Bahan alami yang dulu menjadi pilihan utama untuk atap rumah maupun kandang ayam, kini mulai ditinggalkan dan digantikan material modern seperti asbes.
Inur (47), anak dari pemilik usaha atap rambio, menyebut usaha keluarganya telah berdiri sejak 1983.
Sejak awal, proses pengambilan daun rambio dilakukan dengan sistem “baborong” atau pembelian tahunan langsung dari pemilik kebun.
“Dulu saya dengan amak pergi ke parak-parak untuk mengambil daun rambio. Sekarang amak sudah tidak sanggup lagi, jadi kami hanya bayar upah ke orang untuk mengambilkannya,” ujar Inur, Selasa (23/9/2025).
Setiap ikat daun rambio kini dikenakan ongkos angkut Rp20 ribu. Namun, mencari pekerja untuk mengambil daun menjadi kendala tersendiri.
Saat ini, Inur hanya memiliki satu orang pekerja, sementara banyak warga yang beralih ke pekerjaan lain di sektor bangunan.
“Kalau tukang ambil itu kadang libur, jadi tidak bisa diandalkan setiap hari. Kadang baru bisa diminta ambil pas mereka ada waktu senggang,” jelasnya.
Selain persoalan tenaga kerja, jumlah peminat atap rambio terus menurun sejak pandemi Covid-19. Konsumen lebih memilih asbes karena lebih tahan lama, sementara atap rambio harus diganti setiap tahun.
“Dulu orang beli bisa sampai 1.000 sampai 2.000 lembar, sekarang paling hanya 100 sampai 200. Itu pun hanya untuk mengganti bagian yang bocor,” ungkapnya.
Meski permintaan menurun, proses produksi tetap berjalan. Daun rambio yang sudah dikeringkan dijahit menjadi satu lembar atap, kemudian dijual dengan harga Rp4.000 per lembar.
Saat ini, mayoritas pembeli berasal dari kalangan peternak ayam yang menggunakan atap rambio untuk kandang, meski jumlahnya kian berkurang. Permintaan justru lebih banyak datang dari sektor wisata.
“Sekarang yang banyak beli itu untuk kebutuhan wisata. Misalnya di Pulau Pisang, atap rambio dipakai untuk pondok-pondok pantai. Kalau untuk rumah atau kandang ayam, sudah jarang sekali,” ujarnya.
Inur menambahkan, penjualan semakin sepi pada masa tahun ajaran baru. Banyak masyarakat lebih memprioritaskan biaya sekolah anak, sehingga pembelian atap rambio berkurang.
Meski terdesak perubahan zaman, Inur tetap berusaha mempertahankan usaha turun-temurun tersebut. “Harapan saya usaha ini bisa lebih lancar dan maju, seperti dulu lagi, laris manis,” tuturnya. (imam syaputra/mg8)
Editor : Hendra Efison