“Jadi nama “karabu” sendiri merupakan singkatan dari bakar dengan abu, yang artinya belut dibakar dengan abu (tempurung),” jelas Pemilik Rumah Makan Karabu Baluik Si It, Taufik kepada Padang Ekspres.
Ia menyebutkan, karabu baluik berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota dan Payakumbuh. Untuk bisa membuat karabu baluik yang enak, yang hal harus diperhatikan adalah mendapatkan belut dengan ukuran besar.
Biasanya jenis belut yang dimasak mejadi karabu baluik didatangkan dari Provinsi Jambi dan Riau. Adapun pengolahan karabu baluik dimulai dari membersihkan dan memotong belut menjadi beberapa bagian sebesar seruas jari orang dewasa.
Setelah dibersihkan, belut yang dipotong-potong dilumuri dengan bawang putih yang telah dihancurkan dan air jeruk nipis. Taufik menjelaskan, tujuan belut dilumuri air jeruk, agar belut tidak amis. Setelah dilumuri, belut dibakar dengan bara api tempurung.
Pemilik rumah makan yang berlokasi di Iman Bonjol, Kelurahan Padang Tinggi Piliang Koto Nan IV Payakumbuh ini mengingatkan, membakar belut membuat karabu baluik dengan membakar ikan bakar sangatlah beda.
“Selama membakar belut, belut harus diguling-guling dengan sendok agar terbakar rata sekitar 30 menit dengan api bara api,” ucapnya.
Setelah sekitar 30 menit, belut yang dibakar, lalu diangkat dari pemanggangan. ”Setelah belut telah dibakar, kemudian kita memanaskan wajan yang telah disi oleh santan, cabai merah giling, irisan bawang merah, cabai rawit dan air jeruk dan sedikit jahe yang giling sebagai kuahnya,” sebut.
Kemudian setelah panas, santan yang dicampur aneka rampah tersebut, lalu kita memasukan belut yang telah dibakar tadi. Tidak butuh lama, sekitar 15 menit karabu baluik sudah bisa dinikmati.
“Sedikit pedas, karena ada cabai rawitnya, cocok untuk buka puasa dan mereka yang masa penyembuhan,”sebut Taufik. Ia menambahkan karabu baluik bisa bertahan selama 20 jam tanpa disimpan di kulkas. (rid) Editor : Novitri Selvia