Kedua jurnalis itu merupakan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang. Febrianti bekerja untuk Majalah Tempo, dan Fajar jurnalis Harian Padang Ekspres.
Ketua AJI Padang Aidil Ichlas menyambut dengan suka cita masuknya dua nama itu dalam daftar nominasi.
Menurutnya, kedua jurnalis anggota AJI Padang itu telah terbukti kerap menghasilkan liputan yang berkualitas dan bermanfaat bagi publik.
"Febrianti dan Fajar adalah dua jurnalis yang selalu fokus dan berintegritas. Mereka menjadi panutan dan kebanggaan kami. Semoga capaian ini bisa menginspirasi anggota AJI Padang lainnya untuk terus menghasilkan karya-karya terbaik," ujarnya.
Seperti yang dikutip dari akun instagram OfficialDewanPers (akun resmi Dewan Pers), (Karya jurnalistik Fajar berjudul "Lida Ajer" dan karya jurnalistik Febrianti "Tumbangnya Hutan Terakhir Pulau Pagai Utara", bersaing menjadi pemenang dengan tiga karya lain, yakni hasil liputan jurnalis Koran Sindo dan jurnalis Tempo lainnya. Total ada lima nominasi dalam penghargaan yang sejak 2021 di gelar Dewan Pers itu.
Tulisan Febrianti mengangkat tentang kondisi hutan di Pulau Pagai Utara (Sumatera Barat) dan perjuangan masyarakat setempat untuk menjaga hutan terakhir di daerah itu. Sedangkan Fajar menulis tentang keberadaan Goa Lida Ajer di Kabupaten Limapuluh Kota, yang merupakan saksi zaman purbakala.
Bagi Febrianti, menjadi nominasi di anugerah Dewan Pers itu sudah kali kedua, atau sepanjang anugerah itu digelar. Pada 2021, dia bersaing dengan jurnalis Tempo dan Harian Kompas. Sementara bagi Fajar Rillah Vesky, ini merupakan keikutsertaan pertamanya.
Febrianti adalah jurnalis perempuan yang sudah puluhan tahun berkiprah di dunia jurnalistik. Pemegang kompetensi utama ini sering meliput persoalan lingkungan dan masyarakat adat.
Sementara, Fajar Rillah Vesky yang bernama asli
M. Fajar Rillah Vesky tercatat sebagai wartawan utama sertifikasi Dewan Pers. Sejak 2005 sampai sekarang, bekerja di Padang Ekspres (Jawa Pos Group). Sempat menjadi Koordinator Liputan Harian Rakyat Sumbar Utara (anak perusahaan Padang Ekspres yang kini berganti nama menjadi Rakyat Sumbar).
Fajar Rillah Vesky sudah menulis sejak duduk di bangku MTSN. Sewaktu SMA, sudah bekerja untuk sejumlah media cetak terbitan Sumbar. Diantaranya, menjadi Redaktur Pelaksana Mingguan Rakyat Mandiri (Payakumbuh), Redaktur Mingguan Deteksi (Bukittinggi), Pemimpin Redaksi Tabloid Nagari (Limapuluh Kota), Redaktur Pelaksana Majalah Pendidikan Sukma (Payakumbuh), Redaktur Tabloid Pendidikan Pena Indonesia (Payakumbuh).
Karyanya semasa SMA, berupa opini berjudul “Jangan Paksa Kami Ujian Nasional”, pernah diterbitkan pada halaman Humaniora di Harian Kompas. Sedangkan puisinya berjudul “Dua Episode Pacara Merah”, menjadi pemenang dan diterbitkan sebagai judul buku Antologi Puisi Dewan Kesenian Sumatera Barat.
Fajar Rillah Vesky juga telah menulis sejumlah buku. Diantaranya, “Tambiluak, Tentang PDRI dan Peristiwa Situjuah (Pengantar Profesor Mestika Zed)”. Kemudian, buku sejarah “40 Tahun Payakumbuh: Dari Soetan Oesman Hingga Josrizal Zain (ditulis bersama Rendra Trisnadi) dan buku sejarah 45 Tahun Payakumbuh: Tumbuh Kembang Sebuah Kota (ditulis bersama sastrawan Gus tf Sakai).
Dalam perjalanan sebagai jurnalis, Fajar Rillah Vesky pernah meraih penghargaan PWI Award dari Ketua PWI Pusat Margiono untuk penulisan buku sejarah "Tambiluak, Tentang PDRI dan Peristiwa Situjuah”.
Kemudian, beberapa kali meraih penghargaan Rida Award dari CEO Riau Pos Rida K Liamsi untuk karya feature dan indeptnews, serta pernah masuk nominator Dahlan Iskan Award untuk kategori feature. Selain itu, juga menerima beberapa penghargan lainnya di bidang jurnalistik, sastra, dan sosial.(rel) Editor : Admin Padek