulang sepanjang masa. Mari kita dengan alam. Caranya pelajari karakternya dan siapkan mitigasi dengan sebaik. “Jangan hanya terfokus untuk persiapan mitigasi gempa laut, ingat gempa darat ini juga tak kalah lebih fatal resikonya karena rerata berada pada kawasan hunian penduduk”, tukuk Ade. (two efly) Editor : Hendra Efison
#Historikal Gempa Besar di Sumbar #Gempa Pasbar