Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Mentawai, Rudi, mengungkapkan, kedua korban ditemukan di lokasi berbeda.
Korban pertama, Genesta, 9, seorang siswi sekolah dasar, ditemukan sekitar pukul 09.10 WIB di koordinat 1°40'59.55"S 98°53'2.95"E, sekitar empat kilometer dari lokasi kejadian awal.
“Jenazah Genesta ditemukan tim SAR gabungan saat penyisiran di sepanjang pantai. Namun, evakuasi ke markas Basarnas tertunda karena gelombang tinggi,” jelas Rudi kepada padek.jawapos.com.
Sementara itu, korban kedua, orangtuanya bernama Berdanius, 40, ditemukan tim SAR menggunakan RIB 02 Mentawai pada pukul 10.30 WIB.
Berdanius juga dikenal sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPDes) Beriulou, Kecamatan Sipora Selatan.
Jenazah warga Beriulou ini ditemukan mengapung di laut pada koordinat 1°41'24.00"S 98°52'26.00"E, sekitar 2,29 mil laut dari titik kejadian awal.
“Jenazah Berdanius langsung dievakuasi ke dermaga Pei-Pei dan kemudian dipindahkan ke dermaga Tuapejat, Mentawai. Saat ini, kedua jenazah menunggu penjemputan oleh pihak keluarga,” tambah Rudi.
Hingga kini, tim SAR masih mencari korban ketiga, Paska Aprilia, 12, yang belum ditemukan.
“Kami fokus melakukan pencarian terhadap korban hilang dengan melibatkan semua elemen SAR gabungan,” kata Rudi.
Terhempas Gelombang
Insiden terjadi pada Rabu (25/12/2024) pagi, saat longboat yang membawa delapan penumpang dari Pei-Pei menuju Muara Masi Sagulubeg terhempas gelombang akibat cuaca buruk.
Lima penumpang berhasil selamat, namun satu di antaranya, Bernita,16, siswa SMA asal Desa Beriulou, meninggal dunia akibat kelelahan saat berenang ke pantai.
Dari tiga penumpang yang dinyatakan hilang, dua di antaranya telah ditemukan dalam kondisi meninggal. Proses pencarian terhadap satu korban lagi terus dilakukan. "Nama-anaknya, Bernita, Paska Aprilia dan Geneste. Paska Aprilia yang belum ditemukan," kata Rudi.(*)
Editor : Heri Sugiarto