Data yang dirilis BMKG Stasiun Geofisika Padangpanjang menunjukkan bahwa wilayah Sumatera Barat (Sumbar) tetap menjadi salah satu kawasan dengan aktivitas seismik tinggi di Indonesia.
Frekuensi gempa tertinggi di Sumbar terjadi pada Maret 2024, dengan catatan 104 kejadian gempa dalam satu bulan. Bulan lain dengan jumlah gempa yang cukup tinggi adalah Januari (88 gempa) dan April (86 gempa).
Gempa-gempa tersebut sebagian besar memiliki magnitudo kecil hingga menengah, dengan rincian sebagai berikut:
- Magnitudo < 3: 435 gempa
- Magnitudo 3-5: 336 gempa
- Magnitudo > 5: 10 gempa
- Magnitudo tertinggi: 5,7
- Magnitudo terendah: 1,3
Dari segi kedalaman, mayoritas gempa memiliki kedalaman kurang dari 60 km (708 gempa), diikuti oleh gempa dengan kedalaman 60-300 km (72 gempa) dan hanya satu gempa yang terjadi pada kedalaman lebih dari 300 km.
30 Gempa Dirasakan Warga
Dari total 781 gempa, sebanyak 30 kejadian dirasakan oleh masyarakat dengan intensitas antara II-IV MMI.
Gempa-gempa ini dirasakan di berbagai wilayah seperti Padang, Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Solok, Bukittinggi, dan Batusangkar.
Gempa paling signifikan terjadi pada 16 Desember 2024, pukul 10:50:04 WIB, dengan magnitudo 5,0 dan kedalaman 20 km. Guncangan ini dirasakan cukup kuat di wilayah:
- Agam, Pariaman, Padangpariaman, Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, dan Padang (III-IV MMI)
- Padang Panjang, Bukittinggi, Solok, Solok Selatan, dan Batusangkar (II-III MMI).
Kesiapsiagaan
Tingginya aktivitas gempa ini mengingatkan masyarakat dan pemerintah untuk terus meningkatkan mitigasi bencana.
Dengan memahami pola aktivitas gempa dan memperkuat sistem peringatan dini, risiko korban jiwa dan kerugian material dapat diminimalkan.
Sumatera Barat sebagai wilayah dengan aktivitas tektonik aktif memerlukan perhatian khusus, terutama dalam membangun infrastruktur yang tahan gempa dan memberikan edukasi kepada masyarakat.(*)
Editor : Heri Sugiarto