Warga Banuhampu, Kabupaten Agam ini menuju kaki Gunung Talang dengan menumpang kendaraan umum secara estafet. Oleh kendaraan yang ditumpangi itu, ia diturunkan di depan Pos Seroja.
”Kata supirnya, di sini (Pos Seroja) tempat pendakian Gunung Talang. Katanya di sini ramai, tapi kok plangnya sudah dibuka. Kemudian saya penasaran,” sebut lelaki 22 tahun ini kepada Padang Eskpres kemarin.
Ia pun turun dari kendaraan yang ditumpanginya dan berjalan masuk ke dalam pos pendakian. Namun sesampai di pos tersebut, tak ada seorang pun. Tapi tetap saja penasaran, lalu memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan mengikuti jalan ke lahan pertanian warga.
Dalam perjalanan ia bertemu beberapa warga setempat. ”Saya juga bertanya kepada warga. Katanya memang lewat sini (pendakian Gunung Talang). Saya pun terus melakukan perjalanan,” ungkapnya.
Saat perjalanan, ia mendapati jalur yang dipenuhi hutan lebat. Meski demikian, Ia mencoba tetap tenang dan tidak panik. Malam hari, ia masih berada di kawasan hutan yang lebat. Ia pun bertahan di sana untuk istirahat sejenak.
Kamis (2/1) pagi, ia melanjutkan perjalanan. Tapi tidak mengetahui kemana jalur yang tepat. Sebab itu memutuskan untuk turun ke bawah. Tapi nahasnya, dia kebingungan karena tidak ada petunjuk untuk turun. Sampai pada malam hari, ia pun membuat tenda dan beristirahat di lokasi itu.
”Dua malam saya di tengah hutan, hari pertama saya tidak mendirikan tenda, hari kedua baru pakai tenda,” ujarnya.
Sadar telah tersesat, Khairul Hafizh menghubungi teman dan kerabatnya. Jumat (3/1) pagi, ia pun diberitahu temannya bahwa pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah melakukan pencarian.
”Kemudian, siangnya saya dihubungi petugas, memberikan instruksi untuk tidak bergerak dari lokasi terakhir,” cerita dia.
Akhirnya, Hafizh ditemukan tim penyelamat dalam keadaan sehat. Selama tersesat, ia berusaha untuk tetap tenang. Untungnya, dia juga membawa perbekalan yang cukup.
”Dan untungnya, di beberapa titik, sinyal (jaringan telekomunikasi) masih ada, saya juga membawa power bank, sehingga handphone bisa tetap nyala,” cetusnya.
Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok Irwan Effendi mengatakan, saat ditemukan, Khairul Hafizh dalam keadaan sehat dan masih fit.
Irwan menjelaskan, awalnya pihaknya mendapatkan laporan pada Jumat (3/1) pagi dari kerabat Khairul Hafizh. Kemudian, menugaskan tim dan berkoordinasi dengan Basarna Padang untuk melakukan pencarian.
Saat mengecek data pendaki di 2 pos pendakian resmi, tidak ditemukan data survivor atau pendaki tidak teregistrasi di pos pendakian.
”Saat kami mengecek data di pos pendakian, kok tidak ada data pendaki atas nama Khairul Hafizh, kemungkinan ia berangkat dari jalur tidak resmi,” ungkapnya.
Ia pun menugaskan salah satu anggota tim untuk menghubungi nomor telepon pendaki. Ternyata yang tersesat tersebut bisa dihubungi lewat WhatsApp. ”Survivor bisa dihubungi, dan kami mengakses titik koordinatnya, kami meminta survivor bertahan di titik tersebut dengan mendirikan bivac dan menyalakan tanda asap,” jelasnya.
Butuh waktu 3,5 jam untuk pencarian itu. Saat ditemukan, survivor tengah berada di bivac buatan. Di lokasi, survivor menghidupkan api untuk membuat tanda asap agar mudah dikenali oleh tim pencari.
”Evakuasi telah selesai, dan saat ini (kemarin, red) korban sudah menuju jalan pulang ke Kabupaten Agam,” tukasnya.
Mengenai Jalur Seroja
Irwan menjelaskan bahwa jalur pendakian Gunung Talang via jalur Seroja yang dilalui Hafizh merupakan jalur yang tidak resmi. Sementara, untuk pendakian Gunung Talang ada 2 posko resmi. Yakni pos pendakian Airbatumbuk yang dikelola Pokdarwis Airbatumbuk, dan pos Bukik Bulek di Nagari Bukit Sileh, Kecamatan Lembang Jaya.
Ia menyebut, untuk jalur seroja memang sebelumnya dibuka sebagai jalur resmi. Namun karena kurang populer dan cukup ekstrem, maka jalur tersebut ditutup dua tahun lalu. Bahkan, pihaknya juga sudah menyosialisasikan kepada masyarakat setempat untuk tidak mengarahkan pendaki ke jalur seroja.
”Yang jelas saat ini untuk mendaki Gunung Talang hanya ada dua posko. Nah, jalur seroja ini sempat dibuka beberapa saat, tidak lama, dan itu sangat tidak direkomendasikan karena cukup ekstrem karena melintasi sisi hutan yang sangat lebat, maka diputuskan untuk menutup jalur itu,” jelasnya. (frk)
Editor : Hendra Efison