Wakil Ketua DPRD Limapuluh Kota, Alia Efendi Datuak Bijayo Nan Mudo mengatakan bahwa kurangnya inovasi dan sinergi antarorganisasi perangkat daerah (OPD) menjadi penyebab utama stagnasi ini.
"Pembangunan Kabupaten Limapuluh Kota sebenarnya berjalan, tetapi hasilnya belum signifikan. Sebagai contoh, pembangunan Ibu Kota Kabupaten (IKK) di Sarilamak sudah dimulai dengan beberapa fasilitas seperti kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Ruang Terbuka Hijau (RTH). Namun, pembenahan jalur utama IKK belum menunjukkan kemajuan berarti," ujar Alia Efendi.
Selain itu, sejumlah kendala struktural menjadi hambatan serius. Alia Efendi mengungkapkan, APBD Kabupaten Limapuluh Kota masih terbatas, sementara belanja pegawai mendominasi anggaran. Pendapatan Asli Daerah (PAD) pun minim, meskipun potensi daerah sebenarnya cukup besar.
"Kita terus mendorong pemerintah daerah untuk menggali potensi PAD secara maksimal dan memastikan tidak ada kebocoran. Sayangnya, hasilnya belum terlihat optimal. Jika anggaran terbatas, perjalanan dinas juga perlu dirasionalkan agar lebih efisien," tegas politisi Partai Nasdem itu.
Alia juga menyoroti perlunya evaluasi mendalam terhadap kinerja OPD, termasuk seleksi pejabat yang lebih ketat berdasarkan kemampuan teknis, bukan sekadar pendekatan politis.
"Kolaborasi antar-OPD sangat penting. Jika masing-masing bekerja sendiri-sendiri, hasilnya tidak akan maksimal," tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Kabupaten Limapuluh Kota, Herman Azmar, menyatakan bahwa pemerintah daerah terus berupaya maksimal dalam pembangunan sesuai aturan yang berlaku.
Namun, ia belum memberikan rincian mengenai progres pembangunan IKK Sarilamak atau langkah-langkah efisiensi anggaran untuk tahun 2025.
"Pemda Limapuluh Kota tetap berpedoman pada aturan dan berusaha memberikan yang terbaik. Untuk detail progres pembangunan, kami masih memerlukan data dari masing-masing OPD," ujar Herman Azmar.(*)
Editor : Heri Sugiarto