Penetapan ini merupakan keputusan resmi yang diambil oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang telah menjadi pedoman organisasi Islam tersebut selama bertahun-tahun.
Berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal, penentuan awal bulan Hijriah memiliki tiga kriteria yang harus terpenuhi. Pertama, telah terjadi ijtimak (konjungsi) sebelum matahari terbenam.
Kedua, bulan terbenam setelah matahari terbenam. Ketiga, posisi piringan atas bulan berada di atas ufuk saat matahari terbenam. Jika salah satu dari ketiga kriteria tersebut tidak terpenuhi, maka bulan berjalan akan digenapkan menjadi 30 hari.
"Dalam penentuan 1 Syawal 1446 H, data astronomis menunjukkan bahwa ijtimak pada akhir Ramadan terjadi pada Sabtu Kliwon, 29 Maret 2025 pukul 17:59:51 WIB," demikian dijelaskan dalam keterangan resmi Muhammadiyah.
Meskipun ijtimak telah terjadi, namun pada saat matahari terbenam di Yogyakarta yang berada pada koordinat 07° 48′ LS dan 110° 21′ BT, ketinggian bulan masih berada pada posisi -01° 59′ 04². Angka negatif ini menunjukkan bahwa hilal masih berada di bawah ufuk dan belum memenuhi kriteria wujudul hilal.
Tidak hanya di Yogyakarta, pengamatan di seluruh wilayah Indonesia juga menunjukkan bahwa posisi bulan masih berada di bawah garis ufuk pada saat matahari terbenam. Kondisi ini menyebabkan kriteria wujudul hilal tidak terpenuhi di seluruh wilayah Indonesia.
"Karena kriteria wujudul hilal tidak terpenuhi, maka bulan Ramadan 1446 H disempurnakan menjadi 30 hari. Dengan demikian, 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin Pahing, 31 Maret 2025," lanjut keterangan tersebut.
Penetapan 1 Syawal 1446 H ini memiliki makna historis bagi Muhammadiyah karena merupakan penanda berakhirnya penggunaan metode hisab hakiki wujudul hilal dalam penentuan awal bulan Hijriah.
Setelah lebih dari satu abad menggunakan metode tersebut, Muhammadiyah akan beralih ke sistem baru yang disebut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) mulai tahun 1447 Hijriah.
Dalam sistem KHGT, seluruh permukaan bumi dianggap sebagai satu kesatuan matlak global, sehingga seluruh dunia akan menetapkan awal bulan Hijriah pada hari yang sama.
Perubahan signifikan ini diharapkan dapat membawa kesatuan umat Islam dalam aspek waktu dan ibadah, menjawab tantangan modernitas, serta memperkuat integrasi umat di tingkat global. (*)
Editor : Hendra Efison