Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat tinggi kolom letusan mencapai sekitar 500 meter di atas puncak, atau sekitar 3.391 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu teramati keluar dari kawah Gunung Marapi dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tebal, bergerak ke arah utara.
Aktivitas ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap siaga terhadap potensi bahaya yang bisa ditimbulkan dari erupsi gunung api aktif ini.
Sebagai respons cepat atas erupsi, PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting. Yang utama adalah larangan bagi masyarakat, pendaki, dan wisatawan untuk beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi, yaitu Kawah Verbeek.
Hal ini dilakukan demi keselamatan warga dari potensi lontaran material vulkanik.
PVMBG juga mengingatkan warga di sekitar lembah, bantaran, dan aliran sungai yang berhulu di Gunung Marapi agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar dingin, terutama di musim hujan.
Selain itu, penggunaan masker atau penutup mulut dan hidung sangat dianjurkan jika terjadi hujan abu vulkanik, guna menghindari risiko gangguan pernapasan atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
PVMBG menekankan pentingnya menjaga ketenangan dan tidak terprovokasi oleh informasi palsu. Masyarakat diminta hanya mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah dan PVMBG, serta tidak menyebarkan hoaks yang dapat memperkeruh situasi.
Guna memperkuat mitigasi dan penyampaian informasi yang akurat, PVMBG mengimbau Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Tanahdatar, dan Kabupaten Agam, untuk terus berkoordinasi dengan PVMBG pusat di Bandung maupun dengan Pos Pengamatan Gunung Marapi di Jalan Prof Hazairin No 168 Bukittinggi.
Hingga saat ini, aktivitas Gunung Marapi terus dipantau secara intensif untuk memastikan keselamatan masyarakat di sekitarnya.(*)
Editor : Hendra Efison